Minggu, 18 November 2018

KEBANYAKAN PARA ALIM PALSU GEMAR MENUDUH PENGIKUT AHLULBAYT





MUSHAF FATIMAH DITUDUH SEBAGAI QUR-AN SYI'AH
5 Juli 2013 pukul 17:16
Mushaf Fatimah Quran Syi’ah?

by: syiahali


Artikel Islami:
Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as.
Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

  
Sebagian Muslimin menuduh bahwa mushaf Fathimah az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di ta ngan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian mempersoalkan keberadaan mushaf  itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian Muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran sendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Ada beberapa kemungkinan terkait sikap permusu han ini:

1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.

2. Mereka tidak mau menerima  bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah mushaf.

3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti itu apalagi dirinya.

4. Mereka berpikir bahwa mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu, mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan malaikat Jibril kepada Sayidah Fathimah sepeninggal ayahnya. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.(1)

Abu Basyir berkata, “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata, ‘Apa mushaf  Fathimah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah! Tidak satu katapun dari al-Quran ada di dalamnya.(2)

Hadis ini menjelaskan  bahwa mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran dan tidak satu katapun, namun dari sisi kandungan dan topik, kendati satu katapun dari zahirnya al-Quran tidak tampak disana.

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu untuk apa mushaf Fathimah itu dan ba gaimana memahami hadis berikut ini:

Allamah Majlisi menjelaskan, “Iya memang al-Quran demikian, tetapi mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang  anda maksud adalah lafad zahirnya al-Quran, dan itu tidak ada dalam mushaf  Fathimah.(3)

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya mushaf  Fathimah? Sejak kapan ia ada? Mushaf ini mencakup pem bahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjela san berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya adalah Sayidah Fathimah, maka Jibril berkata demiki an,  “Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan ka mu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku”.(4)

Suatu malam, Sayidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata, “Bukankah Maryam; putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?” Para malaikat menjawab, “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir.(5)

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan me reka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.
2. Istri Imran; ibu Nabi Musa dan Maryam as.
3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.
4. Sayidah Fathimah as.(6)

Ketika Rasulullah Saww sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayidah Fathimah as bertanya, “Siapa?”

Ia menjawab, “Aku orang asing. Aku punya pertanyaan kepada Rasulullah. Apakah Anda mengizin kan saya untuk masuk?”

Sayidah Fathimah menjawab, “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan.”
Ia pergi dan beberapa waktu kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu sambil berkata, “ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”

Pada saat itu Rasulullah Saww bangun dan berkata kepada putrinya, “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”
“Tidak, ya Rasulullah!” jawab Fathimah as

Beliau bersabda, “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan dan menghapus kelezatan duniawi. Ia adalah malaikat maut! Demi Allah! Sebelum aku, ia tidak pernah meminta izin dari seorangpun dan sepeninggalku ia juga tidak akan meminta izin dari seorangpun. Karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayidah Fathimah berkata, “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”
Kemudian malaikat maut masuk bagaikan angin semilir seraya berkata, “Assalamu Ala Ahli Baiti Rasulillah!”(7)

Munculnya Mushaf Fathimah.
Imam Shadiq as berkata, “Sepeninggal Rasulullah Saw, Sayidah Fathimah as hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesyahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah mushaf sehingga disebut sebagai mushaf Fathimah”.[8]

Poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah as.
Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah.
Imam menjelaskan kandungannya:

1. Tentang berita sekarang dan kabar yang akan datang sampai Hari Kiamat.
2. Tentang berita langit dan nama-nama malaikat langit.
3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah Swt.
4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
5. Nama-nama seluruh orang Mukmin dan Kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
7. Jumlah orang-orang Mukmin dan Kafir setiap kota.
8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.(9)

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.
Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayidah Fathimah. Imam Baqir menjawab, “Sayidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.(10) (IRIB Indonesia)

*) Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Mohammad Hassan Amani.

Catatan:
1. Lisanul Arab, jilid 10 kata Shahafa dan Mufradat Raghib.
2. Ringkasan hadis, Ushul Kafi, jilid 1, hal 239, Bashair ad-Darajat, hal 151 dan Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.
3. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 40.
4. Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36
5. Ibid.
6. Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336, penerbit Intisyarat Allamah.
7. Ibid.
8. Lihat: Ushul Kafi, jilid 1, hal 240,  Bashair ad-Darajat, hal 157, Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282 dan Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80, jilid 26, hal 44-46 dan 48 dan jilid 47, hal 271.
9. Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.
10. Ibib, hal 292.


Kata “mushaf” kini sering difahami sebagai Al Qur’an; padahal dari segi bahasa artinya “sekumpulan lembaran di antara dua sampul” yang kini kita sebut buku. Oleh karena itu, Mushaf Fathimah adalah buku yang beliau miliki, yang mana riwayat-riwayat Ahlu Sunah pun sering menjelaskannya pula. Misalnya, para perawi seperti Ubay bin Ka’ab meriwayatkan bahwa ada sebuah buku yang dimiliki oleh Fathimah Azzahra. Jadi tuduhan bahwa Syiah memiliki Qur’an lain yang disebut Mushaf Fathimah, adalah tuduhan buta. Karena sama sekali tidak terbukti bahwa buku itu adalah Al Qur’an, apa lagi Qur’an yang dianut Syiah.

Mengenai buku apakah itu, dalam riwayat-riwayat Syiah juga banyak keterangan yang didapat. Misalnya tentang kandungan, volume, bagaimana dan kapan buku itu ditulis, dsb. Berdasarkan hadits-hadits tersebut, dapat dinyatakan bahwa buku itu mengandung hal-hal seperti wasiat Fathimah Azzahra, berita tentang musibah-musibah yang akan menimpa anak cucunya kelak, berita tentang peristiwa-peristiwa yang kelak akan terjadi, dan juga kabar mengenai raja-raja dan para penguasa yang akan memimpin di muka bumi. Disebutkan pula buku itu menjelaskan seluruh halal dan haram yang ada di dunia ini.

Bagaimana dan kapan buku itu ditulis? Ada riwayat yang menjelaskan: “Rasulullah saw menjelaskan hal-hal tertentu dan Imam Ali menulisnya.” Lalu jika demikian, mengapa disebut Mushaf Fathimah? Jawabannya karena buku itu disimpan oleh beliau. Ada juga yang mengatakan karena sebagian informasi yang tertulis dalam buku itu sampai ke telinga Imam Ali melalui perantara Fathimah.

Riwayat lainnya menjelaskan bahwa sepeninggal Rasulullah, Fathimah Azzahra terpuruk dalam kesedihannya. Allah mengutus malaikat untuk menemaninya, berbicara dengannya dan memberi berbagai macam berita seperti kedudukan ayahnya di alam sana, dan juga masalah-masalah lainnya; yang akhirnya semua itu disampaikan oleh beliau kepada Imam Ali dan Imam menuliskannya.[1]

Hanya saja timbul pertanyaan mengenai yang terakhir ini, karena kita meyakini bahwa dengan diutusnya Rasulullah, setelahnya tidak ada lagi wahyu yang diturunkan kepada manusia. Jawabannya, apa yang terjadi pada Fathimah Azzahra bukanlah diturunkannya wahyu, namun pembicaraannya dengan malaikat yang diutus Allah. Sebagaimana kita membaca dalam Al Qur’an bahwa seringkali manusia memiliki hubungan dengan malaikat, seperti yang kita dengar tentang Maryam [2]; Tuhan juga pernah berkomunikasi dengan ibu nabi Musa [3]. Oleh karena itu, tidak mustahil jika seandainya terjadi komunikasi antara Fathimah Azzahra dengan malaikat yang diutus Allah. Yakni, seusai kenabian Rasulullah saw, terputuslah hubungan antara Tuhan dengan manusia sebagai nabi, bukan terputusnya hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya sama sekali.

Di manakah Mushaf Fathimah saat ini? Berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai ke tangan kita, Mushaf Fathimah diwariskan turun temurun oleh Ahlul Bait dan berdasarkan kitab itu para Imam menjelaskan hukum-hukum syar’iy dan memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Saya mengingatkan, akhir-akhir ini ada buku yang bernama Shahifah Fathimah Azzahra. Perlu diketahui bahwa buku itu bukanlah Mushaf Fathimah, melainkan hanya buku yang mencakup doa-doa Fathimah Azzahra.

Rujuk:
1. Biharul Anwar, jilid 26; Tadwn As Sunnah Asy Syarifah, halaman 77.
2. Ali Imran: 42-45
3. Al Qashash: 7

Tahrif Al-Qur’an.
Selama ini isu tentang tahrif (perubahan dalam arti penambahan atau pembuangan ayat) pada Al-qur’an selalu dituduhkan kepada syi’ah, dan hal ini telah dibantah oleh ulama syi’ah sekarang. Padahal banyak riwayat pada ahlusunnah yang menyiratkan adanya tahrif Al-qur’an, seperti berikut :

1. Ibnu Majah meriwayatkan dari A’isyah, yang mengatakan bahwa Ayat Rajam dan Ayat Radha’ah yang ia simpan di bawah ranjang telah dimakan kambing dan tidak ada lagi dalam Al-Qur’an.

Lihat :
a. “Ta’wil Mukhtalaf Al-hadits” oleh Ibn Qutaibah, hal. 310.
b. Musnad Ahmad, jilid 6, hal. 269.
dll.


2. Aisyah mengatakan : “Pada masa Nabi, Surat Al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Utsman menulis mushaf ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang”
Ref. ahlusunnah :
1. Suyuthi, dalam “Al-Itqan”, jilid 2, hal. 25.
2. Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.
3. Musnad Ahmad, jilid 5, hal. 132.
dll.

Seperti kita ketahui bahwa surat Al-Ahzab yang ada di mushaf sekarang ini adalah 73 ayat. Berarti menurut riwayat tersebut ada 127 ayat yang hilang.

3. Umar bin Khottob mengatakan : “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah-nambah ayat ke dalam Kitabullah, akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri”

lihat :
a. Shohih Bukhori bab “shahadah indal hakim fi wilayatil Qadla”.
b. “Al-itqan” oleh Suyuthi, jilid 2, hal. 25 dan 26.
c. Nailul Authar, kitab hudud ayat rajam, jilid 5, hal. 105.
d. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 260.
e. “Hayatus Shohabah” oleh Kandahlawi, jilid 2, hal. 12.
dll.


Bila anda belum tahu mengenai ayat rajam, berikut bunyinya :


“Idzaa Zanaya Syaikhu wa Syaikhotu Farjumuuhuma Al-battatan Minallaahi Wallaahu ‘Aziizun Hakiim”
lihat :
a. Suyuthi, dalam “Al-Itqan”, jilid 2, hal. 25.
b. Abdur Rozaq, dalam “Mushannif”, jilid 7, hal. 320.
c. Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.
Dan ayat rajam ini tidak ada pada mushaf Al-qur’an yang kita pegang sekarang ini.
Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat ahlusunnah yang menunjukkan adanya tahrif pada Al-qur’an.
Namun seperti yang saya katakan, semua riwayat tentang adanya tahrif pada Al-Qur’an, telah dibantah oleh ulama syiah yang bernama Syekh Rasul Ja’farian, dalam bukunya “Ukdzubah Tahrif Al-Qur’an Baina Syi’ah Wa Sunnah”, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Menolak Isu Perubahan Al-Qur’an”, penerbit Pustaka Hidayah, Jakarta. Saya sarankan anda membaca buku ini.
Tulisan ulama syi’ah tersebut membantah semua riwayat, baik yang bersumber dari ahlusunnah maupun yang bersumber dari ulama syi’ah terdahulu. Sehingga kesimpulannya, ulama syi’ah sekarang seperti Syekh Rasul Ja’farian, Ayatullah Borujerdi, Imam Khomeini, dan lain-lain, berdasarkan penelitian mereka, menolak adanya tahrif pada Al-qur’an.

Salah satu yang menjadi dasar penolakan ulama syi’ah sekarang tentang tahrif, adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mendasari penolakan terhadap tahrif pada Al-Qur’an, yaitu :

1. [Q.S. 15:9], berbunyi :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”.

2. [Q.S. 41:41-42], berbunyi :
“….Dan sesungguhnya Alqur’an itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Yang ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.

Berikut saya kutipkan pernyataan beberapa ulama syi’ah sekarang (selain Syekh Rasul Ja’farian) tentang penolakan terhadap riwayat tahrif pada Al-Qur’an :

1. Allamah Syahsyahani mengatakan tentang hadits tahrif, yaitu :
“..Hadits-hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits mutawattir yang lebih kuat dan sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, akal sehat dan kesepakatan”.

2. Imam Khomeini mengatakan tentang hadits tahrif, yaitu :
“Lemah, tidak pantas berdalil dengannya”.

dan masih banyak lagi yang lain.
Berikut saya nukilkan juga ucapan seorang ulama besar ahlusunnah, yang bernama Al-Hindi : “Sesungguhnya Al-Qur’an Al-Majid, di kalangan jumhur Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Dan apabila ada juga diantara mereka yang mengatakan adanya pengurangan pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu mereka tolak dan tidak mereka terima. “

lihat :
Al-Hindi, dalam “Idhharul Haq Haulasy Syi’ah Wal Qur’an”, jilid 2, hal. 128.

Tetapi berbeda dengan ulama ahlusunnah, yang tidak pernah membantah terhadap riwayat-riwayat tentang tahrif yang ada pada kitab-kitab ahlusunnah sendiri sebagaimana yang telah saya nukilkan di atas.

Dan pada pernyataan Sayyid Al-Khu’i (yang anda kutip) tidak berbicara tentang tahrif, melainkan beliau berbicara tentang adanya ayat yang letaknya salah, maksudnya adalah bahwa harusnya ayat tersebut berada pada tempat yang lain. Sebagai contoh pada [Q.S. Al-Maidah 3], pada awal ayat membahas maudhu’ (subyek) tentang makanan yang halal-haram, tetapi tiba-tiba maudhu’ ayat berubah menjadi “Pada hari ini orang-orang kafir

berputus asa…….ku ridloi Islam menjadi agamamu”, kemudian dilanjutkan lagi dengan maudhu’ tentang makanan yang halal-haram. Di sini jelas terlihat adanya maudhu’ yang tidak sesuai pada rangkaian ayat tersebut. Kesalahan penempatan atau penertiban ayat adalah bukan tahrif, karena tidak terjadi penambahan atau pembuangan ayat. Ini yang mesti anda fahami.

Sayyid Al-Khu’i TIDAK PERNAH menyetujui pendapat adanya tahrif pada Al-Qur’an. Lihat kitab beliau yang berjudul “Al-Bayan Fi Tafsiril Qur’an”.

Dalam sejarah pengumpulan Al-Qur’an, maka ada banyak sekali mushaf, seperti seperti mushaf Ubay bin Ka’ab, mushaf Utsman, mushaf Ibnu Zubair, mushaf A’isyah, mushaf Ali, dll.

Ref. ahlusunnah :
1. Abu Dawud, dalam “Mashohif”, hal. 51-93.
2. Ibn Abil Hadid, dalam “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 1, hal. 27.
3. Ibn Sa’ad, dalam “Thabaqat Al-Kubra”, jilid 2, hal. 338.
dll.


Dan yang sampai pada kita sekarang ini adalah mushaf Utsman. Karena Utsman tidak ma’sum, maka bisa saja terjadi kesalahan peletakan atau penertiban ayat pada Al-Qur’an. Namun, sekali lagi, hal itu BUKAN tahrif. Syekh Abdurrahim Tabrizi TIDAK PERNAH mendukung pendapat tentang adanya tahrif Al-Qur’an. Lihat kitab beliau yang berjudul “Alaur Rahim”. Sehingga, pasti telah terjadi pemotongan kalimat beliau pada saat anda mengutipnya. Atau anda mungkin hanya mengutip dari kitab-kitab yang anti syi’ah, yang penuh dengan kebohongan dan kepal suan.

1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an ?
Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur’an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah.


Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur-an diterima maka Hadith sahih Nabi Muham mad saww yang bermaksud, ”Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur-an dan Ahl Baytku/Ittrahku,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur-an yang diwasiatkan oleh Nabi saww untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka. Lagipun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif.

Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang peruba han ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbedaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9),: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebe narnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAW: “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5].

INILAH YANG DAPAT KULAKUKAN UNTUK MEMBELA KAUM MUSTADH’AFIN INDONESIA, WEST PAPUA DAN ACHEH – SUMATRA





 SEMUA RASUL ALLAH KECUALI ADAM
DIUTUS UNTUK MEMBEBASKAN KAUM MUSTADH’AFIN
DARI BELENGGU YANG MENIMPA KUDUK-KUDUK MEREKA
. TUGAS INI DITERUSKAN PARA IMAM DAN PARA ULAMA WARASATUL AMBYA’
SEDANGKAN PARA BAL’AM BERSEKONGKOL DENGAN PENGUASA DESPOTIK UNTUK MENINABOBOKKAN KAUM MUSTADH’AFIN DI SELURUH DUNIA

Angku di Tampokdjok, Awegeutah
Acheh – Sumatra
Di
Ujung Dunia


note: Literatur ini ditulis sebelum Ahok 
difitnah dan dimasukkan dalam penjara
oleh persekongkolan para Bal'am/ulama 
palsu, para reman berjubbah dan para ha
kim amatiran

Bismillaahirrahmaanirrahiim:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan jangan lah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (TQS al-Baqarah [2]: 208-209).



Mari Kita ber-Amarmakruf dan Nahi Mungkar di Indonesia

Darimana kita mulai?
Dari kemanusiaan.

Ada 2 kutub kemanusiaan di Dunia sejak Allah menjadikan WakilNya di muka Bumi yaitu kutub Habil dan kutub Qabil. Kenapa kita musti mulai dari Habil dan Qabil? Sebab kaum Mustadhafin terkecoh pikirannya oleh penampilan manusia yang berpakaian Islam tetapi berhati Iblis. Mereka menggunakan ayat-ayat Allah sekedar untuk mengelabui kaum Mustadhafin hingga terpana dengan ajaran agama yang dibawa para Ulama gadongan yang bercokol di lembaga MUI.

Lembaga Bal-‘am tersebut mulai zalim pada zaman Suharto untuk melanggingkan kekuasaannya. Justeru itulah Kekuasaan Suharto lama bertahan disebabkan mendapat support kuat dari para Bal’am. Qabil ala Suharto dilengserkan Amin Rais cs tetapi sayangnya Amin Rais tidak cukup pintar dalam berpolitik dan Agamanyapun cendrung masuk perangkap para Bal’am. Akibatnya walaupun Suharto sudah lengser, persekongkolan Fir’un, Karun, Hamman dan Bal’am masih saja bertahan hingga kaum Mustadhafin tetap tidak terbebaskan dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sayang Amin Rais sendiri di zaman Jokowi yang sedang meniti jejak Habil, berseberangan sepakter jang dengan nya.

Salah satu pengikut Qabil yang sangat kental paska Suharto adalah Yudoyono. Dizamanya KPK yang bertugas untuk memberantas Korupsi, diancam dengan penjara dan bahkan dihabisi dengan rekayasa. Antasari Azhar direkayasa hingga masuk penjara, demikian juga Abraham Samad tidak luput dari sandiwara yang dimainkan  Yudhoyono, walaupun kebanyakan kaum mustadhafin belum mampu mendeteksinya. Insya Allah mereka akan memahaminya saat Antasari Azhar membuka kedok Yudhoyono secara transparan. Alhamdulillah kita sudah memahaminya sebelum Antasari membongkarnya disebabkan sepakterjang dari persekongkolan Firun, Karun Hamman dan Bal’am telah lama kita dalami via Ideolog-ideolog yang brilliant, dimana mereka menimba ilmu dari Abu Dzar Ghifari, Salman Al Farisi dan Al Miqdad (baca Sahabat Rasulullah yang paling setia).

Sejak terbunuhnya putra Nabi Adam yang bernama Habil, Agama Nabi Adam dipelintir oleh Qabil yang durhaka. Qabil pembunuh manusia di awal sejarah kemanusiaan merekayasa Agama ayahnya hingga pengikutnya meyakini bahwa itulah agama Nabi Adam dan Siti Hawa.  Agama dalam bentuk yang rusak secara horizontal menambah rujam dengan rusak juga secara vertical di zaman Namrud. Lalu Allah menurunkan Nabi Ibrahim untuk meluruskan kembali agamaNya. Setelah Nabi Ibrahim berpulang kerahmatullah, muncullah Fir’un, Karun Hamman dan Bal’am, dimana persekongkolan mereka diabadikan di Mina (Baca Jamaratul ‘ula, Jamaratul Wus’a dan Jamaratul ‘Aqaba), Hamman disatukan dengan Karun. Lalu Allah swt memunculkan Nabi Musa dan Harun untuk meluluhlantak kan sepakterjang Fir’un, Karun, Hamman dan Bal’am). Sayangnya Bani Israel yang diselamat kan Musa dan Harun, dengan mudahnya masuk perangkap Samiri hingga agama Allah dipalsukan kem bali sampai hari ini.

Bal’am inilah yang mempengaruhi manusia agar bekerjasama dengan penguasa Zalim di seluruh dunia. Kita tidak berbicara di negara-negara yang mayoritas penduduknya non Islam tetapi per sekongkolan yang perlu kita ungkap adalah di negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, agar kaum mustadhafin sadar bahwa agama Allah yang murni tidak lagi diikuti Penguasa dan ulama Bal’am tetapi agama yang mereka anut adalah agama Qabil. Itulah sebabnya secara ideology mereka disebut manusia Kutub Qabil, bukan manusia Kutub Habil.

Islam dan Negara tidak dapat dipisahkan. Tanpa negara yang benar Agama akan rusak dibawah persekongkolan Penguasa dan Ulama Bal’am. Tanpa Negara yang bebas dari sepakterjang Penguasa Zalim dan Bal’am, kaum mustadhafin akan menjadi menderita di Dunia dan bahkan di Akhirat juga bagi kaum mustadhafin yang mengikuti agama Ulama Bal’am/agama Qabil. Qabil juga mengaku beragama “Islam” tetapi siapapun yang melawan kebijaksanaannya akan dibunuh walaupun sauda ranya sendiri, apalagi orang lain.

Semua Rasul kecuali Adam, diutus Allah untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (QS,7:157 & QS, 90:12-18). Ulama gadonganlah yang menjauhkan kaum mustadh’afin dari pembendaharaan dunia. Dalam pandangan Islam Murni, Negara adalah milik Rakyat bukan milik penguasa atau pejabat. Justeru itu kekayaan Negara juga milik Rakyat bukan milik penguasa dan pejabat. Disaat kaum mustadhafin dituduh bersalah tidak bekerja dengan rajin oleh kaki tangan penguasa zalim, kebanyakan kaum mustadhafin mengiyakannya tanpa memahami kenapa mereka menjadi malas. Kalau Rasul Allah diutus untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduknya, otomatis yang namanya Ulama benaran (Ulama Warasatul Ambia’) juga bertugas untuk membela kaum mustadhafin, bukan seperti Bal’am, bersatu dengan penguasa zalim untuk meninabobokkan kaum mustadh ‘afin.

MUI dizaman Yudhoyono tidak berbeda dengan MUI di zaman Suharto. Kini ketika Jokowi dan Ahok cs mulai menempuh jejak manusia Habil, mereka yang bercokol di lembaga MUI tersebut mulai berseberangan jalan dengan Jokowi dan Ahok cs. Yang paling ketara adalah, ketika Ahok sedang mengikuti "jejak Habil" untuk membebaskan kaum Mustadhafin Jakarta dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Namun lihatlah bagaimana para Bal’am yang bercokol di lembaga MUI, berdaya upaya uantuk memfitnah Ahok hingga berhasil memaksanya berurusan dengan para Hakim atas tuduhan penistaan agama. Andaikata pembaca memiliki sedikit saja ideology Islam mur ni, pastilah anda memahami benarnya literatur "Angku di Tampokdjok Awegeutah" ini.

Disamping sepakterjang para Bal’am tersebut amatilah apa yang sedang terjadi dalam proses pe milihann kepala daerah DKI tahun 2017 ini. Putaran pertama Ahok – Jarot masih unggul dari paslon nomor 1 dan 3, namun yang dilupakan oleh sebahagian penduduk DKI adalah usaha licik tokoh-tokoh yang bekerjasama dengan para Bal’am untuk menggulingkan Ahok via putaran ke 2. Apabila hal ini berhasil, usaha yang sama akan ditujukan kepada Jokowi cs. Apabila sepakterjang mereka berhasil, tamatlah riwayat Indonesia yang sedang menapaki jalam manusia Habil dan kembali Qabil-qabil bergentayangan di seluruh Indonesia, termasuk Papua dan Acheh – Sumatra, negeri Angku di Tampokdjok. Para pecinta kebenaran akan dipaksakan masuk penjara dan para Koruptor tetap lang geng di Nusantara ini tanpa waswas, kecualin tiba saatnya kemunculan Imam Mahdi al Muntazhar dan Nabi Isa bin Maryam untuk memimpin Dunia seluruhnya secara adil. Mungkin saat tersebut kebanyakan kita tidak sempat menyaksikannya disebabkan umur kita sendiri yang sudah berakhir.

Disebabkan Yudhoyono sudah kalah dalam pilkada anaknya, dia mulai menggempur Ahok, bersatu dengan Prabowo yang sama sepakterjangnya dengan Suharto. Rakyat Indonesia dapat melihat di video dibawah ini, bagaimana «pagi-pagi» benar sudah mulai merapatkan barisan dengan calon yang diusung para Bal’am lainnya yaitu Anie Baswedan – Uno. Anies ini memakai peci untuk mengelabui kaum mustadfhafin. Sebagaimana kita katakan sebelumnya bahwa andaikata rakyat Jakarta secara mayoritas mengikuti para Ideolog Islam Murni, pasti sadar bahwa dibelakang Anies yang lugu itu adalah Prabowo, Qabil yang juga memakai peci macam Suharto. Sepertinya mayoritas rakyat Indone sia masih kabur pandangan mereka saat berhadapan dengan Prabowo dan Yudhoyono yang ber bahaya bagi mkaum mustadhafin itu. Justeru itulah kita ingatkan sebagai dakwah untuk membe baskan kaum Mustadhafin Indonesia, West Papua dan Acheh – Sumatra dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka dalam hidupnya. Semoga kaum mustadh’afin dimanapun mereka berada sadar bahayanya mengikuti sepakterjang para Bal’am dengan ideology Qabil, bukan ideology Habil. Apabila mereka sadar Ahok - Jarot pasti menang dan Kaum mustadhafin akan mendapat angin segar, bukan saja di Jakarta tetapi juga West Papua dan Acheh –Sumatra, insya Allah.


Literatur singkat ini kita tutup dengan ayat Allah:
“Orang-orang yang zalim itu kelak akan tahu, 
kemana mereka akan kembali“ (QS, Asy-Syuara: 227)



Sejak jaman Suharto sampai Yudhoyono,
kaum mustadhafin Indonesia berada dalam
permainan para politikus salahmakan obat macam ini
 https://youtu.be/F4kDRTQoOIs

Billahi fi sabililhaq
Angku di Awegeutah Tampokdjok
Acheh – Sumatra

Di Ujung Dunia

Selasa, 30 Oktober 2018

HIKAYAT PERANG SABI YANG DI TAKUTI BELANDA DAN PORTUGIS



 



 INI BUKAN AJAKAN UNTUK PERANG SA'AT SEKARANG TETAPI SEBAGAI KENANGAN KAMI BANGSA ACHEH - SUMATRA DENGAN PENJAJAH DULU

hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia




Bismillaahirrahmaanirrahiim
Hikayat Prang Sabi adalah sebuah hikayat yang diciptakan atau dikarang oleh Tgk Chik Pante Kulu yang merupakan sebuah syair ke pahlawanan yang membentuk su atu irama dan nada yang sangat heroik yang mem bangkitkan semangat para pe juang Aceh da ri zaman penjajahan portugis sampai zaman penjajahan Belanda.


Pejuang Acheh

Hikayat Prang Sabi adalah salah satu ins pirator besar dalam menentukan perjua ngan rakyat Aceh.

Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat ak rab dengan syair-syair perjuangan Is lam, sajak -sajak akan sebuah hakikat keadilan.

Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap te linga anak-anak Aceh, laki-laki, pe rempuan, tua muda, besar kecil dari zaman ke zaman dalam sejarah Aceh Sepan jang Abad.

Kalau kita belajar dari sejarah, maka Aceh lah negeri yang paling ditakuti oleh Portugis dan sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak ta hun 1873 serta Jepang.
Tgk Uma dan Cutnjak Dhien

Beribu macam taktik perang yang digunakan oleh para penjajah tetapi tidak dapat me nguasai Aceh yang unggul dengan taktik pe rang gerilyanya.

Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa penjajah.

Pengaruh hikayat perang sabil hasil karangan nya, telah mampu membangkitkan semangat jihad siapa saja yang membaca ataupun mendengarnya untuk terjun ke medan pe rang melawan penjajahan Belanda ketika itu.

Sehingga Zentgraf dalam bukunya “Aceh” (1983) menulis banyak pemuda yang meman tapkan langkahnya ke medan perang Aceh melawan Belanda karena pengaruh buku hikayat perang sabil yang sengaja ditulis seorang ulama besar Aceh bernama Tgk. Muhammad Pante Kulu.

Menurut Zentgraf, hikayat perang sabil kara ngan ulama Pante Kulu telah menjadi momok yang sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan-apalagi membaca hikayat perang sabil itu mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerin tah Hindia Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan.

Sarjana Belanda ini menyimpulkan, bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali hikayat perang sabil karya Pante Kulu dari Aceh.

Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa pe rang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hika yat perang sabil yang dihasilkan Muhammad Pante Kulu.

Para Tokoh Masa Dulu

Itu sebabnya, Ali Hasjmy menilai bahwa hi kayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi karya sastra puisi terbesar di dunia.

Menurut Hasjmy, pengaruh syair hikayat pe rang sabil sama halnya dengan pengaruh syair-syair perang yang ditulis oleh Hasan bin Sabit dalam mengobarkan semangat jihad umat Islam di zaman Rasulullah. Atau paling tidak, hikayat perang sabil karya Chik Pante Kulu dapat disamakan dengan illias dan Odys sea dalam kesusastraan epos karya pujangga Homerus di zaman “Epic Era” Yunany sekitar tahun 700-900 sebelum Mesehi.

Mengapa hikayat perang sabil begitu berpe ngaruh dalam membangkitkan semangat ji hat perang orang Aceh melawan Belanda.

Menurut telaahan, hikayat perang sabil yang ditulis Chik Pente Kulu ini terdiri dari empat bagian (cerita).

Barisan Pejuang Acheh

Pertama, mengisahkan tentang Ainul Mardhi ah, sosok bidadari dari syurga yang menanti jodohnya orang-orang syahid yang berpe rang di jalan Allah.

Kedua, mengisahkan pahala syahid bagi orang-orang yang tewas dalam perang sabil.

Ketiga, mengisahkan tentang Said Salamy, seorang Habsi berkulit hitam dan buruk rupa.

Keempat, menceritakan tentang kisah Muda Belia yang sangat mempengaruhi jiwa para pemuda untuk berjihat di medan perang me lawan kezaliman penjajahan Belanda.

Ada dua Versi pendapat tentang Tgk. Chik Pente Kulu dalam mengarang hikayat perang sabil ini.

Sebagian mengatakan, hikayat perang sabil ini dikarang Chik Pante Kulu ketika beliau da lam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Berarti hikayat perang sabil ditulis Chik Pante Kulu di atas kapal selama dalam pelayaran nya dari Arab ke Aceh.

Pendapat lain mengatakan, hikayat perang sabil ini ditulis Chik Pante Kulu adalah atas suruhan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abee yang lebih dikenal Tgk. Chik Tanoh Abee.

Karena, pada waktu Tgk. Muhammad Saman Ditiro meminta izin pada Tgk. Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda.

Maka saat itu Tgk. Chik Tanoh Abee menanya kan pada Tgk. Chik Ditiro: “Soe yang muprang dan soe yang taprang?”. Chik Ditiro menja wab: “Yang muprang Muhammad Saman, yang taprang kafe Belanda”.

Menurut riwayat marga tanoh abee, sekiranya waktu itu Chik Ditiro menjawab, njeng mu prang ureung Islam, njeng taprang Beulanda.

Kemungkinan Tgk. Chik Tanoh Abee tidak me restui Chik Ditiro untuk berperang, sebab ka lau orang Islam yang berperang, di kalangan orang Islam sendiri masih banyak yang harus diperangi, yaitu orang-orang yang bukan Islam sejati.

Tetapi karena jawaban Tgk. Chik Ditiro: yang muprang Muhammad Saman dan yang taprang kafe Belanda, maka Tgk. Chik Tanoh Abee merestui Tgk.
Tgk Chik Ditiro

Chik Ditiro menggerakkan peperangan untuk melawan Belanda. Dalam mendukung gera kan perang ini Tgk. Chik Tanoh Abee menga rang khusus hikayat perang sabil dalam baha sa Arab untuk pimpinan-pimpinan perang.

Sedangkan untuk lasykar perang hikayat pe rang sabilnya dikarang oleh Tgk. Chik Pante Kulu dalam huruf Jawi berhasa Aceh, yang kemudian hikayat perang sabil karangan Tgk. Chik Pante Kulu ini membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad lasykar Aceh berperang melawan Belanda.

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukad dimah.

Bagian yang juga berbentuk syair ini menun jukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikayat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan pe rang melawan Belanda.

Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (jalan Allah-Red).

Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan dara-dara dari surga ( Bidadari ).

HIKAYAT PRANG SABI
“Salam ‘alaikom ‘alaikom teungku meutuah
Katrok neulangkah neulangkah neuwo bak kamoe
Amanah Nabi…ja Nabi hana meu ubah-meu ubah
Sjuruga indah…ya Allah pahla prang sabi….”

“Keu ureueng sjahid la sjahid bek ta kheun matee
Beuthat beutan lee…ja Allah njaweng lam badan
Ban saree keuneng la keuneng seundjata kafee la kafee
Keunan datang le…ya Allah pemuda seudang…”

“Geumat kipaih la kipaih saboh bak djaroe
Jipreh djudo woe ja Allah dalam prang sabi
Gugor disinan-disinan neuba u dalam-uda lam
Neupeuduek sadjan ja Allah ateueh kurusi…”

“Ngen idja puteh la puteh geusampoh darah
Ngen idja mirah…ja Allah geusampoh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Watee tapandang…ja Allah seunang lam hatee…”

“Darah njeng ha-nji njeng ha-nji gadeh di badan
Geuganto Tuhan…ya Allah deungen kasturi
Di kamoe Atjeh la Atjeh darah peudjuang-peu djuang
Neubi beu majang…ja Allah Atjeh – Suma tra…”

“Subhanallah wahdahu wabihamdihi
Khalikul badri wa laili adza wa jalla
Ulon pudjoe Po sidroe Po sjuko keu Rabbi ja Aini
Keu kamoe Neubri beu sutji Atjeh-Sumatra…”

“Tadjak prang musoh beureuntoh dum sitree Nabi
Njeng meu ungki keu Rabbi keu Po njeng Esa
Soe njeng hantem prang tjitmalang tjeulaka tubuh rugoe rhoh
Sjuruga tan roh rugoe rhoh bala Nuraka…”

“Soe-soe njeng tem prang tjit meunang meutuwah tuboh
Sjuruga that roh njeng leusoh Neubri keugata
Lindong gata sigala njeng mudjahidin Mursalin
Bak djeuet-djeuet Mukim dikirem Atjeh-Suma tra…”

“Njeng mubahgia seudjahtra sjahid dalam prang
Allah Neupulang dendajang Budiadari
Hoka siwah-sirawah sjahid dalam prang dan seunang
Dji peurap ridjang peutameng Sjuruga ting gi…”

“Budiadari meuriti dideng di pandang
Dieu tjut abang njeng meutjang dalam prang sabi
Ho ka djudo tungku-e sjahid dalam prang dan seunang
Dji peurap ridjang peutameng sjuruga tinggi”

Billahi fi sabililhaq
Hsndwsp
Acheh – Sumatra
Di Ujung Dunia


"RENCONG"
Senjata orang Acheh jaman dulu

Tidak mengherankan, Sehingga kemudian pe nyair Taufik Ismail mengabadikan kehebatan hikayat perang sabil karya Tgk. Chik Pante Kulu ini dalam sebuah syair panjangnya ber judul : “Teringat Hamba Pada Syuhada Kita Dihari Kemerdekaan, Musim Haji 1406 H”. Taufik bersyair:…

“Nampakkah olehmu puisi itu?
Diserahkan kepada Teungku Chik Ditiro
Di sebuah desa di dekat Sigli
Dan puisi itu berubah menjadi sejuta Ren cong…

“Terdengarkah olehmu?
Merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi perang sabi dibacakan
Yang mendidih darah memanggang udara
Menjelang setiap pasukan terlibat pertempu ran
Mengibarkan Panji fi-sabilillah…

“Hamba menulis puisi juga
Tapi betapa kurus puisi hamba
Kurang sikap ikhlas hamba
Banyak ria dan ingin tepuk tangan…
Apalah artinya dibandingkan puisi Perang sabi Muhammad Pante Kulu …

“Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini
Beri dia firdaus seluas langit bumi…

Begitu hebatnya Tgk. Chik Pante Kulu di mata penyair Taufik Ismail. Sampai-sampai Taufik menilai puisi-puisi yang ditulisnya selama ini belum memiliki arti apa-apa dibandingkan ke besaran syair hikayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu. Ulama dan pujangga wan kelahiran 1836 M di Desa Pante Kulu, Ke mukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie-Sigli ini, telah lama meninggalkan kita.

Namun hikayat perang sabil yang ditinggal kan tetap hidup di jiwa orang yang memang Acheh sebagai hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia pada zamannya.

Sumber: Facebook @Aneuk Pasee