Jumat, 06 April 2018

KALAU BATANG DIPANGKAS AKAN MUNCUL TUNAS BARU NAMUN KETIKA AKARNYA YANG DIPANGKAS, TAMATLAH RIWAYATNYA





RAMADHAN OH RAMADHAN..........KINI ENGKAU 

AKAN DATANG

 LAGI............SEMOGA KAMI MENDAPAT REDHA ALLAH

 DALAM MENYAMBUTMU. . . . . . .



SHALAT ADALAH TIANG AGAMA (HADIST).YANG

 MENJADI PERSOALAN, KITA LUPA BAHWA TIANG ITU

 MEMBUTUHKAN FLATFORM TEMPAT TANCAPANNYA

 (BACA AQIDAH)

hsndwsp
di
Ujung Dunia


Perkenankanlah saya menyambung tulisan anda, bung Win. Anggap saja demikian, bukan tanggapan. Setiap kali saya lihat tulisan anda, sepertinya tak terasa terbaca habis. Kali ini anda lagi berbicara soal Ramadhan. Sepertinya tulisan anda itu bagus, namun perkenankanlah saya memaparkan lanjutannya tentang persoalan Ibadah yang menurut anda adalah satu-satunya ibadah yang utama.

Saya yakin anda tau bahwa Islam itu adalah suatu "system" yang Kaffah, dimana platformnya adalah Aqidah. Aqidah yang kumaksudkan dalam kontek ini bukan sekedar formula yang sering diulang-ulang oleh orang yang ingin memperoleh paha la. Aqidah yang saya maksudkan adalah pemahaman yang de mikian mendalam yang terkandung dalam Kalimah "Laa ilah illa Allaah, Muhammadur Rasuulullah". Apabila kita analisa makna yang terkandung dalam syahadah pertama, termaktub didalamnya bahwa kita sekali-kali, pantang bersa tupadu dalam system taghut despotic, kecuali terpaksa berta qiah. Jadi pengertian yang terkandung didalamnya termasuk sekali-kali tidak akan tundukpatuh kecuali kepadaNya. Dengan pe ngertian seperti itu adalah bohong seseorang yg mengucap kan walau berjuta kali kalimah syahadah tersebut sementara orang tersebut sepakterjangnya sehari-hari dalam kehidupan nya bersatupatu dalam system Taghut yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah (baca . . . . . . .waman lamyahkum bima anzalallah, faulaika humul kafirun . . . . . . . . .
(QS Al Maidah 44, 45 dan 47)

Apabila seseorang meyakini seperti apa yang saya ungkapkan diatas, orang tersebut memahami kalimah syahadah tersebut secara ideology, bukan secara kebudayaan. Disinilah muncul istilak Islam Ideology dan Islam kebudayaan (culture). Hal ini berhubungan erat dengan fungsi para Rasul dan Imam yang diutus sebagai Ideolog, manusia-manusia berwajah "merah", bukan manusia berwajah "pucat" (baca para ilmuwan dan para Bal’am), Pinjam istilah Ali Syariati, Rausyanfikr dari Repu blik Islam Iran

Apabila persoalan Aqidah ini sudah mantap barulah berguna Ibadah lainnya, termasuk Shalat dan Shaum di bulan Rama dhan. Dengan kata lain Ibadah apapun tidak berguna disisi Allah kalau Aqidahnya tidak benar. Orang yang mantap Aqi dahnya tidak takut kepada siapapun kecuali Allah. Lihatlah ketika Daksur mengancam untuk membunuh Nabi Muham mad: "Sekarang aku akan membunuhmu, siapa yang akan membelamu, Muhammad? "Tidak siapapun kecuali Allah", Jawab Rasul. Pengaruh jawaban Rasul itu, Daksur gemetaran dan pedangnyapun jatuh dari tangannya. Lihatlah Imam Ali ketika berbaring ditempat tidur Rasulullah, untuk menyela matkan Rasul. Ketika ada orang tanya pada Imam Ali siapa yang lebih utama diantara anda dan Nabi Musa, Imam menjawab: ". . . . . . .Nabi Musa takut kepada Firaun setelah membunuh orang Kubti tapi aku tidak takut ketika tidur di tempat Rasulullah kendatipun orang Quraish hampir saja membunuhku". Lihatlah Imam Hasan dan Imam Hussein yang mampu menyirami "pohon Islam" dengan darah dan airmata keluarganya yang tinggal.  Lihatlah Mukhtar Tsaqafi sa’at membunuh Harmalah, sa’at membunuh "Monster" yang ber nama Yahya dan sa’at beliau syahid bersama Saib, Abdurrah man dan 2-tiga pengikutnya yang setia berhadapan dengan pasukan klan Zuber yang puluhan ribu banyaknya. Lihatlah bangsa Parsi/Iran yang mampu melawan "Dunia" kecuali hanya bangsa Suriah yang memihak padanya, sa’at Saddam Irak memaksakan perang kepada mereka yang baru saja berevolusi dan mendirikan system Islam, Republik Islam Iran yang belum ada duanya di zaman kita. Likhatlah Hizbullah Libanon yang belum per nah Zionis terkalahkan di Timur Tengah, tetapi Hizbullahlah yang mampu mengalah kan dalam perang 33 hari.

Urutannya Islam itu terdiri dari Aqidah, Muamalah/Ibadah dan terakhir sekali adalah Akhlaq. Untuk memudahkan umpamakan saja sebatang pohon dimana Akar sebagai Aqidah, Batang dan dahan sebagai Ibadah/Muamalah dan buahnya sebagai Akhlaq. Kalau batang kita tebang akan muncul tunas lainnya, konon pula buah yang kita petik. Tetapi kalau anda pangkas akarnya tamatlah riwayatnya. Dengan kata lain saya hendak katakan bahwa tidak ada artinya Ibadah/Muamalah dan Akhlaq kalau Aqidahnya tidak benar (baca sekedar diucapkan saja walau berjuta kali)

Rasulullah mengatakan bahwa Shalat itu tiang agama. Ucapan Rasul itu pasti benar. “Dan, tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (QS. An-Najm: 3-5)

Yang menjadi persoalan adalah bahwa ketika kita berbicara Tiang dari suatu bangunan sebagai permisalan Islam, kita lupa bahwa masih ada faktor yang lebih utama dari tiang tersebut dimana tiang butuh tempat tancapannya yakni Platformnya (baca Aqidah). Dalam hal ini Shalat memang Ibadah Ritual yang terpenting setelah Ibadah membela kaum dhuafa dalam suatu perjuangan kemerdekaan. (baca Ibadah Sosial) Tidak ada artinya samasekali disisi Allah bagi orang yang berkhu syuksepi dengan shalat wajib plus sunnahnya sementara rinti han kaum dhuafa menjadi bulan-bulanan kaum mutaqabbirun tidak ada yang ambil peduli. Allah berfirman: "Fawailul lil mu shallin" (Celakalah orang -orang yang Shalat). Kenapa? Mereka itu sesungguhnya adalah pendusta agama. Shalat orang seperti itu hanya sekedar memperlihatkan pada orang ramai.

Bagaimana dengan Shaumnya? Kendatipun Shaum itu punya sisi khasnya namun masih tidak punya makna disisi Allah andaikata orang yang berpuasa tersebut belum benar Aqidahnya sebagaimana luluhlantaknya batang dari sebuah pohon akibat sir nanya Akar. Rasulullah berkata: "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga". Tepat sekali seperti dikatakan bung Winwannur bahwa penampilan yang terkesan alim yang diperlihatkan teman lamanya tidak membuat kita heran, kecuali, ya biasa saja. Mereka hendak mengejar Akhirat secara keliru 180 derajat. Islam adalah agama dua Dimensi, hablum minallah wa hablum minannas.

Allah,Tuhannya kaum dhuafa menempatkan Hablum minannas diatas hablum minallah (baca Sosial atas ritual atau horizontal atas fertikal). Rasul Allah berkata: "Tidak per nah beriman kepadaku orang yang tidur kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, dan jika penduduk suatu kampung tidur nyenyak sedangkan ada salah seorang saja dari mereka yang kelaparan, maka Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kia mat".

Tugas utama para Rasul adalah membebaskan kaum dhuafa dari belenggun yang menimpa kuduk-kuduk mereka (Al A'raf, 157). Orang yang benar Imannya adalah orang yang mengikuti bagaimana para Rasul berkiprah dalam hidupnya. Kecuali tidak ada pemimpin yang memimpin perjuangan, kita terpaksa bergerak dibawah tanah dulu (baca bersabar tapi aktif) sebagaimana Rasulullah berjuang sebelum memiliki power nya.

Sebelum hsndwsp menutup tulisan ini tidak lupa menyampaikan Hikmahnya berpuasa. Pabila perut mulai keroncongan dan juga ditimpa teriknya Matahari, adakah kita teringat secara mendalam bagaimana pedihnya orang yang takpunya? Lebib-lebih lagi di bulan Ramadhan ini dimana mereka membuka puasanya dengan telur dan saur kang kung? Apakah kita termasuk dalam golongan orang orang yang berbuka puasa kesana-kemari dengan jamuan mewah sebagaimana yang dilakukan kaum mutaqabbirun di hotel-hotel yang tenggelam dalam statusquonya? Bagaimanakah kondisi masyarakat Acheh - Sumatra di kampung-kampung pedalamannya sekarang ini?

Nah setelah Ramadhan meninggalkan kita, bagaimana sepakterjang kita? Masihkah berpenampilan kaum mutaqabbirun itu? Inilah yang patut kita renungkan ketika kita berbicara Ramadhan secara pribadi, sementara secara komunitas, kita diperintahkan berjuang membela kaum mustadhafin, melepaskan belenggu yang menimpakan kuduk kuduk mereka (QS,7:157 & QS, 90:12-18). Dari renungan seperti inilah dapat ditemukan indikasinya diterima atau tidaknya puasa kita.

Billahi fi sabililhaq
       hsndwsp
          di 
  Ujung Dunia


From: winwannur
To: acehkita@yahoogroup s.com
Sent: Wednesday, August 19, 2009 4:05:51 AM
Subject: [acehkita] Selamat Datang Ramadhan, Bulan yang Suci dan Istimewa






Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu kunantikan dengan antusias kedatangannya. Bulan ini menjadi istimewa bagiku karena di bulan ini ada sebuah ibadah istimewa yang bernama Syiam atau PUASA.

Kaum Deist, atheis dan para penganut kepercayaan yang berbeda denganku mungkin merasa lucu melihat perilakuku ini. karena secara logika ibadah umat Islam ini yang menuntut umat yang meyakininya ini menahan lapar dan haus seharian ini adalah perilaku konyol dan sangat tidak masuk akal. Tapi bagiku yang terlahir dan dibesarkan dalam tradisi Islam, bulan ini memang selalu istimewa.

Ibadah ini menjadi istimewa bagiku bukan karena belakangan beberapa ahli beragama Islam yang membuat berbagai penelitian tentang ibadah ini yang hasilnya kemudian dipublikasasikan, yang katanya mereka berhasil membuktikan bahwa berpuasa baik untuk kesehatan.

Tapi ibadah ini menjadi istimewa bagiku karena karakter ibadah ini yang sepenuhnya memberikan hak untuk menilai benar tidaknya ibadah ini dijalankan kepada orang yang menjalankan ibadah ini sendiri, bukan orang lain. Yang tahu apakah ibadah itu benar dijalankan atau tidak hanya orang yang menjalankannya, bukan orang lain.

Kebaikan yang diurusi oleh orang berpuasa juga kebaikan untuk dirinya sendiri, bukan kebaikan untuk orang lain sehingga orang lain tidak perlu mengagumi.
Ini yang membuat ibadah ini berbeda dengan ibadah lainnya baik yang wajib seperti Shalat, Zakat, Haji maupun ibadah sunah semacam bersedekah shalat sunah dan juga membaca serta mengkaji Al Qur'an.

Berbeda dengan puasa, ibadah lain yang biasanya melibatkan orang lain, dalam pelaksanaannya membuat orang yang melakukan ibadah punya peluang untuk mendapat'tepuk tangan' dan 'kekaguman' atau sekedar pujian dari manusia lain. 'Tepuk tangan' dan 'Kekaguman' atau pujian dari manusia lain adalah tiga hal yang cenderung membuat orang yang menjadi sasaran tepuk tangan dan kekaguman itu sering tanpa sadar terjebak menjadi sombong, baik sombong yang bersifat aktif seperti sikap angkuh dan merasa paling hebat maupun sombong yang bersifat pasif yang membuat orang bersikap terlalu merendah untuk meninggikan mutu diri.

Aku menemui banyak sekali ahli ibadah, orang yang banyak melakukan shalat, banyak mengkaji dalil-dalil agama yang terjebak menjadi orang SOMBONG sehingga tidak lagi proporsional dalam menilai diri sendiri entah itu SOMBONG AKTIF yang menilai diri terlalu tinggi, atau menjadi SOMBONG PASIF yang membuat orang jenis ini terlalu amat sangat merendahkan diri sendiri. Ahli ibadah jenis ini biasanya adalah orang-orang yang merasa hidupnya begitu penuh dosa di masa lalu, karenanya hidupnya begitu tidak berharga dibandingkan nikmatnya akhirat yang abadi selamanya. Dengan cara pandang terhadap diri seperti itu, ahli ibadah tipe ini kadang tidak merasa ragu sedikitpun untuk menukar nyawanya demi menebus semua dosa masa lalu, untuk memastikan satu tempat di Sorga yang tak terpermanai indah dan nikmatnya, demi memastikan kalau saat di akhirat nanti akan ada 70 (atau 77) bidadari menyambutnya di gerbang taman firdaus.

Untuk ahli ibadah jenis kedua ini, aku teringat seorang temanku saat kuliah di ekstensi dulu. Dia tamatan Politeknik Lhokseumawe yang melanjutkan kuliah di program ekstensi untuk mendapatkan gelar sarjana.

Sebagaimana umumnya anak-anak Politeknik yang sudah selesai kuliahnya, temanku ini sering mendapat pekerjaan di berbagai proyek konstruksi, dari uang hasilnya bekerja itu teman saya ini bisa membeli berbagai perangkat hiburan semacam Televisi dan DVD Player, perangkat mewah yang tidak bisa dimiliki oleh kami-kami yang belum bekerja.

Temanku ini anaknya agak bandel, sebagaimana umumnya anak muda seumuran kami yang agak bandel dan tinggal di Banda Aceh, dia suka mengisap ganja dan juga senang menonton film dewasa. Saya yang beberapa kali berkunjung ke tempat kosnya di Kampung Keramat sering memanfaatkan fasilitas miliknya itu pernah menemukan berbagai jenis film dewasa dalam tumpukan VCD dan DVD yang dia punya, dengan bintang-bintang mulai dari Jeena Jameson sampai Asia Carrera, saat itu belum ada Maria Ozawa.

Karena agak bandel dan punya banyak relasi dari berbagai kalangan, sesekali teman saya ini berperan sebagai agen penjualan motor curian. Aku sendiri bergaul dengan dia sejauh pergaulan itu tidak melewati batas-batas yang aku buat sendiri.

Saat demo reformasi meledak, sebagaimana umumnya mahasiswa zaman itu akupun ikut-ikutan di dalamnya. Situasi keamanan di Banda Aceh jadi tidak menentu, program ekstensi yang kuliah malam dihentikan sementara. Sejak itu aku jadi tidak pernah lagi bertemu dengannya.

Ketika situasi keamanan membaik aku tidak pernah lagi kembali ke kampus untuk kuliah karena aku sudah mulai sibuk dengan bisnis dan pekerjaanku yang menuntut aku untuk sering berpergian keluar dari Banda Aceh.

Aku bertemu lagi dengannya sekitar tiga tahun setelah reformasi, rupanya saat itu dia sudah pindah ke Lamprit, beberapa lorong di belakang tempat tinggalku. Saat itu menjelang shalat ashar, aku duduk mengobrol sambil minum kopi di Kantin Selekta di simpang jalan Cumi-cumi. Kulihat temanku ini lewat di depan jalan utama Lamprit. Kulihat dia memakai sarung yang menutupi bagian bawah badannya sampai di atas tumit, dia mengenakan penutup kepala untuk shalat dan dagunya sudah ditumbuhi jenggot. Mengingat sosoknya yang kukenal sebelumnya, aku merasa aneh melihatnya dengan kostum dan penampilan seperti itu.

Tapi meskipun penampilannya sudah sangat berbeda dengan yang kukenal sebelumnya, wajahnya tetap sangat kukenal. Saat melihatnya aku langsung memanggilnya dan dia menoleh dan wajahnya terlihat gembira ketika melihatku 'assalammu'alaikum' , katanya. Aku menjawab salamnya dengan perasaan aneh karena biasanya orang mengucapkan salam seperti itu padaku hanya anak-anak fosma atau orang-orang yang berbicara dalam pertemuan formal, sementara dengan teman-teman biasa termasuk dengan temanku ini, aku sama sekali tidak pernah bersikap formal seperti itu sebelumnya.

Selanjutnya karena aku sering nongkrong di Selekta dan diapun selalu shalat di Mesjid Lamprit, akupun makin sering bertemu dengannya. Kadang aku shalat maghrib di Mesjid Lamprit dan kami pulang bersama. Saat pulang bersama itu atau saat selesai shalat dan dia selesai melaksanakan shalat sunat muakkad, kami sering mengobrol. Saat itulah aku tahu kalau temanku ini sudah sangat berbeda dengan yang pernah kukenal sebelumnya.

Saat itu di keningnya sudah ada dua titik yang menghitam, wajahnya tampak selalu tersenyum dan dia selalu terlihat bahagia. Saat kuperhatikan ketika dia sedang shalat sunat langsung di atas lantai marmer Mesjid Lamprit, kulihat dia melakukannya dengan khusuk sekali.

Suatu saat ketika berbincang dengannya, dia mengatakan padaku betapa hidupnya saat ini begitu tenang. Dia mengatakan begitu menyesal dengan masa lalunya yang dia katakan sama sekali tidak berguna, dan hidupnyapun sama sekali tidak berharga dan kini masa lalu itu akan dia kubur dan akan dia tebus dengan penyerahan diri total pada yang kuasa. Supaya saat mati nanti, di akhirat dia bisa mendapatkan sorga yang tak terkatakan indah dan nikmatnya. Dia tak lupa pula menjelaskan padaku betapa singkat dan tidak berarti dan tidak berharganya hidup di dunia ini jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Ketika berbicara dengannya, aku seperti dipaksa untuk hanya menerima masukan satu arah darinya saja tanpa dia mau mendengarkan sama sekali pandangan berbeda yang aku sampaikan. Beberapa kali kulihat dia seperti merasa kasihan melihatku yang masih larut dalam urusan 'dunia' yang menurutnya sama sekali tidak ada nilainya.

Di waktu lain kulihat dia mengenakan kaos bergambar Osama Bin Laden yang ditulis dengan nama Usamah Bin Ladin " Win, ini pahlawan Islam", katanya padaku dengan sorot mata yang dingin sambil menunjukkan gambar pada T-shirt yang dia kenakan.

Sebenarnya aku ingin mendebat apa yang dia katakan tapi aku tahu dari pengalaman sebelumnya, itu hanya perbuatan sia-sia karena baginya apa yang dia ketahui sekarang adalah kebenaran satu-satunya dan tidak ada lagi kompromi dengan 'kebenaran' lainnya. Karena itulah meskipun dia beberapa kali mengajakku mengikuti pengajian yang dia ikuti, aku selalu menolaknya.

Banyak orang di lingkungan baru temanku ini yang memuji perubahan ke arah 'kebaikan' yang telah dia lakukan. Tapi aku sendiri tidak merasa nyaman dengan perubahannya itu. Karena bagiku, hidup sesingkat apapun itu, tetap adalah sesuatu yang sangat berharga. Bagiku waktu yang singkat waktu hidup itulah kesempatan kita untuk berbuat, menurunkan generasi yang lebih baik yang akan mengabadikan eksistensiku, baik generasi yang diturunkan secara genetik maupun generasi yang diturunkan secara 'pemikiran'. Meskipun di masa lalu banyak berbuat kesalahan, untuk memperbaikinya aku selalu ingin melakukannya di saat aku masih hidup pula.

Setelah aku benar-benar meninggalkan Banda Aceh secara permanen, aku tidak pernah lagi mendapat berita tentang temanku ini. Aku juga tidak mengetahui bagaimana kabarnya ketika tahun 2004 Tsunami meluluh lantakkan kota Banda Aceh tercinta.

Begitulah yang aku lihat ketika ibadah menjadi urusan orang luar untuk menilai baik buruknya, 'kebenaran'pun menjadi urusan penilaian orang luar pula. Ibadah yang seharusnya berdimensi spiritual, ibadah yang seharusnya merupakan hubungan antara makhluk dengan khaliknya dimodifikasi menjadi sebuah pemaksaan nilai 'kebenaran' dari manusia satu terhadap manusia lainnya.

Karakter ini yang tidak kulihat eksis dalam ibadah puasa, karena itulah bagiku Ramadhan selalu istimewa dan aku selalu antusias menantikan kedatangannya.


Wassalam

Win Wan Nur
www.winwannur. blog.com
www.winwannur. blogspot. com

Bersambung ke Bagian II




Kamis, 05 April 2018

MENGAPA TERJADINYA PERBEDAAN DALAM BERAGAMA?





AKAR PERMASALAHAN TERJADINYA PERBEDAAN 

DALAM BERAGAMA

ADANYA BERJUTA HADIST PALSU MADE IN PARA

 'BAL'M' ATAU ALIM PALSU

YANG MENUHANKAN MUAWIYAH

hsndwsp

di

Ujung Dunia



Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ketika kita buka Internet, tidak habis-habisnya kita saksikan perbedaan cara berfikir. Hal ini disebab kan kebanyakan manusia tidak tau kalau berjuta hadist dipalsukan. Barangkali yang kita tuduh tanpa pemikiran yang memadai itu, justeru itulah yang benar. Penyebabnya pertama adalah "mursyid" yang ditanam di semua pesantren non pengikut Ahlulbayt itu sesat. Itulah sebabnya ketika kita mampu memberikan argumen yang tepat kepada seseorang, mereka menanyakan pada gurunya sebagai kepu tusan yang mematikan.

Mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya adalah disebabkan mereka terlalu memfokuskan pemikirannya pada "Hadist", bukan pada "Qur-an". Akibatnya mereka bias saat mengambil keputusan. Hal ini dise babkan berjuta hadist palsu, makanya kita tidak pernah sependapat saat beragumen dengan Hadist, kecuali sama-sama kita sadari bahwa adanya filter atau saringan agar tidak terjerumus dengan hadist palsu ketika hendak mencari kebena ran. Apakah itu? Apakah filter itu? "Hadist Tsaqalain" yang mur ni bukan hadist tsa qalain palsu yang telah merobah hadist Tsaqalai "Qur-an dan Itrah Nabi" kepada "Qur-an dan Hadis nabi"

Sebetulnya kebanyakan manusia tau bahwa Qur-anlah yang dapat mempersatukan persepsi kita kalau tidak kita pahami hadist Tsaqalain murni sebagai filternya. Kenapa? Kecuali Qur-an, semua kitab lainnya termasuk hadis Nabi dapat dipalsukan dan realitanya Muawiyah bin Abu Sofyanlah pemal sunya dengan memanfaatkan ulama palsu alau alim palsu yang bergentayangan sampai dizaman kita ini, kecuali tiba saatnya Allah turunkan kembali Imam zaman atau Imam terakhir bersama Nabi Isa bin Maryam atau al Masih...

Ironisnya banyak juga orang salah makan obat berargumen bahwa Syi'ah punya Qur-an berbeda de ngan Qur-an Sunni. Mereka tertutup mata hati untuk berpikir Allah lah yang menjamin keaslian Qur-an. Bukankah itu orang salah makan obat?

Para kaum takfiri di Timur Tengah, termasuk Suriah gencar membuat fitnah dan hal ini menjadi kon sumsi yang empuk bagi kaum yang berbeda pemikiran dengan pengikut Ahlulbayt Rasulullah. (Syiah Imamiah 12 atau Islam mazhab Ja'fari).

Berikut Ini bukti berjuta Hadist Palsu, andaikata anda tidak termasuk kaum yang fanatik buta pasti, mau membacanya:






PERBANDINGAN MAZHAB DALAM ISLAM

"Aku meminta izin untuk berjumpa dengan Imam Ja'far ash Shadiq", begitu Abu Hanifah memulai ki sahnya. "tetapi dia tidak memperkenalkanku. Kebetulan  datanglah rombongan orang Kofah meminta izin, dan akupun masuk bersama mereka. Setelah aku berada disisinya, aku berkata:

- Wahai putra Rasulullah, alangkah baiknya jika Anda menyuruh orang pergi ke Kofah dan melarang penduduknya mengecam sahabat Rasulullah saw. Aku lihat disana lebih dari 10.000 orang mengecam sahabat.

+ Mereka tidak akan menerima laranganku.
- Siapa yang berani menolak Anda, padahal Anda putra Rasulullah?
+ Anda orang pertama yang tidak menerima perintahku. Anda masuk tanpa seizinku. Duduk tanpa pe rintahku. Berbicara tidak sesuai dengan pendapatku. Telah sampai padaku bahwa anda menggunakan qiyas.

- Benar.
+ Celaka anda, hai Nu'man. Orang yang pertama menggunakan qiyas ialah Iblis, ketika Allah me nyuruhnya sujud kepada Adam. Lalu dia menolak dan berkata: "Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan ia dari tanah". Hai Nu'man mana yang lebih besar (dosanya), membunuh atau ber zina?

- Membunuh
+ Tetapi mengapa Allah menetapkan dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang untuk zina. Anda gunakan qiyas disini?
- Tidak

+ Mana yang lebih besar najisnya, kencing atau air mani?
- Kencing
+ Mengapa, untuk kencing diperintahkan wudhuk, tetapi untuk mani diperintahkan mandi. Anda juga gunakan qiyas disini?

- Tidak
+ Mana lebih besar, Shalat atau Shaum?
- Shalat
+ Kenapa wanita haid harus mengkadha shaumnya tetapi tidak harus mengkadha shalatnya. Anda juga gunakan qiyas disini?

- Tidak
+ Mana yang lebih lemah, wanita atau pria
- Wanita
+ Mengapa Allah berikan warisan dua bagian bagi pria dan satu bagian bagi wanita. Apakah anda ju ga pakai qias disini?
- Tidak

Dialog kita cukupkan sampai disini saja. Menurut riwayat, Imam Abu Hanifah - mujtahid besar Ahlus Sunnah ini - kemudian berguru kepada Imam Jakfar ash Shadiq, imam ke enam dalam mazhab "Syiah Imamiah 12". Terkenal ucapan Abu Hanifah: "Laula sanatan, lahalaka Nu'man" (bila tidak ada dua tahun bersama Ja'far, akan celakalah Nu'man). Yang berguru kepada Imam Ja'far bukan saja Abu Hanifah, juga Malik bin Anas, Yahya bin Sa'id, Sufyaniun, Ibnu Juraih, Syu'bah dan Ayyub as Sajastani. Tentang gurunya Malik berkata: "Tidak ada yang dilihat mata, yang didengar telinga, lebih utama dari Imam Ja'far ash Shadiq dalam hal keutamaannya, ilmunya, ibadahnya dan wara'nya".

ISLAM AGAMA TAUHID
Kepada Malik berguru Imam Syafi'i, kepada Syafi'i berguru Imam Hanbali. Secara singkat, mazhab-mazhab besar ini semuanya bersumber kepada sumber yang sama. Namun kenapa terjadi perpecahan diantara pengikut mereka? Mengapa pengikut Syafi'i menentang pengikut Abu Hanifah? Mengapa pengikut Hanbali mengecam pengikut Syafi'i? Mengapa ahlus Sunnah mengkafirkan Syi'ah? Bukan kah itu bermakna pengikut dari mazhab empat mengkafirkan gurunya? Bagaimana mungkin itu boleh terjadi? Apanya yang salah? Renungkanlah saudaraku (Angku di Awe Geutah, Tampokdjok, Acheh - Sumatra)

Sumber:
1. Abdul Halim Jundi, Al Imam Ja'far ash Shadiq. Kiro: Majlisul 'ala (tanpa tahun)
2. Lihat komentar Ibnu Hajar tentang Ja'far dalam As Sawaiq al Muhriqah, Kairo: Maktabah al Qahirah, 1385

H. Aboebakar Atjeh lahir
di Kutaradja (Atjeh) pada 28
April 1909. Klik disini:
http://musadiqmarhaban.files.wordpress.com/2011/09/aceh_02006.pdf


Sorri, ini hanya simpanan klipping yang berguna suatu saat:

Pada mulanya, ya mereka bertiga sahabat nabi tetapi ketika Nabi menunjukkan penggantinya, keti ganya membuat rapat gelap dibelakang Ka'bah untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya pas ka kewafatan Rasulullah saww. Rasulullah pasti tau ini akan terjadi berdasarkan info dari Allah sendi ri. Ketika Imam Ali bertanya apa yang seharusnya dia lakukan ketika trio itu merebut kekuasaan, Nabi mengarahkan: "Apabila anda punya pengikut 40 orang lawanlah mereka tetapi jika tidak, jaga lah darah anda dan darah keluarga anda".

Suatu malam ketika mereka membuat konspirasi di Saqifah, Imam Ali bersama Fatimah az Zahara pergi kesemua rumah kaum Muhajirin dan Ansar, memberitahukan mereka tentang kepemimpinan nya sesuai pengumuman Rasulullah di Ghadirkhum. Semua mereka mengaku hak kepemimpinan Imam Ali terhadap Ummah. Imam Ali berpesan, besok pagi-pagi benar kalian harus datang ke tempat saya masing-masing membawa sebilah pedang, dengan rambut dalam keadaan tercukur.

Semua mereka berjanji namun besoknya Imam Ali tidak menemukan seorangpun kecuali hanya 4 orang sahabat, yaitu: Abu Dzar Ghifari, Salman al Farisi, Zubeir bin Awwam dan Al Mighdad. Juste ru itulah Imam tidak membuat perlawanan, sesuai arahan Nabi. Sejarah ini tidak pernah dipelajari oleh non Syi'ah Imamiyah 12 jaman sekarang, makanya mereka salah makan obat dalam beragama.







NOTE:
SEMOGA NAV MENGIZINKAN SAYA MENYIMPAN DISINI
AGAR DAPAR SAYA PELAJARI SELANJUTNYA


PENSIUN UMUR UNTUK ANDA LAHIR SEBELUM 1954
Di sini Anda akan menemukan informasi untuk mereka yang sudah mulai pensiun atau berencana untuk mengambil.

PENSIUN UMUR UNTUK ANDA LAHIR ANTARA 1954 DAN 1962
Di sini Anda akan menemukan ketika Anda mendekati informasi usia pensiun tentang apa yang penting untuk dipikirkan dan bagaimana cara melamar.

PENSIUN UMUR UNTUK ANDA LAHIR PADA 1963 ATAU KEMUDIAN
Pilihan yang Anda buat sepanjang hidup Anda akan memengaruhi pensiun masa depan Anda. Di sini Anda dapat membaca lebih lanjut tentang cara mendapatkan pensiun.

MEMINTA PENSIUN
Hubungi 55 55 33 34, setiap hari kerja mulai pukul 08:00 - 15:30.

PENSIUN ANDA
Layanan online Pensiun Anda memberi Anda gambaran yang baik tentang pensiun Anda sendiri. Di sini Anda dapat melihat, antara lain, penghasilan Anda, menghitung masa depan Anda ...

BAGAIMANA SISTEM PENSIUN NORWEGIA DIBANGUN?
Sistem pensiun terdiri dari tiga tingkatan: pensiun hari tua dari Skema Asuransi Nasional, pensiun dari majikan dan memiliki tabungan pensiun.

Layanan dan konten prioritas
BERMANFAAT UNTUK TAHU
Obituari dan perbaikan lanjutan
Cara mengajukan permohonan pensiun pensiun
Penarikan, peraturan dan penyesuaian usia pensiun pensiun
Orientasi ke formulir aplikasi untuk pensiun pensiun
Orientasi ke formulir aplikasi untuk tunjangan tambahan

BERITA
2019/07/17
Pensiun meningkat untuk pensiunan usia tunggal
2019/06/27
Penyesuaian usia yang ditetapkan untuk Anda yang lahir pada tahun 1958
2019/03/29
Sertifikat kehidupan untuk penerima pensiun dan tunjangan cacat
Lebih banyak berita

SHORTCUTS
Kartu senior
Usia pensiun dan luar negeri
Penduduk di Norwegia - mengajukan permohonan pensiun dari luar negeri
Tentang pensiun di Facebook dan blog
Kalkulator pensiun sederhana
Konten dari A hingga Z
A
B
C
D
E
F
G
H
di
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
Æ
Ø
untuk
NAV
Hubungi kami
tersedianya
Pernyataan Privasi - cookie
Berita seperti RSS

Masukkan kode
Mulai berbagi layar
Kementerian Tenaga Kerja dan Kesejahteraan 2019



Senin, 02 April 2018

HUJJATULLAH YANG BRILLIANT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH SAWW


 





KITA MENGETAHUI BAHWA BANYAK PARA PEMIKIR

 YANG BRILLIAN DAN MENGAGUMKAN BANYAK
ORANG DI ZAMAN KITA INI
AKAN TETAPI INI BELUMBERMANFAAT BUAT MANUSIA
 DENGAN KEBERADAAN MEREKA
KECUALI 
MEREKA  JUGA MENGENAL PERSIS PARA HUJJATULLAH YANG  DIUTUS ALLAH SWT 
PASKA KEWAFATAN RASULULLAH SAWW


TANPA MENGENAL HUJJATULLAH YANG DIUTUS

 DIKOLONG LANGIT PASKA KEWAFATAN RASULULLAH

 FILOSOF MANAPUN KELIRU JALAN PIKIRANNYA





Bismillaahirrahmaanirrahim
Para filosof non Syi'ah telah mampu menjawab pertanyaan sulit seorang Atheis dengan bagus. Kalau kita buka Internet, kita menyaksikan banyak ahlipikir atau filosof yang mampu menjawab berbagai pertanyaan penting dalam hidup ini baik dari pihak kaum muslimin maupun dari pihak non Moslem hingga kebanyakan pendengar atau pembaca terkesima dengan jawaban ilmiah para ahli tersebut. Dengan inteligennya yang tinggi kita patut mengakui bahwa mereka telah banyak mengalahkan para pemikir lainnya akan tetapi para ahli tersebut kewalahan ketika berhadapan dengan pemikir dari pengikut para Ahlulbayt Rasulullah saww. Hal ini disebabkan mereka tidak percaya keberadaan para Ahlulbayt yang berfungsi sebagai Hujjatullah dan Pendamping Qur-an paska kewafatan Rasulullah agar ummah Muhammad tidak sesat selama-lamanya. Hal ini dapat dilihat pada ayat persatuan (wa’tasimu bihablillahi jamiiaw, wala tafarraqu), dimana ayat ini berhubungan dengan Hadist Tsaqalain murni. Kenapa kita sebut Tsaqalain murni? Sebab Hadist tersebut telah dipal sukan hingga berakibat kaum muslimin tidak dapat bersatu paska kewafatan Rasulullah sampai zaman kita ini terus berpecah belah.

Imam Baqir mengatakan: "Siapapun yang tidak mengenal Imam yang diutus, terpuruk pada kesimpulan yang keliru tentang pemahaman agamanya". Dalam hal ini Imam al Baqir as berkata: " Setiap orang yang mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk ibadah yang ditekuninya dengan sungguh-sungguh, tetapi ia tidak menge tahui Imam yang diutus Allah, maka semua amal usahanya itu tidak diterima. Ia adalah orang yang sesat dan kebi ngungan. Allah menolak semua amalnya, perum pamaan orang seperti itu adalah ibarat seekor domba yang tersesat dan terpi sah dari kelompok dan pengembalanya. Keter pisahannya itu merusak hari-hari yang dilaluinya. Ketika malam tiba, ia bergabung dengan kelompoknya dalam kandang mereka, dan ketika sang pengembala menggiring mereka, domba tersebut mem bangkang dan memisahkan diri dari kelompoknya, sehingga ia kebingungan mencari pengembala dan kelompoknya. Ketika ia bertemu dengan seorang pengembala de ngan sekelompok dombanya, ia diperlakukan dengan baik, dan sigembala berte riak kepadanya, 'Ayo, bergabunglah engkau dengan pengembala dan kelompokmu. Engkau domba sesat yang kebingungan.' Domba itu lalu mencari-cari kelompok dan pengembalanya dengan kebingungan. Ia tidak punya gembala yang menggiringnya ke padang rumput atau mengajaknya pulang. Ia tetap dalam kebingungan seperti itu disaat ada seekor serigala yang menemuinya, lalu menerkamnya. (Ushul al Kafi, bab Ma'ri fat al Hujjah hadist no 1 dari Kitab al Hujjah)

Allah dan RasulNya dikenal kebanyakan orang muslim tetapi kebanyakan mereka tidak mengenal unsur ketiganya, siapakah sosok tersebut. Kebanyakan mereka mengira sosok terfsebut adalah siapa saja yang berkuasa terhadap mereka/pemerintah mereka. Inilah yang membuat mereka keliru 180 derajad dalam beragama walaupun mereka jenius se kalipun. Logikanya, kita mengenal Allah via Rasulullah hingga Allah menar-benar kita kena li. Persoalannya sama siapakah kita mengenal Rasulullah? Pastilah via Ulil Amri. Penge nalan disini bukan secara basa-basi/cuekin tetapi mengenal persis. Dari itu disebabkan kita mentaati Ulil Amri yang salah, berakibat salahlah dalam beragama hingga kita termasuk pihak yang mendapatkan tempelakan Allah hari kiamat sebagaimana tertera dalam surah Yasin ayat berikut ini:

"Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam agar supaya kamu tidak mengi kuti (langkah) syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu"(QS,36:60). Dan tundukpatuhilah kepadaKu (ikutilah Aku). Inilah jalan yang (selurus)-lurus(nya) (QS, 36:61). Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan seba hagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).(QS,36:62). Masuklah (kamu) ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu menging karinya (QS, 36:64). Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS, 36:65)

Dengan catatan ini semoga para ahli pikir manapun mau menelusuri dalam hidup nya, siapa sajakah Hujjatullah di planet Bumi ini hingga tanpa manusia agung itu Bumi ini akan binasa atau runtuh atau kiamat. Demikianlah penting Allah menjadikan HujjahNya di kolong langit ini.

Pertama sekali para filosof perlu mempertanyakan kenapa Allah tidak menggunakan kata "bidinillah" pada ayat "Wa’tasimu bihablillah", dimana kebanyakan pemikir menterjemahkan "bidinillah". Ini termasuk kata "simbolik" yang memiliki makna dan fungsinya yang begitu penting disisi manusia yang benar imannya. Hadist Tsaqalain murni berbunyi: "Kutinggalkan kepadamu dua perkara besar, apabila kalian berpegangteguh kepada keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, sampai menemuiku di Pancutan Kautsar, yaitu Qur-an dan "Ittrahku". Ittrah Rasulullahlah yang berfungsi sebagai Hujjatullah dan pendamping Qur-an. Hujjatullah yang pertama sebagai pendamping Qur-an adalah Rasulullah sendiri. Makanya Qur-an butuh Hadist sebagai penjelasannya.

Andaikata Allah tidak mengutus HujjahNya paska kewafatan RasulNya (sebagai perpan jangan keimamahannya) dapat dipahami bahwa paska kewafatan Rasulullah, dunia akan menjadi seperti paska Ghaibnya Nabi ‘Isa bin Maryam dimana kitab Injil dipalsukan dan ‘Isa sendiri dianggap sebagai Tuhan. Justeru itu Allah menjamin kemurnian Qur-an segagai Kitab terakhir bagi ummat manusia terakhir di planet Bumi ini. Lalu pertanyaannya, kenapa juga paska kewafatan Nabi Muhammad saw kaum muslimin terus pecah belah? Qur-an memang tidak dapat dipalsukan sesuai pernya taan Allah sendiri bahwa Dia sendiri yang menjamin keasliannya. Memang banyak pihak mencoba untuk memaslukan Qur-an tetapi selalu terbongkar niat jahat tersebut. Akan tetapi Qur-an terdiri dari ayat muhkamat dan Mutasyabihat, ayat ansih dan mansuh, ayat tersurat dan tersirat. Kalau ayat muhkamat memang tidak butuh pendamping, mudah dipahami, namun ketika kita berhadapan dengan ayat-ayat sulit, kita butuh pendampingnya agar tidak sesat selama-lamanya.

Banyak para pemikir yang brillian tetapi tetap saja keliru disebabkan mereka tidak mengenal pendamping Qur-an. Padahal mereka yakin bahwa untuk mengetahui ayat-ayat Sulit kita butuh Hadist Rasulullah (pendamping Qur-an). Kesilapan mereka adalah tidak sadar bahwa para manusia jahat memang tidak mampu memalsukan Qur-an tetapi mereka mampu me malsukan Hadist sebagai pendamping Qur-an. Itulah sebabnya pengikut Ahlulbayt (Syi’ah Imamiah 12) tidak akan pernah sesat sebab mereka mengenal pendamping Qur-an yang dimaksudkan dalam Hadist Tsa qalain murni yaitu Ittrahnya Rasulullah sendiri yang SK kesuciannya diturunkan Allah berbarengan dengan Hadist Kisa. Ittrah Nabi suci inilah yang dimaksudkan Allah dengan “Tali Allah/bihablillah” untuk kita bersatu. Itulah sebabnya ha nya pengikut Ahlulbayt yang memahami persoalan esensi persatuan yang dimaksudkan Allah swt.

Terakhir sekali saya hendak menjawab kekeliruan salah seorang pemikir bahwa katanya kata Syi’ah tidak disebutkan dalam Qur-an:

Para ahli pikir itu  mengatakan bahwa Syi’ah (baca pengikut Ahlulbayt) tidak disebut kan dalam Qur-an. Katanya Qur-an hanya menyebut Muslim, bukan Syi’i dan bukan Sunni. Kalau Ahli pikir itu mengatakan bahwa Qur-an tidak menyebut Syi’i, terindikasi mereka belum membaca Qur-an keseluruhannya. Kalaulah sudah mereka baca berarti tidak memahami Qur-an keseluruhannya. Sebetulnya banyak pemikir non Syi’i yang memahami Qur-an tetapi mereka tidak memahami ayat-ayat yang penting disebabkan mereka tidak mengenal Hujjatullah/pendamping Qur-an dimana melalui merekalah kita mampu memahami ayat-ayat Qur-an yang terpenting walaupun kita hanya orang biasa.

Petama silakan buka surah Al Bayyinah:
Mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asy'ariyah (Pengikut 12 Imam) adalah sebuah komunitas besar dari ummat Islam pada masa sekarang ini, dan jumlah mereka diperkirakan ¼ jumlah umat Islam. Latar belakang sejarahnya bermuara pada masa permulaan Islam, yaitu saat turunnya firman Allah swt. surat Al-Bayyinah ayat 7 :


إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُوْلَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi. (QS. Al Bayyinah [98]:7)

Selekas itu, Rasulullah saww. meletakkan tangannya di atas pundak Ali bin Abi Thalib a.s., sedang para sahabat hadir dan menyaksikannya, seraya bersabda: “Hai Ali!, Kamu dan para syi’ahmu adalah sebaik-baiknya penduduk Bumi”. [1] Dari sinilah, kelompok ini disebut dengan nama “syi’ah”, dan dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq a.s. karena mengikuti beliau dalam bidang fiqih.

Selanjutnya kata Syi'ah dalam Qur-an dapat anda telusuri di alinia-alinia berikut ini:  

"(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap ummah dengan Imamnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun" (QS. Al-Israa: 71)

Pada hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para Imamnya yang dipercayainya akan tergantung dari Imam-Imam yang dipercayainya itu apabila ia memang benar-benar mengikuti para Imam yang ia percayai itu. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis Imam yang diikuti dan diyakini oleh para pengikutnya. Ada Imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam Api Neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim dan tiran di masanya seperti Fir’aun, misalnya. Kita harus mampu mendeteksi Fir-un-fir'un modern/regim-regim despotik dan arogant.

"Dan Kami jadikan mereka para Imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)" (QS. Al-Qashash: 41—42)

Al-Qur’an sudah memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam Jahanam.

Di sisi lain Al-Qur’an juga memberikan informasi tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Lihatlah ayat berikut ini:

"Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (QS. As-Sajdah: 24)

(lihatlah kata-kata JADIKAN dan IMAM-IMAM yang menjelaskan secara tegas tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan Nabi walaupun tidak membawa kitab suci yang baru).

Dengan melihat ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah. Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di Bumi.

Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beberapa hambaNya yang haq adalah juga pengikut (Syi’ah) bagi para hambaNya yang lain. Seperti pernah dijelaskan Al-Qur’an bahwa Nabi Ibrahim itu adalah pengikut (Syi’ah) dari Nabi Nuh. "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)" (QS. Ash-Shaaffaat: 83)

(Lihatlah kata "Syi’ah" yang dipakai secara jelas sekali oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan kata itu huruf demi huruf dalam ayat tersebut di atas dan juga dalam ayat berikut ini)

Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an diceritakan tentang pengikut (?????) Nabi Musa melawan musuh-musuh dari Nabi Musa. Lihatlah ayat berikut dan lihatlah penggu naan kata SYI’AH untuk ayat tersebut:

"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapati nya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari SYI’AHNYA (pengikutnya Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari SYI’AHNYA (pengikutnya) meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan, sesung guhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya) (QS. Al-Qashash: 15)

Di dalam ayat Al-Qur’an di atas ada orang yang disebut sebagai pengikut Nabi Musa (atau SYI’AH MUSA) dan orang yang satunya lagi disebut sebagai musuh dari Nabi Musa. Orang-orang pada jaman bisa dibagi kedalam dua kelompok: kelompok SYI’AH MUSA atau kelom pok MUSUH MUSA.

Dengan kata lain bisa kita simpulkan bahwa Allah secara resmi menggunakan kata SYI’AH dalam Al-Qur’an untuk menunjukkan pengikut para Nabi dan sekaligus para Nabi itu sendiri (masih ingat Nabi Ibrahim yang disebut sebagai SYI’AH—pengikut—dari Nabi Nuh?). Allah menggunakan kata SYI’AH ini dengan segenap penghor matan kepada para hambaNya yang shaleh. Apakah dengan itu kita membuat Nabi Ibrahim itu sebagai seorang sektarian? Bagaimana dengan Nabi Nuh dan Nabi Musa?

Kata "Shiah" itu sendiri artinya "pengikut" atau "anggota dari sebuah kelompok". Sementara itu kata SYI’AH sendiri sebenarnya tidak mengandung sifat positif atau negatif. Kata itu akan bersifat negatif atau positif apabila kata itu disandingkan dengan nama seorang pemimpin tertentu.

Apabila seorang pengikut (Syi'ah) itu mengikuti para hamba Allah yang haq, maka tidak ada salahnya dengan kata Syi'ah itu apalagi mengingat Imam yang ia ikuti itu adalah Imam yang diberikan mandat langsung oleh Allah untuk membimbing ummat manusia. Sementara itu apabila seseorang itu telah menjadi seorang pengikut (Syi'ah) dari seorang tiran yang kejam; seorang pemimpin yang tidak berperike manusiaan; seorang pemimpin yang korup bukan kepalang, maka ia akan menemui takdir buruknya bersama dengan imam yang diikutinya.

Selanjutnya mari kita analisa Hadist Bahtera (Hadist Ittrah Nabi suci): "Ahlul baytku umpama bahtera Nuh, siapa yang naik selamat dan siapa yang tidak naik tenggelam". Kita dapat menarik kesimpulan bahwa siapapun yang mengaku beragama Islam tetapi tidak termasuk pengikut Ahlulbayt Rasulullah, mereka itu akan masuk Neraka kelak (nauzu billahi min zalik). Selanjutnya perlu kita nalisa system Thagut macam Hindunesia, Irak di jaman Saddam, Iran di jaman Shah Redha Palevi dan sebagainya, adakah termasuk bahtera yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah atau bahtera Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah. Kalau system yang sama dengan bahtera Ahlulbayt Rasulullah, "penumpang nya" mendapat Rahmat semuanya tanpa kecuali. Sebaliknya yang kita saksikan dalam system Hindunesia, sebahagian penumpangnya hidup mewah sementara mayoritas pe numpangnya hidup morat marit. Lalu selanjutnya kita pertanyakan orang-orang "alim" dalam bahtera Hindunesia dan semacamnya, adakah mereka menjadi pembela kaum mustadhafin dengan ilmu agama yang segudang mereka miliki? Bukankah mereka itu hanya dimulut saja mengaku tidak ada Tuhan selain Allah sementara dalam sepakter jangnya sehari-hari menuhankan Penguasa zalim yang menzalimi ekonomi kaum mustad 'afin akibat tidak menghukum para koruptor dengan hukum yang diturunkan Allah (baca QS, al Maidah 44, 45 dan 47)



HUJJATULLAH YANG BRILLIANT SEMUANYA SYAHID.

 JUSTERU ITULAH YANG TERAKHIR DI GHAIBKAN

SEPERTI

NABI 'ISA BIN MARYAM:



1. Imam Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin a s

2. Imam Hasan Al-Mujtaba a.s.

3. Imam Husain Sayyid Asy-Syuhada a.s. (keduanya adalah putra Imam Ali dan Sayidah Fatimah a.s. dan cucuanda Nabi suci saww.

4. Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad a.s.

5. Imam Muhammad bin Ali Al-Bagir a.s.

6. Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq a.s.

7. Imam Musa bin Ja’far Al-Khadzim a.s.

8. Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.

9. Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad-At-Taqi a.s.

10. Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi- An-Naqi) a.s.

11. Imam Hasan bin Ali Al-‘Askari a.s.

12. Imam Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Muntazhar a.s. yang dijanjikan dan dinantikan. (read less)

Open: All content is public.


Website:

http://www.al-hadj.com

http://www.khamenei.ir

http://www.leader.ir

http://www.wilayah.org

http://www.al-shia.org/html/id/index.htm

http://www.fatimah.org/index1.htm


Al­ Qur-an Tentang Keluarga Para Nabi

Dalam Al­Qur’an diceritakan tentang para Nabi yang berdoa kepada Allah SWT bagi keluarganya, dan memohon kepada­Nya untuk menuntun keturunan mereka. Allah SWT selalu mengabulkan doa para Nabi dengan memberikan berkah­Nya kepada keturunannya, agar anak cucu Nabi itu dapat melestarikan ajaran orang tua dan datuk kakek mereka, mencontohi kesalehan orang tua mereka, dan menjaga jalan yang lurus’ yang diajarkan Nabi itu, yaitu dzurriyah, al, ahl, dan qurba. Dzurriyah, misalnya, yang berarti keluarga, turunan atau keturunan langsung, terdapat dalam 32 ayat al­Qur’an. Misalnya, Allah SWT berfirman:

(Ingatlah) ketika Ibrahim mendapat ujian dari Tuhannya untuk memenuhi beberapa suruhan, lalu ia menunaikannya. Berfirman (Allah), ‘Akan kujadikan kau pemimpin (imam) bagi manusia’. (Ibrahim memohon) ‘Dari keturunanku (dzurriyati), juga jadikan pemimpin­pemimpin)’. Menjawab (Tuhan) dan berfirman. ‘Janji­Ku tidak berlaku bagi orang yang zalim. 569
Di bagian lain, Ibrahim as berdoa kepada Allah SWT:
‘Tuhan kami! Aku telah menetapkan sebagian keturunanku di lembah tanpa tanaman, dekat Rumah­Mu yang suci. Tuhan kami! Supaya mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki buah­buahan, supaya mereka berterima kasih’. 570
Doa ini dikabulkan Allah:

Mereka yang diberi nikmat oleh Allah, para Nabi keturunan Adam dan (keturunan) mereka, yang Kami bawa bersama Nuh (dalam bahtera), keturunan Ibrahim dan Isra’il, dan (keturunan mereka) yang Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Bila dibacakan kepada mereka ayat­ayat Allah Yang Maha Pemurah, mereka tunduk bersujud dan berurai air mata. 571
Dan semua ahli tafsir sependapat bahwa Nabi Muhammad saw adalah dari keturunan (dzurriyah) Ibrahim. Dalam ayat yang lain Nabi Muhammad disebut sebagai keluarga (al) Ibrahim:

Sungguh Allah telah memilih Adam dan Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran di atas segala bangsa. 572
Istilah al (keluarga) seperti pada ayat di atas terdapat pada 26 ayat Al­Qur’an yang berhubungan dengan keturunan para Nabi, serta berkah khusus yang dilimpahkan kepada mereka. Di bagian lain Allah SWT berfirman:

Ataukah mereka dengki kepada manusia, karena Allah memberi mereka sebagian dari karunia­ Nya? Sungguh, telah Kami beri keluarga Ibrahim Kitab dan Hikmah, dan Kami beri mereka kerajaan yang besar.

Istilah ahl (keluarga) mempunyai arti yang sama dengan al. Tetapi, bila dirangkaikan dengan bait (rumah) menjadi ahlu’l­bait, maka yang dimasukkan adalah keturunan langsung, seperti terdapat pada ayat Al­Qur’an yang berikut:
Allah hanya hendak menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, ahlu’l­bait (Rasul Allah), dan menyucikan kamu sebersih­bersihnya.

Jumhur atau kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan ahlu’lbait dalam ayat itu adalah putri Nabi Fathimah, sepupu dan menantu beliau ‘Ali bin Abi Thalib, serta kedua cucu yang sangat beliau cintai Hasan dan Husein. Hadis Kisa

Hadis Kisa yang menyangkut turunnya ayat ini, diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, ummu’l­muminin ‘A’isyah dan ummu’l­muminin Ummu Salamah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Umar bin Abi Salmah, Abu Said al­Khudri, Sa’d bin Abi Waqqash, Anas bin Malik dan lain­lain.

569 Al­Qur’an, al­Baqarah (II), 124. 570 Al­Qur’an, Ibrahim (XIV), 37. 571 Al­Qur’an, Mariam(XIX), 58 572 Al­Qur’an, Ali Imran (III), 33. 573 Al­Qur’an, an­Nisa’ (IV), 54. 574 Al­Qur’an, al­Ahzab (XXXIII),


Ummu Salamah berkata: “Ayat Allah hanya hendak menghilangkan (segala) kenistaan daripadamu, ahlu’l­bait (Rasul Allah), dan menyucikan kamu sebersih­bersihnya turun di rumahku. Dan di rumahku ada tujuh, Jibril dan Mikail as., ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ra dan saya berada di dekat pintu rumahku.”

“Aku bertanya: ‘Ya Rasul Allah apakah saya tidak termasuk ahlu’l­bait?” Rasul menjawab: ‘Sesunggulmya engkau dalam kebaikan, engkau adalah istri Rasul’. Di bagian lain Rasul menutup ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain (Kisa’), lalu turunlah ayat di atas sehingga dinamakan Hadis Kisa’ dan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dinamakan Ahlul Kisa’.

Istilah lain, yakni qurba (berasal dari kata qaruba yang berarti dekat) dimaksudkan juga keturunan langsung dari seseorang, seperti tersebut pada firman Allah dalam Al­Qur’an:

Itulah (karunia) yang Allah kabarkan beritanya yang gembira kepada hamba­hamba­Nya yang beriman dan melakukan amal kebaikan. Katakanlah, ‘Tiada kuminta kepadamu upah untuk itu, hanya kasih sayang kepada keluarga (qurba)’. Dan barangsiapa yang memperoleh kebaikan Kami akan tambahkan pula kepadanya kebaikan. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Berterima kasih.


Dan sekali lagi, jumhur sependapat bahwa istilah qurba (keluarga) di sini memaksudkan keluarga Muhammad saw, yaitu Fathimah az­ Zahra’ ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan serta Husain. Tentu yang dimaksudkan dengan jumhur (mayoritas) disini adalah tokoh­tokoh.....


bersambung....