Kamis, 17 Januari 2019

ANTARA HABLUM MINALLAH DAN HABLUM MINANNAS








PENGUASA DESPOTIC, PARA POLITIKUS JAHAT
PARA KORUPTOR ALIAS PENCURI BERDASI DAN PARA
BAL’AM/ULAMA PALSU
MAU LARI KEMANA KELAK?,
BERTAUBATLAH SEBELUM TERLAMBAT
hsndwsp
Di
Ujung Dunia



Secara sederhana boleh disimpulkan bahwa urusan ibadah adalah urusan antara seorang hamba dan Tuhannya – hablum minallah, sedangkan urusan mu’amalah adalah urusan antara hamba dan hamba Allah yang lain -- hablum minannas. Yang pertama disebut juga urusan ritual, yang kedua disebut juga urusan sosial. Selanjutnya mari kita buat perbandingan kedua urusan ini dalam keseluruhan ajaran Islam.'

Islam ternyata adalah agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar dari urusan ibadah. Islam ternyata lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual. Islam adalah agama yang menjadikan seluruh bumi ini sebagai Mesjid, tempat mengabdi kepada Allah. Muamalah jauh lebih luas daripada ibadah (sekali lagi, dalam arti khusus)

Beberapa alasannya ialah:
Pertama, dalam Qur-an atau kitab-kitab Hadist proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Imam Khomaini, dalam kitab al Hukumah al Islamiyah, perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan social adalah satu berbanding serratus. Untuk satu ayat ibadah ada seratus ayat mu ’amalah. Tanda-tanda orang beriman terdapat dalam surat al Mu’minun (23: 1-9): Orang beriman itu ialah orang yang khusyuk’ dalam shalatnya (ibadah), menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat (mu’a malah), menjaga amanah dan janjinya (muamalah), dan me melihara shalatnya (ibadah). Dari sekian tanda-tanda orang beriman hanya dua yang menyangkut ‘ubudiah.

Dan terdapat juga tanda-tanda orang taqwa dalam surah Ali Imran (3:133-135): Infaq dalam suka dan duka (muamalah), menahan amarah (mu’a malah), mema afkan manusia (muamalah), berbuat baik (muamalah dan ibadah), zikir (ibadah), bila berbuat dosa, menganianya atau menganianya dirinya (muamalah dan iba dah) serta meminta maaf atas dosa-dosanya (ibadah).

Didalam buku-buku Hadist, bab ibadah hanya merupakan bahagian kecil dari seluruh hadist, termasuk dalam kitab hadist manapun, baik sunni maupun syi’i.

Tetapi anehnya dewasa ini ummat Islam lebih memperhatikan urusan ibadah da ripada urusan muamalah. Kadang-kadang perbedaan kecil dalam iba dah dibe sar-besarkan sehingga mempertajam perpecahan ummat Islam. Cara beribadah berdasarkan fiq tertentu dijadikan "merek dagang" golongan. Yang berbeda baca an ruku’nya saja dipandang sebagai bukan sau dara. Di Afganistan – konon – per nah seolang mushalli dipukul telunjuknya sampai patah, hanya disebabkan meng gerak-gerakkan telunjuknya pada waktu tasyahud. Di Indonesia, di beberapa kam pung shalat Jum’at dipisah kan, dan masjid baru dibuat berdam pingan dengan mesjid lama, hanya disebabkan perbedaan azan Jum’at. Kita sering berlama-lama membicara kan urusan ‘ubudiah dan melupakan mu’amalah. Sehingga ada pe ngajian yang bertahun-tahun hanya membahas urusan ibadah – dari istinja’ sam pai haid dan nifas, dari takbiratul ihram sampai do’a qunut.

Bila kita perhatikan al Qur-an dan Hadist, sepatutnya kita lebih banyak mem bicarakan mu’amalah ketimbang ibadah. Akibatnya kita seperti dikatakan Syaikh al Ghazali dan Sayid Qutub, kita bertengkar dalam urusan ibadah, sementara satu-demi satu bidang kehidupan diambil oleh musuh-musuh Islam. Kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan shaum, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan urusan politik.

Kedua, alasan lain lebih ditekankannya mu’amalah dalam Islam ialah adanya ke nyataan bahwa bila urusanibadah bersamaan waktunya dengan urusan mu’a malah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan).

Ada sebuah Hadist dalam kitab Bukhri dan Muslim, dari Anas bin Malik, Rasulullah saww berkata: “Aku sedang shalat dan aku ingin memanjangkannya, tetapi aku mendengar tangisan bayi. Aku pendekkan shalatku, sebab aku maklum akan kece masan ibunya akibat tangisan itu”. Begitulah Nabi memendekkan shalatnya dise babkan memikirkan kecemasan seorang ibu. Dalam Hadist lain Rasulullah mengi ngatkan imam shalat supaya memendek kan shalatnya, bila di tengah jamaah ada yang sakit, orang lemah, orang tua, atau orang yang mempunyai keperluan.

Siti Aisyah berkata: “Rasulullah shalat di rumah, dan pintu terkunci. Lalu aku datang minta dibuka pintunya, Rasulullah saww berjalan membuka pintu, kemudian kembali ke tempat shalatnya”.

Ini semua membuktikan Islam itu mengutamakan aspek-aspek sosial atau muama lah diatas ibadah (hablum minallah).

Masih banyak contohnya, kita kemukakan satu lagi. Suatu hari setelah ‘asar, Ibnu Abbas berkhotbah, matahari sudah tenggelam, bintang-gemintang mu lai muncul, Ibnu Abbas masih juga berkhutbah. Orang-orang berteriak, "As Shalah!, as Shalah". Ibnu Abbas terus saja berkhutbah. Seorang lelaki dari Bani Tamim mendekati Ibnu Abbas, “Shalah-shalah”. Dengan kesal Ibnu Abbas berkata: “Kamukah yang me ngajarkan kepadaku Sunnah natau aku kah yang mengajarkan kepadamu”. (Mak sudnya siapakah yang lebih mengetahui Sunnah Rasul daripada Ibnu Abbas. Bukankah Rasulullah mendoakan supaya Ibnu Abbas difakihkan dalam urusan aga ma.

“Aku pernah melihat Rasulullah saww menjamak zuhur dengan asar, maghrib dengan ‘isya. “Saya menduga Rasulullah melakukannya dalam suatu urusan kemasyaraka tan yang penting, sebagaimana Ibnu Abbas menangguhkan shalat magrib untuk menyelesai kan khutbahnya. Yang meriwayatkan hadist ini Abdullah bin Syafiq merasa heran. “Hatiku tidak enak,” kata Abdullah, lalu aku mendatangi Abu Hurai rah; aku tanyai dia tentang hal itu, dan Abu hurairah menganggap benar ucapan Ibnu Abbas,”. (Riwayatkan Bukhari, Muslim, Malik dan Ahmad).

Ketiga ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberikan ganjaran yang lebih besar daripada ibadah yang bersifat perorangan. Justeru itu, shalat jama’ah lebih tinggi nilainya munfarid (sendirian) dua puluh tujuh derajad menurut riwayat-riwayat yang sahih dalam Bukhari, Muslim dan ahli hadist yang lain. Dalam riwayat Ahmad, Abu Daud, an Nasai, Ibnu Majah dari Ubai bin Ka’ab, Rasulullah berkata:

“Shalat seorang lelaki dengan orang lain lagi lebih suci daripada shalatnya sendiria; shalatnya dengan dua orang lain lebih suci dari shalatnya dengan seorang lain; makin Banyak teman shalat makin dicintai Allah Azza wa Jalla.”

Shalat jama’ah, Shalat Jum’at, ibadah Haji, karena melibatkan segi sosial, menda patkan perhatian perhatian besar dari ajaran Islam. Ibadah-ibadah itu tidak hanya ritual.

Keempat, bila uirusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau bathal, disebab kan melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya(tebusannya) ialah me lakukan se suatu yang berhubungan dengan mu’amalah. Bila shaum tidak mampu dilaku kan, maka fidyah – makanan bagi orang miskin – harus diba yarkan. Bila suami isteri ber campur siang hari di bulan Ramadhan – atau ketika dalam keadaan haidh – tebu sannya adalah memberi makan kepada orang miskin. Dalam hadist qudsi, salah satu tanda orang-orang yang diteri ma shalatnya ialah menyantuni orang - orang lemah, menyayangi miskin, anak yatim, janda, dan yang mendapat musibah. (Say yid Sabiq, Islamuna, Beirut; Dar Al Kutub al ‘Arabi, tanpa tahun, hal, 119)

Sebaliknya bila orang tidak baik dalam urusan mu’amalah, urusan ibadah tidak dapat menutupinya. Yang merampas hak orang lain tidak dapat menghapus dosa nya dengan shalat tahajjud. Yang berbuat zalim tidak hi lang dosanya dengan membaca zikir walau seribu kali, bahkan, dari bebera pa keterangan, kita menda pat kesan bahwa ibadah ritual tidak diterima Allah, bila pelakunya melanggar norma.-norma muamalah. “Ditanyakan ke pada  Rasulullah saww bahwa seorang wanita shaum di siang hari, dan ber diri shalat di malam hari, tetapi ia menyakiti tetangganya. Rasulullah saww menjawab: “Perempuan itu di Neraka”

Disini nampak betapa shalat dan shaum menjadi tidak berarti disebabkan pelaku nya merusak hubungan baik dengan tetangganya. Dalam hadist-hadist lain, orang -orang yang tidak baik dengan tetangganya, yang memu tuskan silaturrahim, yang merampas hak orang lain, bukan saja tidak diterima ibadahnya, bahkan tidak ter masuk orang yang beriman. Nabi berkata:

 “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementa ra tetangga nya kelaparan”.

“Tidak masuk Surga orang yang memutuskan silaturrahmi”
“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan takabur, walau sebesar debu”.

Dalam al Qur-an orang-orang yang shalat akan celaka, apabila menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang-orang miskin, riya dalam amal, dan tidak mau memberi pertolongan (QS, al Ma’un)

Dalam hadist lain diriwayatkan tentang orang muflis (orang bangkrut) pada hari kiamat, yang kehilangan seluruh ganjaran shalat, shaum dan hajinya, disebabkan merampas hak orang lain, menuduh orang yang tidak bersalah, atau menyakiti hamba Allah.

Kelima, melakukan amal baik dalam bidang kemasyarakatan, mendapat ganjaran yang lebih besar daripada ibadah sunnah, sebagaimana disebut kan dalam hadist-hadist berikut:

"Orang yang bekerja keras  untuk menyantuni janda dan orang-orang miskin ada lah seperti pejuang di jalan Allah (atau ku kira beliau berkata) dan orang yang terus-menerus shalat malam dan terus menerus melakukan shaum"

"Maukah kamu kuberitahukan derajat apa yang lebih utama daripada shalat, shi yam dan sadaqah (shahabat menjawab: Tentu, ya Rasulullah). Yaitu mendamai kan dua pihak yang bertengkar" (Riwayat Abu Daud, at Turmuzi dan Ibnu Hibban)

"Berfikir satu saat adalah lebih baik daripada  bangun shalat satu malam" (Riwayat Ibnu Hibban)

"Mencari ilmu satu saat adalah lebih baik daripada shalat satu malam dan mencari ilmu satu hari adalah lebih baik daripada shaum 3 bulan" (Riwayat ad Dailami)

“Barang siapa bangaun diwaktu pagi dan berniat mnenolong orang yang ter anianya dan memenuhi keperluan orang, baginya ganjaran seperti haji mab rur. Hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi ma nusia, dan amal yang paling utama ialah memasukkan rasa baha gia pada hati orang yang beriman – menutup rasa lapar, membebaskan dari kesulitan, atau membayar kan hutang”(Riwayat Ibnu Hajar al Asqalani,dalam Nashaih al ‘Ibad, Bandung; al Ma’arif tanpa tahun, hal 4)

Hadist-hadist diatas menunjukkan bahwa amal-amal baik dalam muamalah (iba dah sosial), seperti menyantuni kaum dhuafa, mendamaikan pihak yang berteng kar, berfikir, mencari ilmu dan meringankan penderitaan orang lain, adalah lebih besar ganjarannya daripada ibadah-ibadah sunnah.

Bila saya menunjukkan bahwa muamalah itu penting, saya sama sekali tidak memandang enteng shalat, shaum, haji dan ibadah-ibadah ritual/mahdhah lain nya. Saya hanya ingin menempatkan muamalah pada proporsi yang tepat dalam ajaran Islam. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita tidak boleh merasa puas menjadi muslim hanya karena kita telah shalat, shaum, zakat dan haji. Diluar itu mas alah muamalah masih terbentang luas.

Sebagai akhir pembicaraan ini saya paparkan sekelumit kehidupan Ibdu ‘Abbas: Suatu hari Ibnu Abbas i’tikaf di mesjid  Rasulukllah saww. Kemudian masuk seorang lelaki mengucapkan salam dan duduk. Ibnu Abbas berkata: “Hai fulan, aku lihat engkau sedih sekali“ . Orang itu menjawab: “Benar wahai putra paman Rasulullah. Aku harus memenuhi hak si fulan (mungkin hutang) yang demi pemilik kubur ini (ya’ni Rasulullah saww)—aku tidak sanggup membayarnya”. “Bagaimana kalau aku bantu engkau berbicara kepada nya?” Ia berkata: “Silakan kalau anda mau melakukannya”. Lalu  Ibnu Abbas membantu melepaskan kesulitan sahabatnya. Sahabatnya berkata, “Anda lupa akan  ‘Itikaf  yang anda lakukan”. Ibnu Abbas menya hut: “Tidak” Tetapi aku mendengar penghuni qubur ini berkata (kelihatan Ib nu Abbas berlinang air mata): “Barang siapa berjalan memenuhi keperluan sau daranya, dan menyampaikan keinginannya, itu lebih baik daripada i’tikaf sepuluh tahun. Dan barangsiapa i’tikaf satu hari, untuk mencari redha Allah, Allah jadikan penghalang antara ia dan Neraka tiga khandaq, yang jauhnya lebih jarak dari bumi dan langit”. (Riwayat Muhammad Yusuf al Kandahlawi, Hayah ash Shaha bah, Beirut: Dar al-Fikr, 1981, hal. 2:540)

Secara keseluruhan, peranan Muslim sebagai anggota masyarakat, dipadat kan dalam ucapan Imam Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah saww:

“Hak saudaramu seagama ialah memelihara keselamatan dan kasih-sayang mereka, menyayangi orang yang jeklek diantara mereka, berlakju lemah-lem but kepada mereka dan berusaha memperbaiki mereka, berterimakasih ke pada mereka yang berbuat baik, menahan diri untuk tidak menyakiti mere ka, mencintai untuk mereka apa apa yang engkau cinta untuk dirimu, membenci pada mereka apa yang kau benci pada dirimu, jadikanlah yang tua seperti bapakmu, yang muda seperti saudaramu, wanita tua sebagai ibumu dan anak-anak kecil seperti anakmu”


“Dipaparkan di medan Internet oleh Angku di Tampokdjok Awegeutah, Acheh – Sumatra, agar manusia yang sadar, dapat memperbaiki kesalahan nya”


Billahi fi sabililhaq
     hsndwsp
          di


   Ujung Dunia









In English:


ANTARA HABLUM MINALLAH DAN HABLUM MINAN NAS











  
DESPOTIC AUTHORITY, EVIL POLITICS PASSENGERS AND PARA CORRUPTORS BAL'AM / FAKE ULAMA. WHERE DO YOU WANT TO RUN.
Repent before it is too late

hsndwsp
at the end of the world




Simply it can be concluded that the business of worship is a business between a servant and his God - hablum minallah, while mu'amalah affairs is the business between servants and other servants of God - hablum minannas. The first is also called ritual affairs, the second is also called social affairs. Next let us make a comparison of these two matters in the whole teaching of Islam. '


Islam turns out to be a religion that emphasizes muamalah affairs greater than matters of worship. Islam is more concerned with aspects of social life than the aspect of ritual life. Islam is the religion that makes the whole earth a Mosque, a place of service to God. Muamalah much broader than worship (again, in a special sense)


Some of the reasons are:


First, in the Qur'an or Hadist books the greatest proportion of the two sources of Islamic law concerns muamalah affairs. According to Imam Khomaini, in the book al Hukumah al Islamiyah, the comparison between the verses of worship and the verses concerning social life is one versus the serratus. For one verse of worship there are a hundred verses of mu 'amalah. The signs of the faithful are contained in the epistle of the Mu'minun (23: 1-9): The believer is a solemn person 'in his prayer (worship), avoids unnecessary deeds (mu'a instead), maintains trust and his promise (muamalah), and me keep the prayer (worship). Of the few signs of the faithful only two are concerned with 'ubudiah.


And there are also signs of the taqwa in surah Ali Imran (3: 133-135): Infaq in joy and sorrow (muamalah), restraining anger (mu'a instead), mema afkan man (muamalah), do good (muamalah and worship), dhikr (worship), when sins, threatens or abuses him (muamalah and compassionate dah) and apologizes for his sins (worship).


In the books of Hadith, the chapters of worship are only a small part of all the hadith, including in any Hadith book, both sunni and syi'i.


But strangely nowadays Muslims pay more attention to matters of worship and ritual muamalah affairs. Sometimes small differences in compassion have been greatly sharpened to sharpen the divisions of the Muslims. Ways of worship based on a particular fiq are made "trademarks" of classes. Different read ruku'nya just seen as not sau dara. In Afghanistan - supposedly - ever a person mushalli beaten his finger until broken, just caused to move his finger at the time tasyahud. In Indonesia, in some kam pung shalat Jum'at separated right, and the new mosque is made with the old mosque, only due to the difference of Friday prayer. We often linger to talk about the business of 'ubudiah and forget about mu'amalah. So there are peasants who for years only discuss the affairs of worship - from the wife 's menstruation and postpartum, from takbiratul ihram to do'a qunut.


When we consider the Qur'an and the Hadith, it is fitting that we should talk more about mu'am'ah instead of worship. As a result we are as Shaykh al-Ghazali and Sayid Qutub, we quarrel in matters of worship, while one by one the sphere of life is taken by the enemies of Islam. We fuss about heresy in prayer and shaum, but calmly bid'ah in economic affairs and political affairs.


Secondly, another reason he emphasizes mu'amalah in Islam is the fact that if the matter together with the time mu'a malah affairs are important, then worship can be shortened or suspended (certainly not abandoned).


There is a Hadith in the book of Bukhri and Muslim, from Anas bin Malik, Rasulullah saww said: "I am praying and I want to extend it, but I hear the cry of a baby. I shortened my prayer, because I know his mother's discomfort due to the crying ". That is how the Prophet shortened his prayers as he thought of the anxiety of a mother. In another Hadith the Prophet urged the prayer imam to shorten his prayers, if in the middle of the congregation there are sick, weak people, parents, or people who have the need.


Siti Aisyah said: "The Messenger of Allah prayed at home, and the door was locked. Then I came to open the door, Rasulullah saww walking open the door, then returned to his prayer ".


Third worship that contains the aspect of society is given a greater reward than individual worship. In fact, the jama'ah prayer is worth more than twenty-seven degrees according to the valid narrations in Bukhari, Muslim and other hadith scholars. In Ahmad's report, Abu Daud, an Nasai, Ibn Majah of Ubai bin Ka'ab, the Messenger of Allah said:


This all proves that Islam prioritizes social aspects or muama is over worship (hablum minallah).


There are still many examples, we mention one more. One day after the 'asar, Ibn Abbas preaches, the sun is drowning, the stars are coming, Ibn Abbas still preaches. People shouted, "As Shalah !, as Salalah". Ibn Abbas continued to preach. A man from Bani Tamim approached Ibn Abbas, "Salalah-shalah". With annoyed Ibn Abbas blessingsaid: "Are you the one who taught me the Sunnah or I have taught you". (Who wants to know the Sunnah


of the Prophet more than Ibn Abbas, does not the Prophet pray for Ibn Abbas to be forgiven in the affairs of the religius.

"I've seen Rasulullah saww menjamak zuhur with asar, maghrib with 'isya. "I suspect the Messenger of Allah did so in an important social affair, as Ibn Abbas suspended the evening prayer to finish his khutbah. It is narrated that this hadith by Abdullah bin Syafiq is astonished. "My heart is not good," said Abdullah, then I went to Abu Hurai rah; I questioned him about it, and Abu Hurairah considered the words of Ibn Abbas, ". (Narrated Bukhari, Muslim, Malik and Ahmad).

Here it appears that prayer and shaum become meaningless because the perpetrator damages his good relationship with his neighbor. In other hadiths, those who are not good with their neighbors, who keep silaturrahim, seizing the rights of others, are not only unacceptable to the worship, not even the believers. The Prophet said:

"Prayer of a man with another man is more holy than his own prayer; his prayer with two others is more holy than his prayer with another; more and more friends pray more beloved Allah Azza wa Jalla. "

Prayers jama'ah, Prayers Friday, Hajj, because it involves the social aspect, menatas attentive attention from the teachings of Islam. Those worship services are not just rituals.Fourthly, if the act of worship is done imperfectly or spiritually, because it violates certain taboos, then kifaratnya (ransom) is to do something related to mu'amalah. If shaum can not be done, then fidyah - food for the poor - must be paid. When the husband and wife mixed during the day in the month of Ramadan - or when in a state of haidh - cane sannya is to feed the poor. In the hadith qudsi, one of the signs of the people who receive the prayers is to help the weak, love the poor, the orphans, the widows, and the unfortunate ones. (Say yid Sabiq, Islamuna, Beirut, Dar Al Kutub al 'Arabi, without years, p. 119)

Conversely if people are not good in mu'amalah affairs, the business of worship can not cover it. Who deprives the rights of others can not wash away their sins by praying tahajjud. The wrongdoers do not shed their sins by reading dhikr though a thousand times, in fact, from some information, we have the impression that ritual worship is not accepted by Allah, if the perpetrator violates the norms-the norm of muamalah. "Asked Rasulullah saww that a woman shaum during the day, and praying at night, but he hurt his neighbor. Rasulullah saww replied: "The woman is in Hell"

"Shall I tell you what degree is more important than prayer, shi yam and sadaqa (shahabat replied: Of course, O Messenger of Allah), that is to call the two quarrels" (Abu Daud, Turmuzi and Ibn Hibban) "I do not believe in a man who slept full, while his neighbor is hungry".

"Not in Heaven the one who breaks the silaturrahmi"

"Not to enter the heaven of a man in whose heart there is a feeling of arrogance, though as big as dust".

In the Qur'an the people who pray will be wretched, if they rebuke the orphans, do not feed the poor, riya in charity, and do not want to give help (QS, al Ma'un)

In another hadith narrated about the muflis (bankruptcy) on the Day of Judgment, who lost all the rewards of prayer, shaum and hajinya, due to seize the rights of others, accuse the innocent, or hurt the servant of God.

Fifth, doing good deeds in the field of society, received a greater reward than the sunnah worship, as mentioned in the following hadiths:

"The one who works hard to help the widow and the poor is like a warrior in the way of Allah (or I think he speaks) and the person who constantly prays night and continues to do shaum"

"Thinking one moment is better than waking up one night" (Historical Ibn Hibban)

"Seeking knowledge one moment is better than one-night prayer and seeking one day's knowledge is better than shaum 3 months" (History ad Dailami)

"Whoever bangaun in the morning and intend mnenolong people who terianya and meet the needs of people, for him rewards like hajj mab rur. The most beloved servant of God is the most beneficial to mankind, and the most important charity is to include a sense of baha gia in the heart of the believer - closing the hunger, freeing from trouble, or paying the debt "(Ibn Hajar al Asqalani, in Nashaih al 'Ibad, Bandung, al Ma'arif without years, p. 4)

The above hadiths show that good deeds in muamalah (compassion and social), such as sponsoring the dhuafa, reconciling the affluent, thinking, seeking knowledge and alleviating the suffering of others, are greater than the sunna worship.

As the end of this conversation I describe a bit of Ibdu 'Abbas's life: One day Ibn Abbas i'tikaf in mosque Rasuluklblah saww. Then enter a man to say hello and sit down. Ibn Abbas said: "Hi fulan, I see you very sad". The man replied: "Yes, O son of the Prophet's uncle. I have to fulfill the right of the fulan (perhaps debt) for the sake of the oof the owner of this grave (ya'ni Rasulullah saww) -I can not afford it ". "What if I help you talk to him?" He said: "Please if you will do it". Then Ibn Abbas helped release his friend's troubles. His best friend said, "You forgot the 'Itikaf you did'. Ibn Abbas called: "No" But I heard the inhabitants of this qubur say (looks Ib nu Abbas teary-eyed): "Whoever walks meets the needs of his sau, and conveys his wishes, that's better than ten years. And whoever i'tikaf one day, to seek redha Allah, Allah make barrier between him and hell three khandaq, which is far more distance from earth and sky ". (Muhammad Yusuf al Kandahlawi, Hayah ash Shaha bah, Beirut: Dar al-Fikr, 1981, pp. 2: 540) When I point out that muamalah is important, I do not at all take lightly on prayer, shaum, hajj and other ritual / mahdhah services. I just want to put muamalah in the right proportions in the teachings of Islam. I just want to remind you that we should not be content to be Muslim just because we have prayer, shaum, zakat and hajj. Beyond that the problem is still widespread muamalah Overall, the role of Muslims as members of society, compressed in the words of Imam Ali Zainal Abidin, grandson of Rasulullah saww: "Presented on the Internet field by Angku in Tampokdjok Awegeutah, Acheh - Sumatra, so that the conscious human being can correct his mistakes" "The right of your religious brother is to preserve their salvation and compassion, to love the righteous among them, to be weak to them and to try to improve them, to thank those who do good, to refrain from hurting them, to love they are what you love for you, hate them what you hate to you, make the old like your father, the young as your brother, the old lady as your mother and the little children like your son " (Excerpts of the book "Alternative Islam", by Propessor Doctor Jalaluddin Rahmad M.SI)



Billahi fi sabililhaq 
hsndwsp 
at the 
End of the world



Minggu, 18 November 2018

KEBANYAKAN PARA ALIM PALSU GEMAR MENUDUH PENGIKUT AHLULBAYT





MUSHAF FATIMAH DITUDUH SEBAGAI QUR-AN SYI'AH
5 Juli 2013 pukul 17:16
Mushaf Fatimah Quran Syi’ah?

by: syiahali


Artikel Islami:
Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as.
Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

  
Sebagian Muslimin menuduh bahwa mushaf Fathimah az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di ta ngan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian mempersoalkan keberadaan mushaf  itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian Muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran sendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Ada beberapa kemungkinan terkait sikap permusu han ini:

1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.

2. Mereka tidak mau menerima  bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah mushaf.

3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti itu apalagi dirinya.

4. Mereka berpikir bahwa mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu, mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan malaikat Jibril kepada Sayidah Fathimah sepeninggal ayahnya. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.(1)

Abu Basyir berkata, “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata, ‘Apa mushaf  Fathimah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah! Tidak satu katapun dari al-Quran ada di dalamnya.(2)

Hadis ini menjelaskan  bahwa mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran dan tidak satu katapun, namun dari sisi kandungan dan topik, kendati satu katapun dari zahirnya al-Quran tidak tampak disana.

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu untuk apa mushaf Fathimah itu dan ba gaimana memahami hadis berikut ini:

Allamah Majlisi menjelaskan, “Iya memang al-Quran demikian, tetapi mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang  anda maksud adalah lafad zahirnya al-Quran, dan itu tidak ada dalam mushaf  Fathimah.(3)

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya mushaf  Fathimah? Sejak kapan ia ada? Mushaf ini mencakup pem bahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjela san berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya adalah Sayidah Fathimah, maka Jibril berkata demiki an,  “Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan ka mu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku”.(4)

Suatu malam, Sayidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata, “Bukankah Maryam; putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?” Para malaikat menjawab, “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir.(5)

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan me reka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.
2. Istri Imran; ibu Nabi Musa dan Maryam as.
3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.
4. Sayidah Fathimah as.(6)

Ketika Rasulullah Saww sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayidah Fathimah as bertanya, “Siapa?”

Ia menjawab, “Aku orang asing. Aku punya pertanyaan kepada Rasulullah. Apakah Anda mengizin kan saya untuk masuk?”

Sayidah Fathimah menjawab, “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan.”
Ia pergi dan beberapa waktu kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu sambil berkata, “ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”

Pada saat itu Rasulullah Saww bangun dan berkata kepada putrinya, “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”
“Tidak, ya Rasulullah!” jawab Fathimah as

Beliau bersabda, “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan dan menghapus kelezatan duniawi. Ia adalah malaikat maut! Demi Allah! Sebelum aku, ia tidak pernah meminta izin dari seorangpun dan sepeninggalku ia juga tidak akan meminta izin dari seorangpun. Karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayidah Fathimah berkata, “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”
Kemudian malaikat maut masuk bagaikan angin semilir seraya berkata, “Assalamu Ala Ahli Baiti Rasulillah!”(7)

Munculnya Mushaf Fathimah.
Imam Shadiq as berkata, “Sepeninggal Rasulullah Saw, Sayidah Fathimah as hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesyahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah mushaf sehingga disebut sebagai mushaf Fathimah”.[8]

Poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah as.
Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah.
Imam menjelaskan kandungannya:

1. Tentang berita sekarang dan kabar yang akan datang sampai Hari Kiamat.
2. Tentang berita langit dan nama-nama malaikat langit.
3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah Swt.
4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
5. Nama-nama seluruh orang Mukmin dan Kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
7. Jumlah orang-orang Mukmin dan Kafir setiap kota.
8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.(9)

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.
Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayidah Fathimah. Imam Baqir menjawab, “Sayidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.(10) (IRIB Indonesia)

*) Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Mohammad Hassan Amani.

Catatan:
1. Lisanul Arab, jilid 10 kata Shahafa dan Mufradat Raghib.
2. Ringkasan hadis, Ushul Kafi, jilid 1, hal 239, Bashair ad-Darajat, hal 151 dan Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.
3. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 40.
4. Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36
5. Ibid.
6. Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336, penerbit Intisyarat Allamah.
7. Ibid.
8. Lihat: Ushul Kafi, jilid 1, hal 240,  Bashair ad-Darajat, hal 157, Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282 dan Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80, jilid 26, hal 44-46 dan 48 dan jilid 47, hal 271.
9. Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.
10. Ibib, hal 292.


Kata “mushaf” kini sering difahami sebagai Al Qur’an; padahal dari segi bahasa artinya “sekumpulan lembaran di antara dua sampul” yang kini kita sebut buku. Oleh karena itu, Mushaf Fathimah adalah buku yang beliau miliki, yang mana riwayat-riwayat Ahlu Sunah pun sering menjelaskannya pula. Misalnya, para perawi seperti Ubay bin Ka’ab meriwayatkan bahwa ada sebuah buku yang dimiliki oleh Fathimah Azzahra. Jadi tuduhan bahwa Syiah memiliki Qur’an lain yang disebut Mushaf Fathimah, adalah tuduhan buta. Karena sama sekali tidak terbukti bahwa buku itu adalah Al Qur’an, apa lagi Qur’an yang dianut Syiah.

Mengenai buku apakah itu, dalam riwayat-riwayat Syiah juga banyak keterangan yang didapat. Misalnya tentang kandungan, volume, bagaimana dan kapan buku itu ditulis, dsb. Berdasarkan hadits-hadits tersebut, dapat dinyatakan bahwa buku itu mengandung hal-hal seperti wasiat Fathimah Azzahra, berita tentang musibah-musibah yang akan menimpa anak cucunya kelak, berita tentang peristiwa-peristiwa yang kelak akan terjadi, dan juga kabar mengenai raja-raja dan para penguasa yang akan memimpin di muka bumi. Disebutkan pula buku itu menjelaskan seluruh halal dan haram yang ada di dunia ini.

Bagaimana dan kapan buku itu ditulis? Ada riwayat yang menjelaskan: “Rasulullah saw menjelaskan hal-hal tertentu dan Imam Ali menulisnya.” Lalu jika demikian, mengapa disebut Mushaf Fathimah? Jawabannya karena buku itu disimpan oleh beliau. Ada juga yang mengatakan karena sebagian informasi yang tertulis dalam buku itu sampai ke telinga Imam Ali melalui perantara Fathimah.

Riwayat lainnya menjelaskan bahwa sepeninggal Rasulullah, Fathimah Azzahra terpuruk dalam kesedihannya. Allah mengutus malaikat untuk menemaninya, berbicara dengannya dan memberi berbagai macam berita seperti kedudukan ayahnya di alam sana, dan juga masalah-masalah lainnya; yang akhirnya semua itu disampaikan oleh beliau kepada Imam Ali dan Imam menuliskannya.[1]

Hanya saja timbul pertanyaan mengenai yang terakhir ini, karena kita meyakini bahwa dengan diutusnya Rasulullah, setelahnya tidak ada lagi wahyu yang diturunkan kepada manusia. Jawabannya, apa yang terjadi pada Fathimah Azzahra bukanlah diturunkannya wahyu, namun pembicaraannya dengan malaikat yang diutus Allah. Sebagaimana kita membaca dalam Al Qur’an bahwa seringkali manusia memiliki hubungan dengan malaikat, seperti yang kita dengar tentang Maryam [2]; Tuhan juga pernah berkomunikasi dengan ibu nabi Musa [3]. Oleh karena itu, tidak mustahil jika seandainya terjadi komunikasi antara Fathimah Azzahra dengan malaikat yang diutus Allah. Yakni, seusai kenabian Rasulullah saw, terputuslah hubungan antara Tuhan dengan manusia sebagai nabi, bukan terputusnya hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya sama sekali.

Di manakah Mushaf Fathimah saat ini? Berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai ke tangan kita, Mushaf Fathimah diwariskan turun temurun oleh Ahlul Bait dan berdasarkan kitab itu para Imam menjelaskan hukum-hukum syar’iy dan memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Saya mengingatkan, akhir-akhir ini ada buku yang bernama Shahifah Fathimah Azzahra. Perlu diketahui bahwa buku itu bukanlah Mushaf Fathimah, melainkan hanya buku yang mencakup doa-doa Fathimah Azzahra.

Rujuk:
1. Biharul Anwar, jilid 26; Tadwn As Sunnah Asy Syarifah, halaman 77.
2. Ali Imran: 42-45
3. Al Qashash: 7

Tahrif Al-Qur’an.
Selama ini isu tentang tahrif (perubahan dalam arti penambahan atau pembuangan ayat) pada Al-qur’an selalu dituduhkan kepada syi’ah, dan hal ini telah dibantah oleh ulama syi’ah sekarang. Padahal banyak riwayat pada ahlusunnah yang menyiratkan adanya tahrif Al-qur’an, seperti berikut :

1. Ibnu Majah meriwayatkan dari A’isyah, yang mengatakan bahwa Ayat Rajam dan Ayat Radha’ah yang ia simpan di bawah ranjang telah dimakan kambing dan tidak ada lagi dalam Al-Qur’an.

Lihat :
a. “Ta’wil Mukhtalaf Al-hadits” oleh Ibn Qutaibah, hal. 310.
b. Musnad Ahmad, jilid 6, hal. 269.
dll.


2. Aisyah mengatakan : “Pada masa Nabi, Surat Al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Utsman menulis mushaf ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang”
Ref. ahlusunnah :
1. Suyuthi, dalam “Al-Itqan”, jilid 2, hal. 25.
2. Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.
3. Musnad Ahmad, jilid 5, hal. 132.
dll.

Seperti kita ketahui bahwa surat Al-Ahzab yang ada di mushaf sekarang ini adalah 73 ayat. Berarti menurut riwayat tersebut ada 127 ayat yang hilang.

3. Umar bin Khottob mengatakan : “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah-nambah ayat ke dalam Kitabullah, akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri”

lihat :
a. Shohih Bukhori bab “shahadah indal hakim fi wilayatil Qadla”.
b. “Al-itqan” oleh Suyuthi, jilid 2, hal. 25 dan 26.
c. Nailul Authar, kitab hudud ayat rajam, jilid 5, hal. 105.
d. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 260.
e. “Hayatus Shohabah” oleh Kandahlawi, jilid 2, hal. 12.
dll.


Bila anda belum tahu mengenai ayat rajam, berikut bunyinya :


“Idzaa Zanaya Syaikhu wa Syaikhotu Farjumuuhuma Al-battatan Minallaahi Wallaahu ‘Aziizun Hakiim”
lihat :
a. Suyuthi, dalam “Al-Itqan”, jilid 2, hal. 25.
b. Abdur Rozaq, dalam “Mushannif”, jilid 7, hal. 320.
c. Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.
Dan ayat rajam ini tidak ada pada mushaf Al-qur’an yang kita pegang sekarang ini.
Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat ahlusunnah yang menunjukkan adanya tahrif pada Al-qur’an.
Namun seperti yang saya katakan, semua riwayat tentang adanya tahrif pada Al-Qur’an, telah dibantah oleh ulama syiah yang bernama Syekh Rasul Ja’farian, dalam bukunya “Ukdzubah Tahrif Al-Qur’an Baina Syi’ah Wa Sunnah”, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Menolak Isu Perubahan Al-Qur’an”, penerbit Pustaka Hidayah, Jakarta. Saya sarankan anda membaca buku ini.
Tulisan ulama syi’ah tersebut membantah semua riwayat, baik yang bersumber dari ahlusunnah maupun yang bersumber dari ulama syi’ah terdahulu. Sehingga kesimpulannya, ulama syi’ah sekarang seperti Syekh Rasul Ja’farian, Ayatullah Borujerdi, Imam Khomeini, dan lain-lain, berdasarkan penelitian mereka, menolak adanya tahrif pada Al-qur’an.

Salah satu yang menjadi dasar penolakan ulama syi’ah sekarang tentang tahrif, adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mendasari penolakan terhadap tahrif pada Al-Qur’an, yaitu :

1. [Q.S. 15:9], berbunyi :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”.

2. [Q.S. 41:41-42], berbunyi :
“….Dan sesungguhnya Alqur’an itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Yang ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.

Berikut saya kutipkan pernyataan beberapa ulama syi’ah sekarang (selain Syekh Rasul Ja’farian) tentang penolakan terhadap riwayat tahrif pada Al-Qur’an :

1. Allamah Syahsyahani mengatakan tentang hadits tahrif, yaitu :
“..Hadits-hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits mutawattir yang lebih kuat dan sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, akal sehat dan kesepakatan”.

2. Imam Khomeini mengatakan tentang hadits tahrif, yaitu :
“Lemah, tidak pantas berdalil dengannya”.

dan masih banyak lagi yang lain.
Berikut saya nukilkan juga ucapan seorang ulama besar ahlusunnah, yang bernama Al-Hindi : “Sesungguhnya Al-Qur’an Al-Majid, di kalangan jumhur Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Dan apabila ada juga diantara mereka yang mengatakan adanya pengurangan pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu mereka tolak dan tidak mereka terima. “

lihat :
Al-Hindi, dalam “Idhharul Haq Haulasy Syi’ah Wal Qur’an”, jilid 2, hal. 128.

Tetapi berbeda dengan ulama ahlusunnah, yang tidak pernah membantah terhadap riwayat-riwayat tentang tahrif yang ada pada kitab-kitab ahlusunnah sendiri sebagaimana yang telah saya nukilkan di atas.

Dan pada pernyataan Sayyid Al-Khu’i (yang anda kutip) tidak berbicara tentang tahrif, melainkan beliau berbicara tentang adanya ayat yang letaknya salah, maksudnya adalah bahwa harusnya ayat tersebut berada pada tempat yang lain. Sebagai contoh pada [Q.S. Al-Maidah 3], pada awal ayat membahas maudhu’ (subyek) tentang makanan yang halal-haram, tetapi tiba-tiba maudhu’ ayat berubah menjadi “Pada hari ini orang-orang kafir

berputus asa…….ku ridloi Islam menjadi agamamu”, kemudian dilanjutkan lagi dengan maudhu’ tentang makanan yang halal-haram. Di sini jelas terlihat adanya maudhu’ yang tidak sesuai pada rangkaian ayat tersebut. Kesalahan penempatan atau penertiban ayat adalah bukan tahrif, karena tidak terjadi penambahan atau pembuangan ayat. Ini yang mesti anda fahami.

Sayyid Al-Khu’i TIDAK PERNAH menyetujui pendapat adanya tahrif pada Al-Qur’an. Lihat kitab beliau yang berjudul “Al-Bayan Fi Tafsiril Qur’an”.

Dalam sejarah pengumpulan Al-Qur’an, maka ada banyak sekali mushaf, seperti seperti mushaf Ubay bin Ka’ab, mushaf Utsman, mushaf Ibnu Zubair, mushaf A’isyah, mushaf Ali, dll.

Ref. ahlusunnah :
1. Abu Dawud, dalam “Mashohif”, hal. 51-93.
2. Ibn Abil Hadid, dalam “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 1, hal. 27.
3. Ibn Sa’ad, dalam “Thabaqat Al-Kubra”, jilid 2, hal. 338.
dll.


Dan yang sampai pada kita sekarang ini adalah mushaf Utsman. Karena Utsman tidak ma’sum, maka bisa saja terjadi kesalahan peletakan atau penertiban ayat pada Al-Qur’an. Namun, sekali lagi, hal itu BUKAN tahrif. Syekh Abdurrahim Tabrizi TIDAK PERNAH mendukung pendapat tentang adanya tahrif Al-Qur’an. Lihat kitab beliau yang berjudul “Alaur Rahim”. Sehingga, pasti telah terjadi pemotongan kalimat beliau pada saat anda mengutipnya. Atau anda mungkin hanya mengutip dari kitab-kitab yang anti syi’ah, yang penuh dengan kebohongan dan kepal suan.

1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an ?
Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur’an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah.


Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur-an diterima maka Hadith sahih Nabi Muham mad saww yang bermaksud, ”Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur-an dan Ahl Baytku/Ittrahku,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur-an yang diwasiatkan oleh Nabi saww untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka. Lagipun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif.

Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang peruba han ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbedaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9),: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebe narnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAW: “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5].

INILAH YANG DAPAT KULAKUKAN UNTUK MEMBELA KAUM MUSTADH’AFIN INDONESIA, WEST PAPUA DAN ACHEH – SUMATRA





 SEMUA RASUL ALLAH KECUALI ADAM
DIUTUS UNTUK MEMBEBASKAN KAUM MUSTADH’AFIN
DARI BELENGGU YANG MENIMPA KUDUK-KUDUK MEREKA
. TUGAS INI DITERUSKAN PARA IMAM DAN PARA ULAMA WARASATUL AMBYA’
SEDANGKAN PARA BAL’AM BERSEKONGKOL DENGAN PENGUASA DESPOTIK UNTUK MENINABOBOKKAN KAUM MUSTADH’AFIN DI SELURUH DUNIA

Angku di Tampokdjok, Awegeutah
Acheh – Sumatra
Di
Ujung Dunia


note: Literatur ini ditulis sebelum Ahok 
difitnah dan dimasukkan dalam penjara
oleh persekongkolan para Bal'am/ulama 
palsu, para reman berjubbah dan para ha
kim amatiran

Bismillaahirrahmaanirrahiim:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan jangan lah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (TQS al-Baqarah [2]: 208-209).



Mari Kita ber-Amarmakruf dan Nahi Mungkar di Indonesia

Darimana kita mulai?
Dari kemanusiaan.

Ada 2 kutub kemanusiaan di Dunia sejak Allah menjadikan WakilNya di muka Bumi yaitu kutub Habil dan kutub Qabil. Kenapa kita musti mulai dari Habil dan Qabil? Sebab kaum Mustadhafin terkecoh pikirannya oleh penampilan manusia yang berpakaian Islam tetapi berhati Iblis. Mereka menggunakan ayat-ayat Allah sekedar untuk mengelabui kaum Mustadhafin hingga terpana dengan ajaran agama yang dibawa para Ulama gadongan yang bercokol di lembaga MUI.

Lembaga Bal-‘am tersebut mulai zalim pada zaman Suharto untuk melanggingkan kekuasaannya. Justeru itulah Kekuasaan Suharto lama bertahan disebabkan mendapat support kuat dari para Bal’am. Qabil ala Suharto dilengserkan Amin Rais cs tetapi sayangnya Amin Rais tidak cukup pintar dalam berpolitik dan Agamanyapun cendrung masuk perangkap para Bal’am. Akibatnya walaupun Suharto sudah lengser, persekongkolan Fir’un, Karun, Hamman dan Bal’am masih saja bertahan hingga kaum Mustadhafin tetap tidak terbebaskan dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sayang Amin Rais sendiri di zaman Jokowi yang sedang meniti jejak Habil, berseberangan sepakter jang dengan nya.

Salah satu pengikut Qabil yang sangat kental paska Suharto adalah Yudoyono. Dizamanya KPK yang bertugas untuk memberantas Korupsi, diancam dengan penjara dan bahkan dihabisi dengan rekayasa. Antasari Azhar direkayasa hingga masuk penjara, demikian juga Abraham Samad tidak luput dari sandiwara yang dimainkan  Yudhoyono, walaupun kebanyakan kaum mustadhafin belum mampu mendeteksinya. Insya Allah mereka akan memahaminya saat Antasari Azhar membuka kedok Yudhoyono secara transparan. Alhamdulillah kita sudah memahaminya sebelum Antasari membongkarnya disebabkan sepakterjang dari persekongkolan Firun, Karun Hamman dan Bal’am telah lama kita dalami via Ideolog-ideolog yang brilliant, dimana mereka menimba ilmu dari Abu Dzar Ghifari, Salman Al Farisi dan Al Miqdad (baca Sahabat Rasulullah yang paling setia).

Sejak terbunuhnya putra Nabi Adam yang bernama Habil, Agama Nabi Adam dipelintir oleh Qabil yang durhaka. Qabil pembunuh manusia di awal sejarah kemanusiaan merekayasa Agama ayahnya hingga pengikutnya meyakini bahwa itulah agama Nabi Adam dan Siti Hawa.  Agama dalam bentuk yang rusak secara horizontal menambah rujam dengan rusak juga secara vertical di zaman Namrud. Lalu Allah menurunkan Nabi Ibrahim untuk meluruskan kembali agamaNya. Setelah Nabi Ibrahim berpulang kerahmatullah, muncullah Fir’un, Karun Hamman dan Bal’am, dimana persekongkolan mereka diabadikan di Mina (Baca Jamaratul ‘ula, Jamaratul Wus’a dan Jamaratul ‘Aqaba), Hamman disatukan dengan Karun. Lalu Allah swt memunculkan Nabi Musa dan Harun untuk meluluhlantak kan sepakterjang Fir’un, Karun, Hamman dan Bal’am). Sayangnya Bani Israel yang diselamat kan Musa dan Harun, dengan mudahnya masuk perangkap Samiri hingga agama Allah dipalsukan kem bali sampai hari ini.

Bal’am inilah yang mempengaruhi manusia agar bekerjasama dengan penguasa Zalim di seluruh dunia. Kita tidak berbicara di negara-negara yang mayoritas penduduknya non Islam tetapi per sekongkolan yang perlu kita ungkap adalah di negara-negara yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, agar kaum mustadhafin sadar bahwa agama Allah yang murni tidak lagi diikuti Penguasa dan ulama Bal’am tetapi agama yang mereka anut adalah agama Qabil. Itulah sebabnya secara ideology mereka disebut manusia Kutub Qabil, bukan manusia Kutub Habil.

Islam dan Negara tidak dapat dipisahkan. Tanpa negara yang benar Agama akan rusak dibawah persekongkolan Penguasa dan Ulama Bal’am. Tanpa Negara yang bebas dari sepakterjang Penguasa Zalim dan Bal’am, kaum mustadhafin akan menjadi menderita di Dunia dan bahkan di Akhirat juga bagi kaum mustadhafin yang mengikuti agama Ulama Bal’am/agama Qabil. Qabil juga mengaku beragama “Islam” tetapi siapapun yang melawan kebijaksanaannya akan dibunuh walaupun sauda ranya sendiri, apalagi orang lain.

Semua Rasul kecuali Adam, diutus Allah untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka (QS,7:157 & QS, 90:12-18). Ulama gadonganlah yang menjauhkan kaum mustadh’afin dari pembendaharaan dunia. Dalam pandangan Islam Murni, Negara adalah milik Rakyat bukan milik penguasa atau pejabat. Justeru itu kekayaan Negara juga milik Rakyat bukan milik penguasa dan pejabat. Disaat kaum mustadhafin dituduh bersalah tidak bekerja dengan rajin oleh kaki tangan penguasa zalim, kebanyakan kaum mustadhafin mengiyakannya tanpa memahami kenapa mereka menjadi malas. Kalau Rasul Allah diutus untuk membebaskan kaum mustadhafin dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduknya, otomatis yang namanya Ulama benaran (Ulama Warasatul Ambia’) juga bertugas untuk membela kaum mustadhafin, bukan seperti Bal’am, bersatu dengan penguasa zalim untuk meninabobokkan kaum mustadh ‘afin.

MUI dizaman Yudhoyono tidak berbeda dengan MUI di zaman Suharto. Kini ketika Jokowi dan Ahok cs mulai menempuh jejak manusia Habil, mereka yang bercokol di lembaga MUI tersebut mulai berseberangan jalan dengan Jokowi dan Ahok cs. Yang paling ketara adalah, ketika Ahok sedang mengikuti "jejak Habil" untuk membebaskan kaum Mustadhafin Jakarta dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Namun lihatlah bagaimana para Bal’am yang bercokol di lembaga MUI, berdaya upaya uantuk memfitnah Ahok hingga berhasil memaksanya berurusan dengan para Hakim atas tuduhan penistaan agama. Andaikata pembaca memiliki sedikit saja ideology Islam mur ni, pastilah anda memahami benarnya literatur "Angku di Tampokdjok Awegeutah" ini.

Disamping sepakterjang para Bal’am tersebut amatilah apa yang sedang terjadi dalam proses pe milihann kepala daerah DKI tahun 2017 ini. Putaran pertama Ahok – Jarot masih unggul dari paslon nomor 1 dan 3, namun yang dilupakan oleh sebahagian penduduk DKI adalah usaha licik tokoh-tokoh yang bekerjasama dengan para Bal’am untuk menggulingkan Ahok via putaran ke 2. Apabila hal ini berhasil, usaha yang sama akan ditujukan kepada Jokowi cs. Apabila sepakterjang mereka berhasil, tamatlah riwayat Indonesia yang sedang menapaki jalam manusia Habil dan kembali Qabil-qabil bergentayangan di seluruh Indonesia, termasuk Papua dan Acheh – Sumatra, negeri Angku di Tampokdjok. Para pecinta kebenaran akan dipaksakan masuk penjara dan para Koruptor tetap lang geng di Nusantara ini tanpa waswas, kecualin tiba saatnya kemunculan Imam Mahdi al Muntazhar dan Nabi Isa bin Maryam untuk memimpin Dunia seluruhnya secara adil. Mungkin saat tersebut kebanyakan kita tidak sempat menyaksikannya disebabkan umur kita sendiri yang sudah berakhir.

Disebabkan Yudhoyono sudah kalah dalam pilkada anaknya, dia mulai menggempur Ahok, bersatu dengan Prabowo yang sama sepakterjangnya dengan Suharto. Rakyat Indonesia dapat melihat di video dibawah ini, bagaimana «pagi-pagi» benar sudah mulai merapatkan barisan dengan calon yang diusung para Bal’am lainnya yaitu Anie Baswedan – Uno. Anies ini memakai peci untuk mengelabui kaum mustadfhafin. Sebagaimana kita katakan sebelumnya bahwa andaikata rakyat Jakarta secara mayoritas mengikuti para Ideolog Islam Murni, pasti sadar bahwa dibelakang Anies yang lugu itu adalah Prabowo, Qabil yang juga memakai peci macam Suharto. Sepertinya mayoritas rakyat Indone sia masih kabur pandangan mereka saat berhadapan dengan Prabowo dan Yudhoyono yang ber bahaya bagi mkaum mustadhafin itu. Justeru itulah kita ingatkan sebagai dakwah untuk membe baskan kaum Mustadhafin Indonesia, West Papua dan Acheh – Sumatra dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka dalam hidupnya. Semoga kaum mustadh’afin dimanapun mereka berada sadar bahayanya mengikuti sepakterjang para Bal’am dengan ideology Qabil, bukan ideology Habil. Apabila mereka sadar Ahok - Jarot pasti menang dan Kaum mustadhafin akan mendapat angin segar, bukan saja di Jakarta tetapi juga West Papua dan Acheh –Sumatra, insya Allah.


Literatur singkat ini kita tutup dengan ayat Allah:
“Orang-orang yang zalim itu kelak akan tahu, 
kemana mereka akan kembali“ (QS, Asy-Syuara: 227)



Sejak jaman Suharto sampai Yudhoyono,
kaum mustadhafin Indonesia berada dalam
permainan para politikus salahmakan obat macam ini
 https://youtu.be/F4kDRTQoOIs

Billahi fi sabililhaq
Angku di Awegeutah Tampokdjok
Acheh – Sumatra

Di Ujung Dunia