Sabtu, 15 September 2018

SANGGUPKAH KITA MEMAHAMI BAGAIMANA PERBEDAAN ANTARA SYIAH IMAMIAH 12 DAN AHLUS SUNNAH?



 

 

SEMOGA CATATAN KECIL INI DAPAT MENJADI MODAL
UNTUK SALING MEMAHAMI
DAN TIDAK LAGI SALING MEMUSUHI
Wan Hadi
MALAYSIA


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Kenapa Ahl-Sunnah Al-Asy’ary^? (Ini hanya guna memudahkan istilah), sebab terdapat beberapa golongan dalam Ahl-Sunnah dalam Akidah mereka hingga taraf saling mengkafirkan, sebagai contoh Imam Syafi’I mengkafirkan siapa saja yang berpaham Mujasimah , sementara Al-Asy’ari menyiratkan sebaliknya, demikian juga Al-Asy’ari mengkafirkan paham Muntzilah dan Murjiyah , sementara Imam Hanafi adalah berpaham Murjiyah.

Mengapa hanya Ahl-Sunnah Al-Asy’ari yang dibandingan?, sebab selalu saja golongan ini yang menolak pe nyatuan Sunnah dan Syi’ah , ketika yang lain mendukung dengan mendahulukan ukhuwah Islamiyah dan Akh lak dibanding Madzhab maka kelompok ini (yang diwakili Wahabi) selalu menolak dengan cara mengkafirkan Madzhab Syi’ah, dan tidak mau kompromi untuk pendekatan antar Madzhab.

Inilah perbedaan pandangan dalam menilai sahabat antara SYi’ah dan Ahl-Sunnah al-Asy'ari.

SYI'AH : Sahabat ada yang baik, ada yang jahat dan ada yang munafiq (berdasarkan nas). Oleh karena itu para sahabat harus dinilai dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saw (yang tidak bertentangan dengan al-Qur'an secara keseluruhan).

Segala bentuk pujian atau celaan dari Allah swt kepada mereka adalah dari Sifat fi'l (sementara), bukan dari Sifat Zat (kekal). Karena disebabkan sifatnya sementara (saat itu) selanjutnya tergantung dari kelakuan/ perbuatan mereka kemudian apakah bertentangan dengan nas atau tidak.

AHL-SUNNAH : Kepatuhan kepada semua Sahabat (Sa'ira Ashab al-Nabi) (al-Ibanah, hlm. 12) kenyataan al-Asy'ari memberikan implikasi:
a) Sahabat semuanya menjadi ikutan. Tidak ada perbedaan di antara Sahabat yang mematuhi nas, dan Sahabat yang bertentangan nas.

b) Mentaqdiskan (mensucikan) Sahabat tanpa menggunakan penilaian al-Qur'an, sedangkan banyak terdapat ayat-ayat al-Qur'an yang mencela perbuatan mereka, karena mereka bertentangan dengan nas (lihat umpamanya dalam Surah al-Juma'at (62): 11).

c) Mengutamakan pendapat sahabat dari hukum Allah (swt) seperti hukum seseorang yang menceraikan isterinya tiga kali dengan satu lafaz, walau menurut al-Qur’an jatuh satu dalam satu lafaz dalam Surah al-Baqarah (2): 229, yang terjemahannya,"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali." Tetapi ketika Khalifah Umar mengatakan jatuh tiga mereka mengikuti (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137), Ahl-Sunnah al-Asya'irah menerimanya dan dijadikannya "hukum" yang sah sekalipun bertentangan nas (al-Farq baina l-Firaq, hlm. 301).

d) Mengutamakan Sunnah Sahabat dari Sunnah Nabi Saw seperti membuang perkataan Haiyy 'Ala Khairil l-'Amal di dalam azan dan iqamah oleh khalifah Umar, sedangkan pada waktu Nabi hal itu merupakan sebagian dari azan dan iqamah. Begitu juga Khalifah Umar telah menambahkan perkataan al-Salah Kherun mina l-Naum (al-Halabi, al-Sirah, Cairo, 1960, II, hlm. 110).

e) Kehormatan Sahabat tidak boleh dinilai oleh al-Qur'an, karena mereka berkata: Semua sahabat adalah adil (walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saww).

f) Menilai kebenaran Islam adalah menurut pendapat atau kelakuan Sahabat, dan bukan al-Qur'an dan Sunnah Nabi Saww. Mereka berkata kebenaran berada di lidah Umar. Karena itu mereka berpegang kepada pendapat Khalifah Umar yang mengatakan dua orang saksi lelaki di dalam talak tidak dijadikan syarat jatuhnya talak. Sedangkan Allah (swt) berfirman dalam Surah al-Talaq (65): 3, terjemahannya," dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil." Mereka juga berkata," Iman Abu Bakr jika ditimbang adalah lebih berat dari iman umat ini." Sekiranya iman khalifah Abu Bakr itu lebih berat dari iman keseluruhan umat ini termasuk iman Umar dan Uthman, kenapa tidak dijadikan kebenaran itu pada lidah Abu Bakr? Di tempat yang lain mereka berkata," Nabi Saww tidak segan kepada Abu Bakr dan Umar tetapi beliau malu kepada Uthman." Pertanyaannya, kenapa Nabi Saww tidak malu kepada orang yang paling berat imannya di dalam umat ini? Dan kenapa Nabi Saww tidak malu kepada orang yang mempunyai lidah kebenaran? Pendapat-pendapat tersebut telah disandarkan kepada Nabi Saww dan ianya bertentangan nas dan hakikat sebenar, karena kebenaran adalah berada di lidah Nabi Saww dan al-Qur'an.

g) Meletakkan Islam ke atas Sahabat bukan Rasulullah (Saww.), mereka berkata: Jika Sahabat itu runtuh, maka runtuhlah Islam keseluruhannya lalu mereka jadikan "aqidah" , padahal Sahabat sendiri berkelahi, caci-mencaci dan berperang sesama mereka.

h) Mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahli Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309), sekalipun bertentangan dengan nas, karena "bersepakat" dengan Sahabat adalah menjadi lambang kemegahan mereka. Mereka berkata lagi:"Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersepakat atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama'ah (Ibid, hlm.304). Karena itu Ahlu l-Sunnah adalah mazhab yang mementingkan "persetujuan/ kesepakatan" dari Sahabat sekalipun Sahabat kadang bertentangan dengan nas.

i) Mempertahankan Sahabat sekalipun Sahabat bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi saww dengan berbagai cara , Jika seorang pengkaji ingin mengetahui kedudukan sebenarnya tentang sahabat itu sebagaimana dicatat di dalam buku-buku muktabar, mereka berkata:" Ini adalah suatu cacian kepada Sahabat sekalipun hal itu telah ditulis oleh orang-orang yang terdahulu." Mereka berkata lagi:"Kajian tersebut adalah bahaya dan merupakan bara pada "aqidah" mereka, jangan dibiarkan hal itu menular di dalam masyarakat." Nampaknya mereka sendiri tidak dapat menilai bahan-bahan ilmiah sekalipun mereka berada di institusi-institusi pengajian tinggi. Sebaliknya apabila bahan-bahan ilmiah yang mencatatkan sahabat tertentu yang melakukan perkara-perkara yang bertentangan al-Qur'an, mereka menganggapnya pula sebagai cerita dongeng. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sahabat sebagai aqidah mereka walaupun hal itu bukanlah dari rukun Islam dan rukun Iman!

SYI'AH : Memihak kepada Sahabat yang benar di dalam semua urusan/ perkara.

AHL-SUNNAH : Tidak memihak kepada semua sahabat jika terjadi pertengkaran atau peperangan di kalangan mereka (al-Ibanah, hlm. 12; al-Maqalat, II, hlm. 324).

Karena itu pendapat Ahl-Sunnah al-Asy'ari adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) dalam Surah al-Hujurat (49):9, yang terjemahannya, "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah,"

Dan juga bertentangan dengan firmanNya dalam Surah Hud (11): 113, terjemahannya," Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka." Karena itu pendapat al-Asy'ari adalah bertentangan dengan nas karena tidak ada pengecualian di dalam mendukung kebenaran.


Wan Hadi
MALAYSIA

............ ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......... ......
Sabda Rasulullah saww: "Wahai putraku al-Husein, dagingmu adalah dagingku. dan darahmu adalah darahku, engkau adalah seorang pemimpin putra seorang pemimpin dan saudara dari seorang pemimpin, engkau adalah seorang pemimpin spiritual, putra seorang pemimpin spiritual dan saudara dari pemimpin spiritual. Engkau adalah Imam yang berasal dari Rasul, putra Imam yang berasal dari Rasul dan Saudara dari Imam yang berasal dari Rasul, engkau adalah ayah dari semua Imam, yang ke semua adalah al- Qo'im (Imam Mahdi)." (14 Manusia Suci Hal 92)

Salman al-Farisi r.a. berkata:"Aku menemui Rasulullah saww, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: "Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi." (al-Ganduzi, Yanabi’ al Mawaddah)

Billahi fisabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia

ANTAR "SHIRATULMUSTAQIM MURNI DAN SHIRATULMUSTAQIM PALSU"



  


IMAGINE
Hari ini (Jum'at), saya berkhutbah disuatu mesjid, Acheh-Sumatra dengan judul: "TEMPELEKAN ALLAH SWT", berdasarkan ayat-ayat dari surah Yasin:
IMAGINE
UROENJOE (DJUM'AT), LON KHUTBAK BAK SABOH MEUSEUDJID DI ACHEH - SUMATRA NJENG DJUDULDJIH :"TEUMIMPLAK ALLAH SWT", MEUASAI DARI AYAT-AYAT SURAH YASIN:




"Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam agar supaya kamu tidak mengikuti (langkah) syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu"(QS,36:60). Dan tundukpatuhilah kepadaKu (ikutilah Aku). Inilah jalan yang (selurus)-lurus(nya) (QS, 36:61). Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).(QS,36:62). Masuklah (kamu) ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya (QS, 36:64). Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS, 36:65)

"Ken kalheueh lon peugah bak gata hai aneuk Adam supaya  bek taikot (langkah) sjaithan? Sesungguhdjih sjaithannjan nakeuh musoh njeng njata bagi gata.  Taikotkeuh Lon, njankeuh djalan njeng siluroih-luroihdjih (siteupat-teupatdjih). Sesungguhdjih sjaithannjan kalheueh dipeusisat seubahagian le dari gata. Maka peuekeuh hana taseumike? Njoekeuh nuraka Jahannam njeng borodjeh gata diantjam ngennjan. Tatamengkeuh gata dalamdjih urornjoe diseubabkan gata borodjeh taingkar. Bak uroenjoe teutop abah awaknjan, djaroe dan gaki dieksaksi terhadap peue njeng borodjeh awaknjan kreudjakan (Q.S, 36: 60 s/d 65)


Fokus saya adalah "waani'buduuni, haaza shiratum mustaqim". (Ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus). Ketika kita buka kamus bahasa Hindunesia, "A'buduni" diterjemahkan dengan "Sembahlah aku". Definisi daripada sembah adalah menempelkan dahi pada objek yang disembah. Kata sembah adalah khasnya bahasa Hindu dan Budha atau bhs Sangskerta (bhs Jawakuno) Ketika orang Hindu atau Budha beribadah mereka menamakan dengan sebutan "Sembahyang", yang berarti "Sembah Dewa". Dalam kamus bahasa Hindunesia juga dijelaskan Sembahyang samadengan "Sembah Hiyang", Hiyang samadengan Yang, samadengan Dewa. Hal ini lebih jauh dapat kita pelajari pada sila pertama dari Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini mereka maksudkan tuhan Hiyang Maha Esa. "Yang" disitu bukan kata sambung, sebab dituliskan dengan huruf besar. (keterangan yang lebih jelas baca disini): http://achehkarbala.blogspot.no/2009/06/tak-ada-satu-bahasapun-yang-mampu.html

Fokuslon nakeuh "waani'buduni, haaza shiratum mustaqim". (Taikotkeuh Lon, njankeuh dja lan njeng siluroih-luroihdjih). Meunje tabuka kamus basa Hendon, "a'buduni" diterdjemah kan ngen "Seumahkeuh Lon". Definisi daripada "seumah" nakeuh peudjab dhoe bak "obdjek" njeng diseumah. Kata "seumah" nakeuh khasdjih basa Hindu dan Budha atawa basa Sangskerta (basa Jawa kuno). Awak Hindu dan Budha ikheun "Seumayang" watee di'ibadat. Ma'nadjih "seumah Dewa". Lam kamus basa Hendon didjeulaihkan tjit, Seuma yang saban ngen "Seumah Hiyang". Hyang saban ngen Yang, saban ngen Dewa. Hainjoe leubehget djeuet tanjoe peuladjari (meureunoe) bak sila phon dari Pancasila: "Keutuhanan Yang Maha Esa". Maksud awaknjan, "Tuhan Hyang Maha Esa". Yang disinan ken kata sambong, seubab dituleh ngen huruf rajek (capital leter). (Keuteurangan njeng leubeh djeulaih neubatja disinoe: http://achehkarbala.bologspot.no/2009/06/tak-ada-satu-bahasapun-yang-mampu.html


Orang Sunni menuduh orang Syi'ah menyembah batu. Lalu orang Syi'ah menjawab tuduhan: "kalian juga menyembah tikar mushalla. Apa bedanya sih antara batu dan tikarmushalla?" Kalau kami menaruh tanah Karbala diatas tikar Mushalla adalah berdasarkan hadist Nabi: "Sujud tidak sah, kecuali diatas tanah". Justeru itulah kami mengambil berkah dengan tanah Karbala (tanah tempat Syahidnya Imam Hussein, cucu kesayangan Rasulullah saww, sebagai ketua pemuda  di Surga). So secara tidak langsung kami telah menghubungkan sejarah "benang merah" tersebut, hidup subur dikalangan kami pecinta ahlulbayt.

Awak Sunni djitudoh awak Syi'ah seumah batee. Maka awak Syi'ah geudjaweueb tudohannjan: "Awak droeneuhpih neuseumah tika mushalla, peue bida, sih antara batee ngen tika mushalla?" Meunje kamoe puduek tanoh Karbala (tanoh teumpat syahid Imam Hussein, tjutjo keusajangan Rasulullah saww, seubagoe keutua peumuda di Sjurga). Djadi seutjara hana langsong kamoe kameuhubong seudjarah "beuneung mirah" njan udepnjata dikalangan kamoe peutjinta Ahlulbayt.

Darimana munculnya persoalan diatas?
Dari kelirunya ketika menterjemahkan "a'budu" kepada menyembah".   Arti yang tidak melenceng daripada "a'budu" adalah: "memperhambakan diri, mengikuti atau tundukpatuh".

Pat teuka su-eue diwateueh? (peu sabab teuka masalahnjan?)
Dari kekeliruan diterdjemahkan "a'budu" keu "seumah". Arti njeng hana meulentjeng dari a'budu nakeuh "memperhambakan diri, mengikuti atawa tundokpatoh".

 Tidak seorangpun mampu menyembah Allah swt. Jangankan menyembah, melihat saja manusia tidak mampu. Ingatlah peristiwa Nabi Musa as minta Allah memperlihatkan Diri kepadanya. Hal ini dapat disaksikan dalam Qur-an surah al A'raf ayat 143.

Hana meusidroepih mampu seumah Allah swt. Bektakheun seumah, takalon manteng han sanggop. Natingat pristiwa Nabi Musa as lakee kalen Allah? Hainjoe djeuet tasaksikan lam Qur-an surah al 'A'raf ayat 143: "....."

Ketika Nabi masih di Dunia, pernah duduk diatas pasir bersama para sahabat. Beliau membuat sebuah garis lurus dengan ranting yang ada ditangannya. Beliau berkata: "Ini adalah jalanku yang lurus" (Shiratulmustaqim). Lalu beliau membuat sebuah garis lagi yang juga lurus tetapi besar dan didalamnya beliau buat garis kecil berkelok-kelok. (Macam dahan petai yang lurus, dililit oleh tumbuhan yang menjalar). Kata Rasulullah saww selanjutnya, itu adalah jalan syaithan (memang lurus juga tetapi bagi orang yang benar imannya mampu membedakan dengan jalan yang lurus murni) (Shiratul mustaqim). Sesekali kurva kelihatan muncul atas-bawah, persis macam tumbuhan menjalar, lagi melilit pohon petai.

Watee nabi manteng di donja, pernah neuduek diateueh anoe ngen para sahabat. Nabi neupeuget saboh gareh teupat (luroih) ngen ranteng njengna bak djaroeneuh. Nabi neukheun: "Njoe nakeun djalanlon njeng teupat" (Shiratulmustaqim). Lheuehnjan Nabi neupeuget saboh garektreuk njeng teupattjit tapi rajek dan didalamdjih Nabi peuget garek ubeut meuwet-wet (lagee dheuen peute njeng teupat dipalet le uret). Kheun Rasulullah saww lheuehnjan, njan nakeuh djalan syetan (memang teupattjit tapi bagi ureueng njeng beutei Imangeuh, sanggop geupeubida ngen djalan njeng teupat (luroih) asli) (Shiratulmustaqim). Meudjan-djan kurva deuh, muntjol mijub-wateueh, preuseh uret palet bakpeute.

Setelah kiamat dunia, semua manusia yang tidak mengenal "Shiratulmustaqim" saat didunia, digiring ke dalam Neraka kecuali manusia yang memang pantas mendapat "syafaat" dari Rasulullah dan Ahlulbaytnya.

Lheueh kiamat donja bandum manusia njeng hana geuturi "Siratulmustaqim" watee di donja, geuhila u dalam Nuraka keutjuali manusia njeng memang pantas meuteumeu "Syafaa'at" dari Rasulullah dan ahlulbaytnya.

Ketika Allah memerintahkan petugasNya (Malaikat) untuk memasukkan orang-orang yang hitam muram wajahnya ke dalam Neraka, mereka memohon pada Allah:
1). Ya Allah! Berilah kami kesempatan sekali lagi untuk hidup di dunia, agar kami dapat mentaati Engkau.

Watee Allah Neupeurintah peutugaihNeuh (Malaikat) untok peutameng ureueng-ureueng njeng hitam muram mukageuh u dalam Nuraka, awaknjan meumohon nibak Allah:
1).  Ya Allah! Neubrikeuh kamoe keuseumpatan sigetreuk untok udep di donja, supaja kamoe djeuet meuta'at Droeneuh.

2). Ya Allah! Isteri-isteriku, anak-anakku, (kalau kebetulan isteri atau anaknya termasuk dalam golongan yang putih wajahnya), masukkan mereka kedalam neraka dan masukkan aku kedalam syurga.

2).  Ya Allah! prumoh-prumohlon, aneuk-aneuklon, (meunje keubeutolan prumih atawa aneuk-aneukgeuh teumasok lam golongan njeng puteh rupageuh), Neupeutameng awaknjan lam nuraka dan Neupeutameng lon lam Sjuruga.

3). Ya Allah! Kalau kedua permohonan kami tidak dapat Engkau kabulkan, jadikanlah kami sebagai tanah saja, kami tidak sanggup menahan pedihnya siksaan api neraka.
Pengamat yang mulia ! Betapa sedihnya orang orang yang wajahnya hitam muram pada saat itu. Begitu takutnya api Neraka sampai mereka minta untuk dikorbankan anak atau isterinya, padahal betapa sayangnya mereka kepada isteri dan anaknya saat di Dunia. Dan terakhir sekali sampai mereka mohon untuk dijadikan tanah saja agar tidak terkena azab Neraka. Namun yakinlah apa yang di-Firmankan Allah: "Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, namun merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri...." (QS, 11: 101)


3). Ya Allah! Meunje bandua permohonan kamoe handjeut Neukabulkan, Neupeudjeuet kamoe keu tanoh manteng, kamoe han sanggop meuteun peudeh that siksa Apui Nuraka.


Peungamat njeng mulia! Beutapa seudeh ureueng-ureueng njeng hitam muram mukageuh bak saatnjan. Lageenjan teumakot apui Nuraka sampe geulakee krubeuen aneuk atawa prumoh, padahai that sajang awaknjan keu aneuk dan prumoh watee di Donja.

Dan keuneulheuehthat awaknjan sampe geumohon beudjeuet keu Tanoh manteng mangat bek keuneng adeuep Nuraka. Tapi beuneujakin peue njeng Neupeugah le Allah lam Qur-an: "Dan Kamoe hana meuanianja awaknjan, tapi awaknjan keudroe njeng anianja droe keudroe......." (QS, 11: 101)

Perhatikanlah sekali lagi bagaimana zalimnya mereka terhadap sesama manusia, ketika mereka memiliki kekuasaan di dunia. Mereka membunuh, menganianya, memperkosa, menghina, mencuri, merampas, merampok dan menipu rakyat jelata sebagaimana sepak terjang militer-militer dalam system yang menzalimi kaum dhuafa atau rakyat akar rumput di seluruh Dunia. Kesemuanya itu akan mendapat balasannya di Akhirat kelak. Mereka termasuk ke dalam golongan yang wajahnya hitam muram, walaupun di Dunia wajah mereka putih dan cantik berseri-seri (nauzu billaahi minzalik).

Neupratikan sigetreuk kiban zalem awaknjan terhadap seusama manusia, watee awaknjan na kuasa di Donja. Awaknjan diseumeupoh mate, ani anja,  zina paksa, peuhina, tjeumeutjue (kropsi), meumaksa, meurampok dan peungeut rakyat djeulata, lagee sipaktreudjang teuntra-teuntra lam system nanggroe njeng peubuet zalem keu kawom njeng hana daya (kawom mustadhafin) atawa rakyat "ukheue naleueng" di rata plosok Donja. Mandumnjan akan meuteumeu meunalah di Akherat teuma. Awaknjan teumasok lam golongan njeng rumandjih hitam muram, bahpih di Donja ruman awaknjan puteh dan lagak meuseri-seri (Neupeudjuoh kamoe ya Allah dari hai njeng lageenjan)

Pada saat mereka memohon agar dijadikan tanah saja, Allah menempelak mereka dengan tempelak yang sangat menyakitkan sebagaimana yang diabadikan Allah swt. dalam surah Yasin yang saya paparkan diawal khutbah: "Bukankah telah kuperintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak tunduk patuh kepada syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu. Dan tunduk patuhlah kepada Ku. Inilah jalan yang selurus-lurusnya. Sesungguhnya syaithan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantarakamu. Apakah kamu tidak berfikir? Inilah Neraka Jahannam yang dulu kamu diancam (dengan nya). Masuklah kamu kedalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan dan kaki Kami minta kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan dahulu" (QS,36: 60-65)

Barakallahu li walakum fil Qur-anil karim, wanah'ani waiyyakum bima fihi minal aayati wazikkril hakim, wataqabbala minini waminggkum tilawatahu, innahu huassamiiul 'alim...

Khutbah ke 2, setelah duduk:

Memang "Shiratul mustaqim" itu diklaim milik mereka oleh semua pemeluk agama. Baik Islam, Nasrani, Yahudi, Hindu, Budha, Konfucu maupun agama lain sebagainya. Kenapa mereka masing-masing mengklaim sebagai milik merekalah "Jalan yanglurus"? Apakah kita harus saling bunuh-membunuh dengan alasan klaim-klaim seperti itu macam sepakterjang "kaum Takfiri" yang lagi populer namanya dewasa ini? 

Jawabnya "Tidak". Kalau kita termasuk manusia yang percaya kepada Allah swt, Dia berkata: "Lakum diinukum waliadin" (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku).

Adalah logik kalau orang Islam mengatakan kecuali Agama Islam, yang lainnya semuanya sesat. Agama-agama lainnya juga logik mengatakan hanya agama mereka yang lurus, yang lainnya semua bengkok.  Inilah yang dinamakan sesuai "kepercayaan masing-masing".

Khususnya bagi kita yang beragama Islam harus mampu menerima seruan Allah untuk berpikir dalam ayat diatas.  Mula-mula Allah menurunkan Nabi Adam untuk memperkenalkan jalan yang lurus. Jalan tersebut akhirnya dibengkokkan olen Qabil, anak Adam sendiri. Lama kemudian Allah memunculkan nabi Ibrahim untuk memperkenalkan kembali jalan yang lurus yang sedang dirusak oleh Namrud. Demikianlah Allah memunculkan Rasul-rasulnya silih berganti untuk memperkenalkan jalanNya yang lurus (shiratalmustaqim). kepada Manusia agar manusia tidak sesat di Dunia ini. Ketika jalan yanglurus ditangan nabi Musa dan Harun dirusak oleh Samiri, Allah memunculkan Nabi 'Isa bin Maryam. Ketika Nabi 'Isa dihadang oleh musuh Allah akibat laporan pengikut Nabi 'Isa sendiri yang munafiq, 'Isa dighaibkan Allah dengan ghaib Kubra sebagaimana Imam Mahdi al Muntazhar, hingga simunafiq tadilah yang kena salib, disangka Nabi 'Isa.

Sebagai penutup Allah memunculkan Nabi Muhammad saww untuk meluruskan kembali jalan lurus yang telah dirusakkan sepanjang sejarah dunia.Dari ini beruntunglah manusia yang memahami Nabi Muhammad dan misi terakhirnya di dunia, namun......

Setelah Nabi Muhammad kembali kehadhirat Allah, dunia lagi-lagi kehilangan penyampai "Shiratulmustaqim".  Memang mereka percaya kepada Nabi Muhammad tetapi tidak percaya kepada orang-orang yang diangkat Nabi sebagai perpanjangan "keimamahannya". Sebahagian orang khawatir kalau mereka menerima Imam Ali sebagai pemimpin mereka paska kewafatan Rasulullah, kepemimpinan akan berkisar sekitar keluarga Rasulullah, dimana mereka sangat ambisius untuk berkuasa. Ironbisnya pendapat mereka yang keliru ini didukung oleh orang ramai. Padahal tidak ada argumen yang mampu mematahkan argumen Rasulullah kecuali mereka itu pasti termasuk orang yang tidak beriman kepada Rasulullah saww. Disinilah yang membuat kita heran, kenapa sampai hari ini penentang kebijakan Rasulullah masih saja mendapat dukungan oleh kebanyakan orang? Kita berdaya upaya untuk memperjelas jalan yang lurus kepada mereka agar mereka tidak masuk Neraka yang paling menyenbgsarakan dan kekal selama lamanya tetapi malah mereka marah kepada kita.

Tidakkah mereka berfikir sebagaimana pesan Allah untuk berfikir diayat diatas dan juga ayat-ayat lainnya bahwa kekhawatiran yang mereka miliki langsung saja diserobot oleh keturunan Abu Sofyan, musuh bebuyutan Rasulullah sendiri.  Kenapa kalau kepemimpinan dari keluarga Rasulullah enggan mereka ikuti sedangkan kepemimpinan dari musuh Rasulullah, justeru mereka dambakan? Itukah namanya yang disebut mu'min? (QS, 2: 8)





Baraqallahu li walakum
walazirullahi akbar .
(angku di Tampokdjok-Awegeutah,
Acheh - Sumatra)

Sabtu, 21 Juli 2018

TEOLOGI PEMBEBASAN ALI SYARIATI: BAGIAN PERTAMA



 
Syahid DR 'Ali Syari'at
 
Syahid DR 'Ali Syari'at


Oleh: DR. Sabara, M. Fil.I
A. Mukaddimah


  Bagi Dia, Tauhid berarti Keesaan (Oneless)
Bagi kita, Tauhid adalah kesatuan (unity)
KepadaNya, Tauhid berarti penghambaan
Kepada kita, Tauhid bermakna pembebasan
Untuk Dia, Tauhid adalah pemujaan tanpa syarat
Untuk kita, Tauhid adalah persamaan tanpa kelas.

 
 Bismillaahirrahmaanirrahiim

Banyak di antara kita yang memiliki kesulitan besar dalam memahami bagaimana Tauhid terkait dengan pembebasan. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kita telah dikondisikan untuk memiliki tingkat keimanan yang terbatas hanya pada taqlid dan ritus, Ibadah keagamaan dan dogma teologis. Iman (keyakinan) kita seperti jubah di dalam masjid. Walhasil, Islam dengan Tauhid sebagai fondasi ajaran menjadi tak bertuah bagi kemanusiaan, jangankan menjadi rahmat, justru Islam sering dijadikan dalih (pembenaran) yang melanggengkan kezaliman (hal yang sejatinya paling dilawan oleh Islam).

 Secara praksis, menurut Hassan Hanafi, teologi yang diyakini secara dogmatik tak mampu menjadi "pandangan yang benar-benar hidup" yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan kongkret manusia. Hal ini dikarenakan penyusunan doktrin teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia. Sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritis dan keimanan praktis dalam umat Islam, yang pada gilirannya akan menghasilkan sikap-sikap moral ganda atau "sinkretisme kepribadian". Fenomena sinkretis ini tampak jelas, menurut Hassan Hanafi, dengan adanya paham keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), Konservatisme dan progresifisme (dalam sosial), serta kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).

Melihat efek regresif dari teologi dogmatik yang hari ini menjadi mainstreem utama dalam khasanah teologi Islam yang dianut oleh mayoritas umat Islam, meniscayakan perlunya digagas suatu konstruk teologi Islam yang mampu menjawab persoalan-persoalan umat Islam, perlu dikonstruk teologi yang mempu memantik spirit, menjadi inspiring, dan menjadi pandangan dunia yang membebaskan umat Islam dari keterjajahan, keterbelakangan, dan keterbodohan. Rekonstruksi teologi Islam adalah satu hal yang sangat urgen dalam rangka pembenahan kondisi umat Islam menuju keadaan yang lebih baik. Teologi islam yang lebih bercorak liberasi (membebaskan) adalah corak teologi yang sangat dibutuhkan dalam menjawab kondisi kekinian umat Islam yang terpuruk pada keterbelakangan dan ketertinggalan dari umat-umat yang lain. Dalam rangka menyusun format kerangka teologi yang bersifat liberasi sangat dibutuhkan penafsiran baru yang rasional dan ilmiah, serta tetap berdasarkan pada nash suci (Alquran dan hadis) sebagai rujukan doktrinal dalam menyusun kerangka teologi yang konstruktif bagi umat Islam.

Menurut Toshio Kuroda, dalam menyusun konstruk teologi yang memiliki relevansi dalam menjawab persoalan-persoalan yang senantiasa muncul dalam perjalanan manusia sepanjang zaman. Didasarkan pada keyakinan bahwa Islam adalah norma kehidupan yang sempurna dan mampu beradaptasi pada setiap bangsa dan setiap waktu. Firman Allah adalah abadi dan universal yang menyangkut seluruh aktivitas dari seluruh suasana aktivitas kemanusiaan tanpa perbedaan apakah ia aktivitas mental atau aktivitas duniawi.

Berdasarkan pernyataan Toshio Kuroda tersebut, dapat disimpulkan bahwa Islam mencakup bidang-bidang keduniaan, mental, dan sekaligus ketuhanan. Dengan demikian teologi (Tauhid) memiliki fungsi vital dalam pemikiran umat Islam, dalam lembaga-lembaga sosial politik Islam, dan dalam peradaban.

Tauhid haruslah bermakna penyatuan atau kesatuan antara dimensi transenden (spiritual) dan imanen (sosial). Antara realitas ilahiyah yang transenden dengan realitas alam dan manusia yang imanen tak memiliki keterpisahan yang kaku sehingga harus diposisikan secara biner. Dalam pandangan Murtadha Muthahhari, konstruksi teologi yang akhirnya menjadi sebuah pandangan dunia (world view) Tauhid yang bersifat unipolar dan uniaxial.

Secara universal, seluruh aspek kehidupan sosial Islam harus diintegrasikan ke dalam "jaringan relasional Islam". Jaringan ini diderivasikan dari pandangan dunia Tauhid, yang mencakup aspek keagamaan dan keduniawian, spiritual dan material, individual dan sosial. Jaringan relasional Islam ini akhirnya teruji dalam bentuk praksis ibadah ritual yang merupakan kewajiban yang mesti dijalankan oleh umat Islam. Selain itu, perlu digagas relasi Tauhid dan pembebasan, implementasi Tauhid dalam konteks penindasan, dan masyarakat seperti apa yang diinginkan dalam konteks Tauhid.

Ali Syari'ati merupakan salah seorang tokoh intelektual muslim abad modern yang concern pada tema-tema pembebasandari agama. Berbasis pandangan dunia Tauhid beliau menjadi propagandis yang membakar semangat anak muda Iran di tahun 1970-an untuk bangkit melawan penindasan rezim Pahlevi. Tak bisa dipungkiri, beliau adalah salah seorang tokoh teologi pembebasan Islam, yang bahkan mempersembahkan nyawanya untuk misinya tersebut.
Biografi Singkat Ali Syari'ati

Ali Syari'ati terlahir dengan nama Ali Mazinani, pada tanggal 24 November 1933 di Mazinan, sebuah daerah dekat kota suci Masyhad, sebuah kota yang dianggap suci oleh para penganut Syiah imamiyah Itsna ‘Asyariyah, karena di kota tersebut dimakamkan imam mereka yang kedelapan, yakni imam Ali bin Musa al-Ridha. Ayah beliau adalah Muhammad Taqi Syari'ati dan ibu beliau bernama Zahrah. Nama Syari'ati sendiri yang kemudian dikenal sebagai namanya, beliau gunakan pertama kali pada paspornya untuk mengelabui petugas imigrasi, sewaktu beliau akan meninggalkan Iran menuju Inggris, pada tanggal 16 Mei 1977 (beberapa hari sebelum beliau meninggal).

Orang tua beliau adalah tokoh masyarakat yang cukup disegani ditengah-tengah masyarakatnya sebagai tokoh spiritual. Meskipun demikian, keluarga Syari'ati tetaplah hidup sederhana selayaknya penduduk desa yang lain. Dari keluarganya inilah Ali Syari'ati membentuk kepribadiannya, mentalitas, dan jati dirinya, utamanya melalui sang ayah yang berperan sebagai orang tua, guru, dan pembimbing spiritualnya. Masa muda Syari'ati dihabiskan dengan belajar, membantu orang tuanya mencari nafkah dan ikut aktif dalam perjuangan-perjuangan politik dan melakukan propaganda menentang rezim Syah Pahlevi yang sedang berkuasa di Iran pada saat itu.

Selain terpengaruh oleh ayahnya, pembentukan jiwa Ali Syari'ati juga cukup terpengaruh oleh kakeknya Akhund Ahmad dan paman dari ayahnya Najib Naysapuri. Dari merekalah Ali Syari'ati kecil mempelajari fiqih, sastra, dan filsafat. Ali Syari'ati cukup mewarisi tradisi keilmuan yang diturunkan dari ayahnya, kakeknya, dan paman ayahnya.tersebut. Hal ini tebukti dengan jejak langkah Ali Syari'ati selanjutnya yang memiliki kecendrungan yang cukup tinggi terhadap berbagai jenis keilmuan dan gerakan sosial keagamaan sebagaiamana ayah, kakek, dan paman ayahnya tersebut.

Syari'ati kecil memulai pendidikan formalnya di sebuah sekolah swasta di Masyhad. Pada saat usianya yang menginjak masa remaja, Syari'ati cukup intens melakukan pengkajian terhadap filsafat, mistisisme, sastra, dan masalah-masalah kemanusiaan.. Ketika memasuki usia dewasa, Ali Syari'ati telah aktif menyibukkan dirinya dalam kegiatan-kegiatan sosial politik keagamaan. Di usianya yang masih terbilang muda, Syari'ati aktif di "Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan" yang didirikan oleh ayahnya.

Pada tahun 1950-1951, ketika usia beliau masih 17 tahun, Ali Syari'ati terlibat dalam gerakan nasionalisme yang dilancarkan oleh

Perdana Mentri Iran, Muhammad Mussaddeq untuk menggulingkan rezim Syah Pahlevi. Setelah Mussaddeq gagal dalam melancarkan kudetanya pada tahun 1953, Ali Syari'ati bergabung bersama ayahnya ikut aktif dalam "Gerakan Perlawanan Nasional" cabang Masyhad yang didirikan oleh Mehdi Bazargan. Akibat gerakannya itu, beliau bersama ayahnya dipenjara selama delapan bulan di penjara Teheran.Masih pada tahun 1950-an ini juga, Syari'ati mendirikan Asosiasi Pelajar di Masyhad dan melakukan gerakan untuk menasionalisasi perusahaan industri minyak Iran.

Pada tahun 1959, Ali Syari'ati lulus sebagai sarjana sastra dari Universitas Masyhad. Selanjutnya pada tahun 1960, beliau mendapat bea siswa dari pemerintah untuk melanjutkan study di Universitas Sorbone di Prancis. Di Prancis inilah Syari'ati tinggal selama lima tahun dan banyak menimba beragam ilmu serta terlibat aktif dalam berbagai gerakan pembebasan. Di Prancis, beliau banyak berkenalan dan berguru pada beberapa filosof  dan ilmuwan terkemuka Prancis, seperti Alexist Carrel, Jean Paul Sartre, Henry Bergson, Frans Fanon, Louis Massignon, Albert Camus, dan tokoh-tokoh pemikir Prancis yang lainnya. Diantara tokoh Prancis yang sangat mempengaruhi pemikiran beliau adalah Alexist Carrel, seorang ilmuwan Prancis. Bahkan beliau menerjemahkan dan mengembangkan buku karangan Alexist Carrel yang berjudul de Prayer kedalam bahasa Arab dengan judul al-Du'a. Diantara tokoh pemikir eksistensialisme yang cukup mempengaruhi pemikiran Ali Syari'ati adalah Jean Paul Sartre, Soren Abeye Kierkegard, dan Nikholas Bordayev. Selain itu Syari'ati juga banyak mengkaji pemikiran-pemikiran Marxisme yang sedang booming pada masa itu di dunia.

Selama di Prancis, beliau aktif dalam gerakan politik pembebasan iran bersama Mustafa Chamran dan ibrahim Yazdi. Di saat yang sama, beliau juga aktif dalam gerakan "Front Nasional Kedua". Selama tinggal di Prancis, Syariati juga ikut aktif dalam gerakan pembebasan Aljazair.Setelah beliau berhasil menyelesaikan program doktoralnya di Prancis, pada bulan September 1964, beliau meninggalkan Prancis dan kembali ke kampung halamannya di Iran.

Sesampainya di Iran, Syari'ati ditangkap dan ditahan selama 1,5 bulan atas tuduhan terlibat aktif dalam gerakan politik melawan pemerintah selama beliau di Prancis. Setelah dibebaskan, beliau kemudian diterima mengajar di Universitas Masyhad. Selain itu, Syari'ati juga mengajar di beberapa sekolah di Masyhad. Karena aktivitas politiknya yang cukup membahayakan, Syari'ati kemudian dikeluarkan dari Universitas Masyhad, dan selanjutnya beliau bersama Murtadha Muthahhari, Husein Behesyti, serta beberapa ulama Syiah yang lain mendirikan lembaga pendidikan Huseiniyah Irsyad, Syari'ati sendiri terlibat sebagai salah satu pengajarnya. Masa antara tahun 1967-1873 adalah masa di mana Syari'ati menyibukkan dirinya untuk mengajar di Huseiniyah Irsyad serta terlibat aktif dalam gerakan-gerakan politik melawan rezim Syah. Selama mengajar di Huseiniyah Irsyad beliau banyak memberikan kuliah yang cukup membakar semangat anak muda Iran untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Akibat kegiatannya ini, akhirnya beliau kembali dipenjarakan selama lima ratus hari oleh pemerintah. Syari'ati baru dibebaskan oleh pemerintah Iran pada bulan Maret 1975, itu pun setelah adanya desakan dari berbagai organisasi internasional serta para tokoh intelektual Prancis dan Aljazair.

Setelah dibebaskan, Syari'ati menyadari bahwa dirinya tidak bebas melakukan aktivitas politik selama tinggal di iran. Akhirnya pada tanggal 16 Mei 1977, beliau meninggalkan Iran menuju ke Eropa. Tujuan pertama beliau adalah singgah di inggris dan selanjutnya hendak ke Amerika Serikat untuk mengunjungi anaknya yang kuliah di sana. Tapi, belum sempat beliau pergi ke Amerika, pada tanggal 19 juni 1977, beliau ditemukan meninggal secara misterius di rumah keluarganya, di Schoumpton, Inggris. Pemerintah Iran(rezim Syah) menyebutkan beliau meninggal akibat serangan jantung, namun dugaan terkuat beliau dibunuh oleh agen SAVAK (agen intelejen Iran).

Karena aktivitas politiknya yang begitu padat dan usia beliau yang cukup singkat, Ali syari'ati hanya sempat menulis dua buku secara khusus, yaitu Hajj (Haji) dan Kavir (Gurun Pasir), selebihnya adalah kumpulan kuliah dan ceramah beliau yang kemudian dibukukan. Selain itu juga sempat menerjemahkan dan menggubah beberapa buku, seperti Abu Dzar, Salman al-Farisi, dan de Prayer karya Alexist Carrel. Telah banyak karya beliau yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pemikiran-pemikiran beliau yang cukup filosofis dan revolusioner telah cukup banyak mempengaruhi pemikiran Islam modern yang berkembang di Indonesia. (Bersambung)

Jumat, 20 Juli 2018

PERJALANAN SYAHID DR ALI SYARI'ATI DALAM PARADIKMA KAUM MUSTADH'AFIN




PARADIGMA KAUM TERTINDAS 

Pengantar Edisi Bahasa Ingris 

oleh 

Hamid Algar


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Rangkaian demonstrasi dan pergolakan akhir-akhir ini menentang rezim diktatorial Syah ternyata telah membuktikan dua faktor yang selama ini sering diabaikan orang. Pertama-tama ialah keyakinan rakyat Iran akan kebenaran ajaran Islam. Adapun faktor kedua ialah kemampuan para ulama di negeri itu dalam mengarahkan aspirasi umat. Sekilas pandang mereka yang pernah mengunjungi kota-kota besar Iran mungkin terkesan oleh pengaruh westernisasi (pem-Barat-an) di sana. Dan bahwa bersamaan dengan itu seolah-olah di sana sedang berlangsung suatu transformasi serta“ de-Islamisasi” yang paling radikal di suatu dunia Islam. Padahal, justru di Iranlah terdapat gerakan yang berakar teramat dalam lagi tangguh, bertujuan untuk merebut kembali hegemoni politik dan sosial Islam.

Pimpinan gerakan ini terutama berada di tangan para ulama Syi’ah. Dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dari golongan Sunni, maka para ulama Syi’ah ini, karena berbagai alasan ― sosial, historis maupun keagamaan ― telah berhasil memelihara kebebasan mereka dari rezim yang sedang berkuasa serta lebih tegas memihak kepada penderitaan rakyat. Tetapi, selain kaum ulama, ternyata terdapat pula suatu kelompok lain yang turut menentukan jalan gerakan tersebut. Kelompok yang dimaksud terdiri dari para cendekiawan dan pemikir. Terutama setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, golongan ini berusaha mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan modern dengan kepercayaan tradisional. Hasilnya ialah berkembangnya suatu idiom Islamiah baru yang mampu melibatkan mereka yang berlatar belakang pendidikan sekular. Menonjol dari kelompok ini ialah Muhandis Bazargan, bekas guru besar Universitas Teheran dan Dr. ‘Ali Syari’ati penulis koleksi ini.

Koleksi buah pikiran Syari’ati berikut didahului dengan riwayat hidup singkat yang disusun oleh seorang yang pernah akrab dengannya. Namun, kiranya masih ada beberapa hal yang patut dicatat. Dia dilahirkan pada tahun 1933 di sebuah desa dekat Sabzavar di tepi gurun Kavir. Yang mendidiknya pertama kali ialah ayahandanya sendiri, Muhammad Taqi Syari’ati, salah seorang ulama Iran terkemuka abad ini. Kemudian dia meneruskan pelajarannya di Masyhad dan sekaligus bermula pulalah karir perjuangan politik, sosial dan intelektualnya. Tahun-tahun menyusul penggulingan perdana menteri Musaddiq ditandai dengan tekanan-tekanan politik yang dilancarkan rezim Syah. ‘Ali Syari’ati sendiri harus mendekam selama beberapa bulan dalam penjara.

Pada tahun 1959 dia meneruskan studinya ke Paris dalam bidang sosiologi. Tetapi di sini pun dia tidak membatasi diri pada kegiatan kemahasiswaan konvensional. Secara aktif dia turut serta dalam organisasi yang berorientasi Islam, menentang rezim Syah. Pada tahun 1964, sepulangnya ke Iran, dia ditangkap. Setelah enam bulan, karena desakan dunia internasional atas pemerintah Iran, dia dibebaskan kembali. Dia dibolehkan mengajar, antara lain di Universitas Masyhad. Tetapi kemudian dia dipaksa ke luar dari universitas itu. Bersamaan dengan itu bermulalah periode yang agaknya paling kreatif dalam hidupnya, meskipun berlangsung singkat. Dia menyampaikan ceramah-ceramahnya di Husainiyah-i Irsyad, suatu pusat Islam di Teheran yang aktif menyelenggarakan pertemuan-pertemuan ataupun ceramah-ceramah Islam dan selalu mendapat kunjungan padat. Dalam ceramah-ceramahnya di Husainiyah-i Irsyad maupun di tempat-tempat lain ‘Ali Syari’ati memperkembangkan teori-teorinya tentang sosiologi dan sejarah Islam. Sebagian tertera pada buku ini. Maka tidaklah mengherankan bila Husainiyah-i Irsyad lalu ditutup oleh pemerintah. ‘Ali Syari’ati sendiri kembali meringkuk dan menderita dalam tahanan, kali ini selama delapan belas bulan. Tidak lama setelah ke luar dari penjara, dia pergi ke Inggris, di mana dia wafat pada 19 Juni 1977. Sebab kematiannya cukup misterius, sehingga banyak orang mengaitkannya dengan kegiatan polisi rahasia Iran di kala itu. Dia dimakamkan di Damsyik, bersebelahan dengan makam Hazrat Zainab Rahimahullah.

Judul koleksi ini, On the Sociology of Islam, kiranya memerlukan sekadar penjelasan. Buku ini tidak bermaksud untuk mengungkapkan kerangka sosiologi Islam secara lengkap. Dan Syari’ati sendiri tidak pernah berpretensi demikian. Dia bahkan menulis:  Apa tidak percaya bahwa apa yang kukatakan sudah merupakan kebenaran final; apa yang kukemukakan sekarang mungkin saja besok akan kuralat atau kusempurnakan (Islam Syinasi, Jil. I, hal. 47).

Bagaimanapun juga, dengan pendapatnya yang orisinil dan berani dia telah menghadirkan sejumlah wawasan segar tentang sosiologi Islam. Inilah yang kami usahakan penerjemahannya, kiranya bisa menggugah pikiran para intelektual Muslim. Buku ini terdiri atas sejumlah topik yang tidak sepenuhnya sosiologis. Namun karena nada sosiologis yang terkandung sarat di dalamnya maka judul On the Sociology of Islam kiranya bisa diterima.

Kebanyakan buku Syari’ati berasal dari ceramah-ceramah yang pernah disampaikannya. Gaya ceramah ini jelas dari beberapa pokok pikiran tertentu yang dikemukakannya berulang kali. Karena itu sengaja kami menghapus atau meringkas beberapa ungkapan aslinya, tanpa mengganggu jalan pikiran penulisnya. Selain itu, terjemahan ini adalah utuh dan refleksi dari karya aslinya. Penjelasan berupa catatan kaki yang ditambahkan oleh penerjemah dibubuhi tanda (HA). Catatan kaki seIebihnya adalah Syari’ati sendiri.

Hamid Algar (Berkeley, Sya’ban 1398/Juli 1978).

Sumber Bahasa Indonesia: Ali Syari’ati, Paradigma Kaum Tertindas (Sebuah Kajian Sosiologi Islam), Penerjemah Saifullah Mahyudin dan Husen Hashem, Penerbit Al-Huda Muharram 1422/April 2001.

  
Diposting oleh Blog Kaum Hawa di 08.47

SIMAKKLAH APA KATA RAUSYANFIKR DARI REPUBLIK ISLAM IRAN





IMAN DAN ILMU YANG PADU

Karya dan Ide Rausyanfikr yang

belum ada duanya

dari Negara Salman al Farisi

(Syahid Dr Ali Syari’ati)



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Karya dan Ide Syari’ati
 Lebih penting daripada kepribadian maupun aktivitas Syari’ati ialah karya dan ide yang diwariskannya, dalam bentuk rekaman ceramah-ceramah, catatan-catatan kuliah, buku-buku serta berbagai artikel yang telah berkali-kali dicetak ulang atau diperbanyak dalam edisi sepuluh ribuan kopi atau lebih. Karya-karya dan ide-ide itu sangat menarik perhatian angkatan muda dan sangat mendalam pengaruhnya atas mereka, sehingga tidaklah mudah menghapusnya begitu saja dari ingatan atau hati mereka. Semua yang diucapkan dan ditulisnya memancarkan keilmuan, iman serta keyakinannya dan membuktikan kemampuan kreatifnya yang luar biasa.
Ia dan waktu tidak lagi membiarkan mereka yang bersih dan murni tanpa kawan. Ia akan membela mereka dan waktu akan membenarkan mereka. Yang palsu tidak akan dapat mencemarkan yang murni, betapapun banyaknya batu yang mereka lemparkan dan anjing yang mereka lepaskan untuk membinasakan mereka (Kavir, hal. 282).

Sepintas kilas membaca karya-karya Syari’ati yang bermanfaat, dalam dan orisinal itu orang akan mengetahui bahwa ia tidak percaya akan karya yang dangkal. Namun, dengan tulisannya yang berbobot dan gaya ungkapannya yang fasih, ia telah berhasil menghidangkan ide-ide filosofis yang paling dalam maupun pembahasan-pembahasan ilmiah dan sosiologis yang paling rumit. Hanya mereka yang penuh purbasangka saja yang tidak menyetujui pendapat ini. Tetapi, beberapa tulisannya rupanya tetap sukar untuk ditangkap, meskipun ia telah mengunakan perumpamaan, kiasan dan bahasa simbolis. Betapapun makna yang disarikannya ke dalam kata-katanya, selalu saja bimbang mengambang dalam pikiran mereka yang terbiasa berpikir dangkal. Mereka yang berpikir unidimensional memang selalu asal mempertanyakan dan membantah. Berhadapan dengan pemikiran yang cermat dan dinamik selalu saja mereka mengajukan keberatan- keberatan picisan. Mereka adalah orang yang lamban pikiran, cacat perasaan dan merupakan prinsip Qurani: Bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya (QS. 16: 125).

Meskipun teori-teori Syari’ati berorientasi kepada Islam, namun basis epistemologis, filosofis, historis dan sosiologisnya sangat kuat dan tumbuh dari dialektika pengamalan dan pemikiran terus-menerus.

Boleh dikatakan, dalam pandangan Syari’ati, berpikir benar adalah pengantar kepada pengetahuan yang benar, sedang pengetahuan yang benar menjadi pengantar kepada iman. Bersama-sama ketiganya metupakan alat kelengkapan bagi hati nurani yang sadar dan bagi setiap usaha mencapai kesempurnaan, praktis maupun teoretis. Keyakinan dan iman yang dangkal tanpa kesadaran mudah berubah menjadi fanatisme, takhyul dan akan menghambat jalan pembangunan sosial. Tanpa perubahan ideologis tidak akan mungkin ada perubahan sosial yang berarti. Justru perubahan ideologis dan intelektual yang mendalam demikianlah yang teramat diperlukan waktu ini, dalam dunia modern kita yang serba cepat ini. Perubahan demikian harus memancar dari dalam lubuk hati perseorangan, mendahului bermulanya gerakan umum. Kebekuan dan kekakuan dalam bentuk lembaga-lembaga suci yang tidak efektif harus diubah menjadi aktif dan dan berperan jelas dalam gerak eksistensial masyarakat.

Kita bisa beroleh pengetahuan yang benar tentang Islam melalui filsafat sejarah yang berasas tauhid dan melalui sosiologi syirik yang mengungkapkan kenyataan-kenyataan masyarakat sebagaimana adanya. Analisa historis dan simbolis Syari’ati dalam Husain, Pewaris Adam menjelaskan bahwa Islam bukanlah suatu ideologi manusiawi, sehubungan dengan waktu dan tempat tertentu, melainkan bagaikan sebuah sungai yang mengalir sepanjang sejarah ummat manusia, hulunya jauh di gunung sana dan melewati batuan karang akhirnya bermuara ke laut. Sungai yang tidak pernah berhenti mengalir dan pada waktu, waktu tertentu hadirlah Nabi-Nabi dan para pengikut mereka untuk memperderas kembali daya arusnya. Keseluruhan sejarah merupakan perjuangan antara hak dan batil, pertempuran antara monotheis dan politheis, pertarungan antara yang tertindas dan yang menindas, antara yang dizalimi dan yang menzalimi. Secara simbolis pertentangan dan pertarungan ini digambarkan dalam kisah Qabil dan Habil, ataupun (dalam bentuk yang lebih sederhana) dalam pertarungan antara Nabi Musa melawan Fir’aun, Qarun dan Bal’am, yang mewakili kolompok-kelompok yang serba mewah, yang serba kuasa dan yang penuh tipu muslihat, yang terdapat sepanjang sejarah manusia; ketiga-tiganya tergolong musyrikin.

Kelompok pendeta (mala’) dan kelompok mewah (mutrif) bersama-sama merupakan kelas-kelas yang mengeksploitir. Mereka selalu menentang para Nabi. Sedangkan mereka yang teraniaya, mereka yang tertindas dan mereka yang takwa selalu berpihak pada para-nabi dan para syuhada. Buat para penganutnya, kepercayaan akan tauhid tidak dapat dipisahkan dan tanggungjawab serta komitmen sosial dan historis. Karena itu masyarakat yang percaya akan tauhid harus senantiasa dalam keadaan jihad. Perjuangan abadi ini bermula sejak dini sejarah sosial manusia, sejak masa Adam. Sedangkan para pendukung panji perjuangan menegakkan keadilan ini ialah para Nabi dan para shalihin. Dengan demikian gerakan sosial umat manusia berhubungan erat dan selaras dengan pandangan hidup tauhid.

Setelah Rasulullah Saw maka dalam perjalanan sejarah amanah tauhid diteruskan oleh lembaga Imamah, oleh ‘Ali dan keturunannya (12 Imam ma’shum). Tetapi Syi’ah, yang bermula sebagai protes oleh ‘Ali Husain dan Zainab, belakangan diperalat oleh para pemilik kekayaan dan kekuasaan. Dalam masa Safawi maupun sesudah Safawi peranan Imamah terdesak dan lenyap, akibat oportunisme, kebimbangan dan salah paham. Inilah yang dibahas Syari’ati dalam buku-buku serta catatan-catatan kuliahnya: Husain, Pewaris Adam; ‘Ali: Ajaran Tauhid dan Keadilan; Menanti Agama Protes; Ummat dan Imamah; Syi’ah ‘Alawi dan Syi’ah Safawi; Abu Dzar al-Ghaffari; Salman; Syahid; Pertanggungjawaban Penganut Syi’ah. Karya-karyanya di atas mengumandangkan pembelaan Syari’ati akan kebenaran Islam dan sekaligus menggambarkan jalan pikiran serta kedalaman analisa historis dan religiusnya.

Karya pikir Syari’ati lainnya ialah tentang sosiologi syirik, yang merupakan analisa realistis dan kritis tentang masyarakat dewasa ini. Dalam hubungan ini ia membahas peranan berbagai kelompok dan strata masyarakat, terutama golongan intelektual, tentang aneka ideologi dan aliran pemikiran di dunia dan tentang peran berbagai peradaban serta kebudayaan, yang kesemuanya tidak didasarkan atas tauhid. Menurut pendapatnya, manusia dewasa ini, tanpa tauhid, pada hakikatnya mengalami alienasi, dan bahwa ilmunya, tanpa hati nurani, menjadi semacam neo-skolastisisme, sedangkan mereka yang bersikap sok dan pura-pura menggeser kedudukan intelektual sejati. (Lihat Skolastisisme Baru; Peradaban dan Pembaruan; Manusia yang Mengalami Alienasi; Intelektual dan Tanggung-jawabnya; Eksistensialisme dan Nihilisme, dan lain-lain). Ditinjau dari sudut pandangan sosiologis, boleh dikatakan tidak banyak sarjana Iran yang telah meneliti kenyataan masyarakat Islam dewasa ini dengan kacamata realisme yang mendalam seperti halnya Syari’ati. Yang penting baginya bukanlah konsep-konsep yang abstrak, melainkan realitas yang ada ―nilai-nilai, cara-cara tingkah-laku, serta struktur-struktur ide dan kepercayaan yang terdapat dalam masyarakat Islam.

Untuk bisa membuat analisa masyarakat secara tepat, menurut Syari’ati, tidaklah cukup bagi para intelektual untuk hanya mengenal aliran-aliran pikiran Eropa di satu pihak, dan realitas sosial masyarakatnya sendiri di pihak lainnya. Keterbatasan pengetahuan demikian bisa menyesatkan dan memerosokkan mereka kepada kesimpulan yang tidak realistis. Kita hanya mungkin membuat analisa tentang realitas yang ada bila kita mempergunakan istilah-istilah, ungkapan-ungkapan serta konsep-konsep yang terdapat dalam filsafat, kebudayaan, agama dan kesusasteraan kita, yang dalam beberapa hal lebih kaya serta lebih tepat daripada analogi-analoginya dalam bahasa-bahasa asing.

Terjemahan dan pengulangan konsep-konsep stereotip sosiologi Barat yang tumbuh dari analisa masyarakat industri Eropa abad kesembilan belas serta masyarakat imperialis agresif pada media awal abad kedua puluh sama-sekali tidak ada gunanya bagi kita, karena konsep-konsep itu berbeda sama sekali dengan kehidupan kita dewasa ini. Kita harus menganalisa nilai-nilai dan hubungan-hubungan tertentu yang hidup dalam masyarakat kita serta cocok dengan sifat kehidupan sosial kita, susunan psikis kita, begitupun realitas yang ada dalam masyarakat dan reaksi psikologis perseorangan terhadapnya. Untuk ini kita harus memilih apa saja yang hidup dalam sejarah masyarakat Islam di Iran dan mengemukakan suatu sistem konsep dan istilah sosiologis yang komprehensif; atas dasar inilah kita buat analisa kita. Dengan demikian, istilah-istilah seperti umat, imamah, ‘adil, syahid, taqwa, taqlid, shabar, ghaib, syafa’at, hijrah, kafir, syirk, tauhid dan semacamnya kiranya jauh lebih tepat daripada istilah-istilah Eropa.

Syari’ati senantiasa berpegang pada realitas dan menghindari pemikiran abstrak. Ia adalah seorang sosiolog yang realistis dan komit. Dengan pandangan serta pemikiran Islamiyahnya yang khas, ia berhasil mempelajari masyarakatnya sendiri, melampaui sosiologi positivis maupun Marxis. Dan dengan menggunakan metoda historis dan religius yang mendalam, ia telah menambahkan dimensi-dimensi baru pada sosiologi Islam.

Ia telah membuat suatu analisa realistis dan kritik sosiologis mengenai dimensi “statis” masyarakat ―susunan tingkah laku, nilai serta kepercayaan berbagai kelompok religius maupun non-religius dewasa ini― begitupun mengenai dimensi “dinamis”-nya, yakni perubahan-perubahan dan perkembangan-perkembangan historis yang dihayati oleh umat Islam dan masyarakat Iran dalam berbagai era. Menurutnya, ilmu seperti sosiologi tidak pernah “netral”, dan ia tidak bisa menerima pendapat bahwa seorang sosiolog hanya sekedar mengamati masyarakat. Apalagi sekarang ini umumnya konsep netralitas ilmu telah kehilangan arti, sehingga tugas sekedar observasi dan deskripsi telah berganti dengan komitmen dan partisipasi sosial.

Karena itu tepatlah bila karya-karya seru ide-ide Syari’ati kita pelajari dari sudut pandang sosiologi. Ia telah meletakkan dasar-dasar sosiologis Islam yang benar dan bermulti faset. Dalam hal ini ia pun merupakan pionir. Yang penting bagi kita ialah bahwa ia telah mempelajari sejarah, filsafat sejarah dan semuanya dalam kerangka pandangan hidup tauhid. Dengan demikian tauhid menjadi landasan intelektual ideologis, baik untuk filsafat sejarah, mengenai nasib umat manusia dan masyarakatnya di masa silam, begitupun untuk meramalkan keadaan mereka di masa mendatang.

Dengan demikian, seluruh analisa filosofis historis dan sosiologisnya berkaitan erat dengan kepercayaan tauhid, sebagaimana dijelaskannya sendiri secara gamblang. Tauhid bagaikan turun dari langit ke bumi dan sambil meninggalkan lingkaran-lingkaran diskusi, penafsiran dan perdebatan filosofis, teologis dan ilmiah, ia masuk kedalam urusan masyarakat. Di dalamnya tercakup berbagai masalah yang menyangkut hubungan sosial mengenai hubungan kelas, orientasi perseorangan, hubungan antara perseorangan dan masyarakat, berbagai dimensi struktur sosial, superstruktur sosial, lembaga-lembaga sosial, keluarga, politik, kebudayaan, ekonomi, hak milik, etika sosial, pertanggungjawaban perseorangan maupun masyarakat.

Dalam pengertian umum aspek tauhid ini bisa disebut sebagai basis ideologis, sebagai semen perekat intelektual bagi masyarakat yang berorientasi tauhid ―suatu masyarakat yang berdasarkan struktur material dan ekonomis bebas dari kontradiksi dan suatu struktur intelektual dan kepercayaan yang bebas dan kontradiksi. Jadi, masalah tauhid dan syirik senantiasa berkaitan erat dengan filsafat sosiologi yang universal, dengan struktur etis masyarakat serta sistem-sistem hukum dan konvensionalnya.

Pendekatan baru ini, yang menempatkan ide tauhid dalam kehidupan sosial serta mengaitkan pemahaman tentang masyarakat pada konsep tauhid, mengandalkan suatu kehidupan tanpa kontradiksi dan oposisi. Sosiologi Syari’ati adalah refleksi pandangan hidupnya, suatu pandangan hidup yang membuahkan hasil-hasil praktis dalam masyarakat. Menurutnya, dalam kehidupan masyarakat terdapat pertarungan berketerusan antara tauhid sosial dan syirik sosial, pertarungan yang berlangsung sepanjang sejarah. Berikut adalah uraiannya dalam istilah-istilah yang dinamis:

“Sebagaimana halnya pandangan hidup tauhid menafsirkan eksistensi dalam pengertian kesatuan, demikian pulalah tafsirnya mengenai masyarakat manusia. Sebagaimana halnya dalam alam semesta tauhid menolak adanya kekuatan-kekuatan serbaneka dan saling berkontradiksi, menolak serba berhala, menolak serba daya gaib dan supernatural yang dianggap menentukan nasib manusia serta proses alami. Demikian pulalah tauhid dalam masyarakat manusia menyangkal kehadiran dewa-dewa bumi yang menguasai manusia, merampas kekuasaan mereka serta menetapkan sistem-sistem masyarakat dan hubungan sosial yang kompleks di antara kelas-kelas pokoknya. Tauhid menolak kehadiran syirik dalam kehidupan manusia”.

Yang dinilai oleh Syari’ati bukanlah ke-Islaman-nya sang alim ataupun ke-Islaman si awam, melainkan “ke-Islamannya mereka yang sadar dan ingat”. Andalannya ialah Muslim intelektual dan sadar, bukan sang alim dan bukan pula sang awam. Dalam Islam ada dua hal yang satu-sama lain saling mensyaratkan dan saling menyertai, yaitu membentuk diri sendiri dan mengubah diri sendiri; dalam pengertian inilah kita bisa menangkap makna kalimat bersayap ―yang sangat digemari Syari’ati : “Hidup adalah tidak lain daripada Iman dan Jihad”. Maka jelaslah bahwa karya Syari’ati merupakan buah Iman dan Jihadnya.

Catatan:

Terjemahan lengkap dari Ravisy-i Syinakht-i, terdiri dari dua ceramah, disampaikan di Husaiya-i Irsyad pada Aban 1347/Oktober 1968.

2. Gurun Kavir, gurun pasir luas yang meliputi hampir dua pertiga dataran tinggi Iran (HA).
3. Kavir, hal. 88. Selain ayahnya, Syari’ati juga menyebut orang pertama dan paling berpengaruh atas hidupnya: Louis Massignon (orientalis Prancis), Muhammad ‘Ali Furughi (sarjana dan politikus Iran), Jacques Berque (ahli bahasa Arab dan sosiolog Prancis), dan Gurwitsch (sosiolog Prancis). Tetapi mereka ini adalah guru-gurunya dalam pengertian langsung dan biasa.
4. Maksudnya ialah pada tahun-tahun pertama sesudah penggulingan Musaddiq di bulan Agustus 1953 (HA).

Sumber Bahasa Indonesia: Ali Syari’ati, Paradigma Kaum Tertindas (Sebuah Kajian Sosiologi Islam), Penerjemah Saifullah Mahyudin dan Husen Hashem, Penerbit Al-Huda Muharram 1422/April 2001.
Diposting oleh Blog Kaum