Jumat, 01 Maret 2019

KILAS BALIK REVOLUSI ISLAM IRAN AGAR PENAMPILAN SORBAN TIDAK IDENTIK DENGAN MAHKOTA YANG DIPAKAI SANG RAJA.



 

 SYAHID DR ALI SYARIATI MEMILIKI PIKIRAN YANG SANGAT TAJAM
LEBIH 'TAJAM' DARI "PEDANG SISINGAMANGARAJA"
hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Revolusi Iran
1 Reply

1.1. Latar Belakang Masalah
Revolusi Iran adalah contoh paling spektakuler di dunia Islam, bagaimana agama mampu memberi kekuatan bagi gerakan revolusioner untuk menumbangkan kekuasaan tiranik dan despotik. Bahkan tidak sekedar menumbangkan kekuasaan, tetapi lebih mendasar dari itu, mengganti sistem politik lama (monarki) dengan sistem politik baru (wilâyah al-faqîh). Banyak kalangan menyebut revolusi ini sebagai “salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarah umat Islam”.[1] Kesuksesannya dapat disejajarkan dengan Revolusi Prancis (1789) atau Revolusi Bolshevik Rusia (1917).[2]

Revolusi yang telah berlangsung di Iran tahun 1978-1979 dan menghasilkan pemerintahan Islam yang berlangsung sampai hari ini, mengangkat banyak isu yang terkait dengan kebangkitan Islam kontemporer: keyakinan, kebudayaan, kekuasaan, dan politik dengan penekanan pada identitas bangsa, keaslian budaya, partisipasi politik, dan keadilan sosial disertai pula dengan penolakan terhadap pembaratan (gharbzadegi/westoxication), otoriterisme kekuasaan, dan pembagian kekayaan yang tidak adil. Inilah “the real revolution” yang digerakkan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dipimpin oleh para tokoh agama.

Keterlibatan para mullah dalam gerakan revolusioner menumbangkan Dinasti Pahlevi yang berkuasa di Iran mulai tahun 1925-1979, merupakan fenomena menarik dan unik jika dilihat dari perspektif sejarah sosial-politik Syi’ah. Syi’ah sebagai madzab resmi Iran sejak Dinasti Safavi menekankan artikulasi politik yang lebih akomodatif terhadap kekuasaan. Perilaku para pengikut Syi’ah sejak lama terpola dalam tradisi taqiyeh (dissimulation)[3] dan quietisme[4]. Apa yang telah ditampakkan oleh para mullah dan pengikutnya yang terlibat dalam gerakan revolusi adalah pergeseran orientasi sikap keberagamaan dari pasivisme menanti datangnya Imam Mahdi ke arah gerakan kongkret dan pro-aktif dalam melawan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Di sinilah tampak peran para reformer ideologi Syi’ah kontemporer yang berhasil memperbaharui ajaran Syi’ah.

Syi’ah sebagai madzab resmi Iran menjadi identitas nasional dan sumber legitimasi politik sejak abad keenam belas. Islam Syi’ah telah terlibat dalam percaturan politik sejak kemunculannya dan karena itu memiliki sejarah dan sistem kepercayaan yang dapat ditafsirkan dan dimanfaatkan dalam krisis politik. Tetapi sejak ditetapkan sebagai madzab resmi pada Dinasti Savafi, ajaran Syi’ah Imâmiyah (aliran mainstreem dalam Syi’ah) memiliki kecenderungan apolitis dan terlalu kooperatif dengan penguasa negara.[5] Wacana keagamaan yang diusung para ulama berkutat pada masalah-masalah ringan dan fiqh oriented dari pada masalah sosial-politik yang memiliki jangkauan spektrum lebih luas. Julukan untuk mereka adalah para akhund, sebuah istilah pejoratif untuk menyebut ulama yang berpengetahuan dangkal.

Dalam tradisi Sunni, ulama model itu juga menjadi fenomena dominan dalam konstelasi politik negara-negara berbasis madzab sunni. Ulama-ulama Wahhabi, misalnya, posisi sosio-politik mereka telah terhegemoni oleh sistem politik kerajaan Saudi. Wahabi menjadi madzab resmi Kerajaan Saudi Arabia sehingga ia adalah sumber legitimasi bagi penguasannya. Wahabi yang pada awal-awal kelahirannya sangat kritis, telah berubah menjadi sekadar lembaga stempel bagi kekuasaan sang Raja. Agama dalam kondisi seperti ini seolah mati suri karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah sejarah umat manusia. Agama telah kehilangan elan vital sebagai sumber inspirasi untuk membela yang lemah dan memerangi kemungkaran (depotisme).

Ali Syari’ati, salah satu dari sedikit para pemikir Iran yang sangat gundah dengan fenomena “kematian agama (syi’ah)”. Apalagi latar historis saat Syari’ati tumbuh berkembang menjadi intelektual terkemuka adalah kekuasaan Syah Reza Pahlevi yang mengumbar ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Di saat para ulama Syi’ah kebanyakan bungkam atau mengambil sikap diam dan menjaga jarak dengan dengan sosio-politik kala itu, Syari’ati tampil untuk melontarkan gagasan-gagasan radikal tentang oposisi dan revolusi yang bersumber dari ajaran Syi’ah yang sudah dicangkokkan dengan tradisi revolusioner Dunia Ketiga dan Marxisme. Ali Syari’ati berhasil membangun ideologi Islam revolusioner yang lantas ditawarkan sebagai ideologi alternatif atas kecenderungan Marxis dan nasinalis-sekular yang banyak digemari kalangan muda Iran.

Ali Syari’ati mengecam para ulama yang telah menjadikan Syi’ah semata-mata sebagai agama berkabung dengan mengubah arti hakiki peristiwa Karbala. Ulama, menurut Syari’ati telah mengkhianati Islam dengan “menjual diri” kepada kelas penguasa, dengan begitu ulama telah mengubah Syi’ah dari kepercayaan revolusioner menjadi ideologi konservatif; menjadi agama negara (dîn-i dewlati), yang paling tinggi hanya sebabatas menekankan sikap kedermawanan (philantropism), paternalisme, pengekangan diri secara sukarela dari kemewahan[6].

Syari’ati lebih jauh menilai, hubungan khusus ulama semacam itu telah menjadikan mereka sebagai instrumen kelas-kelas berharta. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikelola ulama dibiayai kaum kelas berharta untuk mencegah ulama berbicara tentang perlunya menyelamatkan kaum miskin dan mereka yang tertindas (mustad’afîn). Sebaliknya, dengan menggunakan doktrin tentang fiqh ekonomi, ulama merupaya mengabsahkan eksploitasi yang menurut Syari’ati lebih eksploitatif dibandingkan dengan kapitalisme Amerika. Islam di tangan ulama itu telah menjadi khordeh-I burzhuazi (borjuasi kecil).[7]

Masih menurut Syari’ati, banyak ulama berpandangan sangat picik (ulamâ-i qisyri), yang bisa bisa mengulang-ulang doktrin fiqih secara bodoh. Mereka memberlakukan Kitab Suci sebagai lembaran kering, tanpa makna, sementara pada sisi lain asik dengan isu-isu yang tidak penting seperti soal pakaian, ritual, panjang pendeknya jenggot dan semacamnya. Akibatnya ulama gagal memahami makna istilah-istilah kunci seperti ummah, imâmah, dan nizâm al-tauhîd.[8] Ulama yang digambarkan Syari’ati itu lebih cenderung fiqh oriented dan senang bergumul dengan wacana khilâfiyah yang semua itu tidak terkait dengan problem real masyarakat. Kemisminan, kebodohan dan keterbelakangan serta penindasan menjadi isu yang tak tersentuh (untouchtable) dalam alam pikiran para ulama sehari-hari, karena mereka lebih disibukkan dengan polemik wacana fiqhiyyah yang tidak urgen.

Kecenderungan ulama seperti gambaran di atas akan menguntungkan posisi penguasa, karena aspek-aspek penyelewengan kekuasaan, praktek ketidakadilan dan kebijakan yang hanya menguntungkan diri sendiri menjadi lepas dari kontrol dan kritik ulama. Maka tidak aneh jika pihak penguasa menyediakan dana yang cukup untuk aktifitas ulama model ini, karena semakin ulama tidak independen, akan lebih memudahkan para penguasa melakukan kontrol terhadap aktivitas mereka. Kolaborasi semacam ini yang telah terjadi di Iran sebelum revolusi, dimana rezim Syah banyak memanfaatkan ulama untuk melakukan counter balik terhadap wacana kritis yang dilontarkan para kaum oposisi. Termasuk di antara kaum oposisi itu, Ali Syari’ati adalah salah satu tokoh pentingnya.

Berada dalam pusaran oposisi vis-à-vis kekuasaan rezim Syah dan ulama konservatif, Ali Syari’ati banyak menuai kritik bahkan hujatan dan fitnah dari beberapa ulama. Mereka pada umumnya menuduh Syari’ati menyesatkan dan menipu kaum muda mengenai ajaran Islam sejati versi Syari’ati. Ulama sumber panutan (marja’ taqlid) seperti Ayatullah Khu’i, Milani, Ruhani dan Thabathaba’i, bahkan mengeluarkan fatwa yang melarang membeli, menjual dan membaca tulisan Syari’ati.[9] Mereka menganggap tulisan-tulisan Ali Syari’ati, khususnya dalam bukunya Eslamshenasi (diterjemahkan dalam bahasa Inggris: Islamology), telah menyimpang dari tradisi Islam Syi’ah karena menggunakan sumber-sumber non-Syi’ah.[10]

Ali Syari’ati adalah contoh intelektual sui generis yang berani dalam posisi melawan mainstreem politik maupun pemikiran Islam. Ia dapat disejajarkan dengan para pembaharu Sunni pendahulunya, seperti Jamal al-Din al-Afghani (w.1897), Muhammad Abduh (w. 1905) atau Muhammad Iqbal (w.1938). Sama dengan Syari’ati, mereka adalah pembaharu pemikiran Islam dan sekaligus para oposan yang sangat kritis dengan fenomena ketidakadilan dan imperialisme Barat. Yang membedakan antara Syari’ati dengan ketiga tokoh Sunni itu adalah bahwa Syari’ati lebih radikal dalam mengimplementasikan pemikiran-pemikiran pembaharuannya dan ini yang perlu mendapat catatan tebal sejarah pembaharuan Islam, bahwa Syari’ati dengan gagasan revolusinya berhasil menarik gerbong oposisi di kalangan masyarakat Iran untuk melawan rezim yang berkuasa sampai akhirnya gerakan oposisi itu berhasil melakukan revolusi bersejarah tahun 1979.

Ali Syari’ati dan Revolusi Iran adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan. Walau dia meninggal dunia beberapa saat sebelum revolusi itu benar-benar terwujud, tepatnya tanggal 19 Juni 1977, gema revolusi yang dia kampanyekan di Iran sampai akhir hayatnya, mendapat sambutan yang antusias dari massa pengunjak rasa pada puncak gerakan revolusi 1978-1979. Poster-poster Ali Syari’ati bersanding dengan poster tokoh revolusi lain seperti Mossadeq dan tentunya Khomeini, diusung sepanjang demonstrasi besar-besaran melawan Rezim Syah. Bahkan beberapa kalangan menyebut Syari’ati lebih mempunyai peran dalam Revolusi Iran ketimbang Khomeini, misalnya, yang munculnya pada saat-saat setelah secara efektif revolusi berakhir. Zayar dalam bukunya Iranian Revolution: Past, Present, and Future, bahkan menuduh Khomeini sebagai pembajak Revolusi Iran dari para pejuang pra-revolusi.[11]

Bertitik tolak dari latar belakang tersebut, peneliti menemukan titik urgensi penelitian tentang pemikiran Ali Syari’ati, khususnya yang terkait dengan Islam dan revolusi. Syari’ati adalah prototype cendekiawan Islam yang melaju diantara pusaran konservatisme pemikiran Islam yang menekankan Islam sebagai agama yang terpisah dengan persoalan-persoalan real di masyarakat, dan sekularisme pemikiran yang begitu terpesona dengan modernisme Barat dan meninggalkan Tradisi Suci Agama. Syari’ati menawarkan model lain (the third way, dalam istilah Antoni Gidden), yaitu Islam revolusioner, Islam yang mengambil posisi sebagai jalan revolusi menuju pembebasan umat atas segala macam bentuk ketidakadilan dan penindasan. Syari’ati berhasil menggali nilai-nilai revolusioner Islam yang selama ini terkubur oleh ortodoksi, yang dalam konteks ajaran Syi’ah, Syari’ati telah merevolusi doktrin Syi’ah dalam bentuknya yang lebih progresif. Simbol-simbol penting Syi’ah seperti asy-Syûra, Karbala, Syâhid diposisikan kembali dalam wacana perlawanan seperti semula.

Penelitian ini juga akan menggali lebih eksploratif tentang pengaruh pemikiran revolusioner Ali Syari’ati dalam Revolusi Iran 1979. Keberhasilan Revolusi Iran tidak bisa lepas dari keberhasilan revolusi doktin Syi’ah. Dan salah satu tokoh penting yang terlibat dalam proyek revolusi doktrin Syi’ah itu adalah Ali Syari’ati.

1.2 Rumusan Masalah
Atas dasar latar belakang di atas, pokok masalah yang akan menjadi fokus penelitian ini adalah: “Bagaimana pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan revolusi serta pengaruhnya terhadap Revolusi Iran?”.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk menemukan jawaban dalam pokok masalah yaitu bagaimana pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan revolusi dan pengaruhnya terhadap revolusi Iran 1979. Mengetahui pemikiran tokoh ini penting dilakukan mengingat Syari’ati adalah ikon intelektual Muslim yang gigih memperjuangkan mereka yang tertindas dan teraniaya lewat tulisan-tulisan dan aksi-aksi politik yang kritis dan tajam. Karya-karya intelektual Syari’ati tidak sekedar ungkapan emosional dari wakil rakyat tertindas, tetapi mempunyai bobot akademik yang tinggi sehingga upaya-upaya kritis dalam studi atas pemikiran Syari’ati diharapkan akan melahirkan pemikiran baru yang lebih segar dan progresif untuk menjawab tantangan politik Islam kekinian yang lebih kompleks.

Di tengah-tengah diskursus politik Islam yang belum tuntas, antara yang pro negara Islam atau sebaliknya, studi pemikiran Ali Syari’ati seolah keluar dari diskursus itu. Pemikiran politik Ali Syari’ati tidak mau terjebak kepada pro-kontra formalisme negara Islam, tetapi lebih menekankan pada aspek relasi kritis rakyat-penguasa. Aspek ini disinyalir lebih berguna untuk dieksplorasi lebih dalam dalam rangka membangun konsep teoritis bagaimana rakyat dapat membatasi, mengontrol, sekaligus mengganti –jika diperlukan- para penguasa.
Lebih dari itu semua, penelitian ini dimaksudkan untuk merekonstruksi pemikiran revolusioner Ali Syari’ati yang akan berguna untuk membangun pemikiran politik Islam kontemporer yang aplikatif dan aktual yang tidak terjebat pada wacana elite, tetapi lebih dekat pada wacana grassroot. Oposisi, revolusi dan kata-kata lain yang sepadan dengan itu adalah term-term perlawanan rakyat yang ingin merdeka dan mandiri, sehingga hasil dari penelitian ini akan menjadi panduan normatif dan aplikatif bagi komponen-komponen perlawanan rakyat sekaligus diskursus tingkat lanjut pemikiran politik Islam di ruang-ruang akademis.

BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

Pemikiran Ali Syari’ati yang revolusioner mengundang perhatian orang untuk mengkaji lebih dalam hubungan pemikirannya dengan para pemikir revolusioner sebelumnya. Para pengkaji pun lantas mengaitkan Syari’ati dengan Marx dalam satu pola hubungan geneologis pemikiran. Hasilnya pun bisa ditebak, bahwa Syari’ati sedikit banyak terpengaruh oleh pemikiran Marx, khususnya yang terkait dengan bagaimana menganalisis ketimpangan sosial dalam masyarakat. Sehingga beberapa kalangan menyebut proyek pemikiran Syari’ati adalah Islamisasi Marxisme atau Marxisisasi Islam.

Eko Supriyadi adalah salah satu dari peneliti Indonesia yang telah berusaha mengkaji pengaruh Marxisme dalam pemikiran Ali Syari’ati. Dalam penelitiannya yang telah diterbitkan menjadi buku yang berjudul Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syari’ati, Eko berupaya menelusuri akar-akar geneologis pemikiran sosialisme Ali Syari’ati pada pemikiran Marxisme. Dalam temuannya Supriyadi menyatakan bahwa ada pengaruh Marx dalam pemikiran Syari’ati, tetapi Syari’ati menerima pemikiran Marx dengan kritik dan ia menawarkan sintesa antara Marxisme dan Islam.[12] Salah satu yang dikritik Syari’ati dalam rancang bangun pemikiran Marx adalah kecenderungannya yang menafikan segala bentuk spiritualitas, yang dengan begitu menafikan agama, sekaligus Tuhan. Penelitian lain yang agak mirip dengan karya Eko Supriyadi adalah yang dilakukan oleh Munawar Anwar Firdausi dengan judul Analisis Tipologi Pemikiran Karl Marx dalam Pandangan Ali Syari’ati yang dia ajukan sebagai tesis di pascasarjaan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2004.

Kedua penelitian di atas lebih menekankan pada pengaruh pemikiran Marxisme dalam pemikiran Syari’ati dan kritik Syari’ati terhadap Marxisme. Penelitian itu tidak memotret secara utuh bagaimana wacana Islam dan politik yang diusung Syari’ati apalagi mengaitkannya dengan revolusi Iran. Tetapi paling tidak dari penelitian itu dapat dilacak akar geneologis pemikiran revolusioner Syari’ati, sehingga lebih memudahkan untuk merekonstruksi pemikirannya dan mengaitkannya dengan revolusi Iran 1979.

Adalah terlalu sempit jika memposisikan Syari’ati sebatas tokoh yang mampu mensitesakan antara Islam dan Marxisme. Realitas sosial, politik dan budaya yang melingkupi Syari’ati dalam menelorkan karya-karya intelektualnya begitu komplek. Rezim Syah Pahlevi yang despotik, ajaran-ajaran Islam (Syi’ah) yang dibonsai ulama resmi menjadi sebatas ajaran ritual, serta kondisi umum masyarakat Islam yang berada dalam cengkraman hegemoni Barat adalah fenomena penting yang membentuk karakter pemikiran Syari’ati, sehingga wajar jika tampak karakter revolusioner dalam pemikirannya. Ali Syari’ati tergelisahkan oleh kondisi umat yang terus-menerus diposisikan sebagai pihak yang teraniaya (mustal’afîn), dan karya-karya Syari’ati seolah mewakili suara-suara itu.

Ali Rahmena yang telah melakukan pembacaan cukup komprehensif atas beberapa karya penting Syari’ati dalam bukunya Pioneer of Islamic Revival yang dalam edisi Indonesia oleh penerbit Mizan diberi judul Para Perintis Zaman Baru Islam. Buku Rahmena mereview pemikiran-pemikiran Syari’ati yang tertuang dalam beberapa karya penting, diantaranya adalah Eslamshenasi (Islamologi) dan Kavir (Gurun).[13]

Tulisan Rahnema cukup lengkap sebagai tulisan yang memotret sejarah kehidupan Ali Syari’ati yang sarat dengan petualangan khas seorang revolusioner. Penelitian ia yang bersumber dari data primer akurat dan berbahasa asli (Persia) memungkinkan Rahnema untuk menganalisis secara lebih tajam fenomena kesejarahan pemikiran dan aktivitas politik Syari’ati. Tetapi karena tulisan itu hanya sebuah tulisan biografi, bangunan pemikiran Ali Syari’ati yang kaya dan komplek tidak tertuang dengan utuh, dan sebaliknya, banyak konteks historis yang terlewatkan begitu saja, sehingga kesan yang muncul adalah fragmentasi dan distorsi. Tetapi tulisan Rahnema akan menjadi informasi awal yang cukup penting untuk memetakan secara historis warisan intelektual dan politik Ali Syari’ati.

Azyumardi Azra dalam salah satu bagian dari bukunya yang berjudul Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme, Hingga Post-Modernisme, menulis tentang filsafat pergerakan Ali Syari’ati. Azra menyatakan bahwa pandangan dunia Syari’ati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik. Sehingga dalam konteks ini, Syari’ati dapat disebut politico–religio thinker (pemikir politik keagamaan)[14], yang buah pikirannya menjadi salah satu akar ideologi Revolusi Islam Iran. Azra juga menyorot bagaimana kritik Syari’ati terhadap ulama dan tawaran Syari’ati tentang ideologi Syi’ah revolusioner (Syi’ah Alawi) sebagai lawan dari Syi’ah konservatif (Syi’ah Safavi).

Sama dengan tulisan Rahnema, Azra hanya memotret pemikiran Syari’ati pada segmen tertentu saja. Ketika ia menulis tentang pengaruh penting pemikiran Ali Syari’ati terhadap Revolusi Islam, Azra tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana proses pengaruh-mempengaruhi itu berjalan. Tulisan Azra hanya menambah informasi tentang karakter pemikiran Syari’ati dan komentar-komentar para tokoh terhadap pemikiran dan kiprah Syari’ati dalam gerakan oposisi di Iran saat itu.

Temuan Azra dalam bukunya itu, bahwa Ali Syari’ati mempunyai andil yang cukup signifikan dalam Revolusi Islam Iran mendapat pembenaran dari beberapa tokoh lain seperti John L. Esposito dan John O. Voll dalam bukunya Islam and Democracy, khususnya dalam bab III yang berbicara tentang berkuasanya Islam revolusioner di Iran. Esposito dan Voll menyebut Syari’ati sebagai seorang cendekiawan yang tafsir reformisnya atas Islam Syi’ah telah menggabungkan sikap anti imperialisme Dunia Ketiga, bahasa ilmu sosial Barat, dan ajaran Syi’ah Iran untuk menghasilkan suatu ideologi Islam revoluioner bagi reformasi sosial-politik.[15] Dan Ideologi macam ini yang telah mengerakkan para mahasiswa dan profesional muda yang berorientasi Islam bergabung dengan kaum ulama, santri dan pedagang melancarkan oposisi radikalnya terhadap rezim Syah.

Senada dengan John L. Esposito dan John O. Voll, Abdulaziz Sachedina dalam tulisannya, Ali Syari’ati: Ideologue of Iranian Revolution, menyatakan bahwa Syari’ati adalah salah satu tokoh yang berhasil merumuskan ideologi perjuangan bagi Revolusi Iran. Syari’ati, tulis Sachedina, menawarkan satu bentuk penafsiran baru dalam pemikiran Islam yang mendorong umat Islam untuk bersikap progresif dan anti status quo.[16] Progresifitas dan anti status quo inilah yang menjadi ruh dalam ideologi perlawanan yang ditawarkan Syari’ati, dan itu diterima baik oleh – khususnya – kelompok mahasiswa dan kaum terpelajar lainnya di Iran saat itu.

John L. Esposito dan John O. Voll serta Abdulaziz Sachedina telah menulis tentang pengaruh pemikiran Ali Syari’ati terhadap revolusi Iran, tetapi seperti juga tulisan-tulisan para tokoh terdahulu, apa yang ditulis oleh John L. Esposito dan John O. Voll serta Abdulaziz Sachedina tidak lebih hanya sekadar asumsi atau tesis yang tidak dilengkapi dengan fakta historis secara detail. Apa yang mereka tulis tidak utuh menggambarkan fakta historis dan sosio-politik disaat pemikiran Syari’ati mengalami pergolakan.

Hamid Dabashi menyebut Syari’ati sebagai “the ideologist of revolt”[17]. Dalam bukunya, Theology of Discontent: The Idelogical Foundation of The Islamic Revolution in Iran, Dabashi menyatakan bahwa Ali Syari’ati adalah salah satu ideolog terkemuka Iran yang mengusung aliran dan ideologi utama dan penting yang berpengaruh di Iran sebelum pecahnya revolusi[18]. Dalam kajian beberapa sarjana yang concern dengan Revolusi Iran, ada beberapa aliran dan ideologi menonjol yang berpengaruh di Iran sebelum pecahnya revolusi 1978-1979, diantaranya adalah ideologi sosialis-sekuler yang diusung diantaranya oleh Partai Tudeh (Partai Komunis Iran), dan ideologi sosialis-religius (Syi’ah progresif) yang diusung oleh Ali Syari’ati.

Partai Tudeh memang disebut-sebut oleh Zuyar dalam bukunya, Iranian Revolution: Past, Present and Future, sebagai elemen penting dalam revolusi Iran, disamping beberapa kelompok gerakan sosialis lainnya, diantaranya adalah Fadaeen (Organisasi Rakyat Iran).[19] Tidak hanya itu, Zuyar bahkan menempatkan Khomeini hanya sebagai tokoh yang datangnya lebih belakangan yang ambil bagian dalam gerakan revolusi. Khomeini tidak lebih dari “pembajak revolusi” tulis Zayar.[20]

Apa yang ditulis oleh Dabashi dan Zayar memberi jalan masuk yang lebar atas potret historis revolusi Iran. Tetapi masing-masing kurang menyinggung, bahkan dalam tulisan Zayar tidak disinggung sama sekali peran Ali Syari’ati dalam revolusi itu. Sehingga apa yang ditulis Zayar, lebih menampakkan peran penting kelompok Marxis Iran, dan ini seakan seperti menafikan fakta historis-sosiologis bahwa masyarakat Iran adalah mayoritas Syi’ah.
Penelitian ini mengambil fokus pada pemikiran revolusioner Ali Syari’ati dan pengaruhnya terhadap Revolusi Islam Iran. Berbeda dengan apa yang telah diteliti oleh Eko Supriyadi dan Munawar Anwar Firdausi yang lebih fokus pada pengaruh pemikiran Marxisme dalam pemikiran Syari’ati, penelitian ini lebih fokus pada pengaruh pemikirannya terhadap gerakan revolusi di Iran yang berhasih menumbangkan rezim Syah. Begitu pula dengan apa yang telah dikaji oleh Ali Rahmena yang lebih menyorot karya-karya penting Syari’ati. Tulisan Azyumardi Azra memang memberi inspirasi untuk melacak pengaruh pemikiran Syari’ati terhadap Revolusi Iran, tetapi apa yang disampaikan Azra lebih sekedar hipotesis awal dari pada sebuah analisa yang mendalam. Karya Hamid Dabashi memang memberi informasi detail tentang berbagai aliran dan ideologi yang berpengaruh dalam Revolusi Iran, tetapi dari kesekian aliran itu mana yang paling berpengaruh, dan sejauhmana pengaruh ideologi yang digagas Syari’ati dalam revolusi tampaknya belum dikupas secara memadai oleh para peneliti dan penulis itu.

BAB IV
KERANGKA TEORITIK

Selama ini revolusi merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu perubahan fundamental di pemerintahan atau konstitusi politik sebuah negara, terutama yang terjadi karena sebab-sebab internal dan lewat suatu pergolakan bersenjata, dan rusuh. Menurut Funk & Wagnalls New Encyclopedia, revolusi adalah sebuah perubahan sosial atau politik dengan memakai kekerasan dan secara paksa, dipengaruhi oleh kekejaman dan bentrok senjata; revolusi juga berarti perubahan sistem politik, namun secara cepat dan total, melalui cara-cara di luar konstitusi dan pengingkaran atas lembaga pemerintahan.[21] Senada dengan pengertian itu, dalam Black’s Law Ditionary, revolusi diartikan “on overthrow of a government usu. Resulting in fundamental political change, a successful rebellion” (meruntuhkan pemerintah yang ada, menghasilkan perubahan politik secara fundamental, dan sebuah pemberontakan yang sukses).[22]

Eugene Camenka adalah salah satu yang menyatakan bahwa kekerasan dalam revolusi adalah sebuah keniscayaan, tetapi, ia buru-buru memberi penjelasan lanjutan, seandainya revolusi itu tanpa menimbulkan kekerasan, masih tetap dianggap revolusi.[23] Akhirnya Samuel Huntington merumuskan revolusi sebagai “suatu penjungkirbalikan nilai-nilai, mitos, lembaga-lembaga politik, struktur sosial, kepemimpinan, serta aktifitas maupun kebijaksanaan pemerintah yang telah dominan di masyarakat”.[24] Dan secara prinsip dari berbagai definisi yang diberikan para pakar politik, revolusi terkait dengan gagasan perubahan menyeluruh, pembaharuan dan diskontinuitas menyeluruh dan juga menganut asumsi bahwa revolusi erat hubungannya dengan transformasi sosial.[25]

Dari beberapa definisi tentang revolusi di atas dapat diambil beberapa kata kunci (key words) dalam diskursus revolusi diantaranya adalah; perubahan politik secara fundamental (fundamental change in the political system), kekuatan massa (extra-legal mass actions), pemberontakan (rebellion and revolt), dan oposisi. Dalam banyak kasus oposisi senantiasa menimbulkan kekacauan (chaos) dan kekerasan (violence), tetapi terminologi itu bukan karakter pokok dalam revolusi, tetapi hanya sebagai akibat samping saat revolusi itu dijalankan.

Bagaimana revolusi dapat dijelaskan menjadi satu strategi politik dalam mencapai suatu tujuan? Tentu ada banyak perspektif untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Salah satu perspektif untuk melihat masalah itu adalah tesis Gramsci tentang hegemoni. Pada prinsipnya, dalam teori hegemoni ala Gramsci disebutkan bahwa para elite membutuhkan cara untuk dapat melakukan kontrol efektif terhadap pihak yang dikuasainya. Cara-cara elit ini penting dalam rangka tetap terus menjaga posisi kekuasannya dari ancaman-ancaman ketidakpatuhan. Hegemoni yang dilakukan para penguasa/elite tidak sebatas hegemoni cara-cara pruduksi, tetapi juga hegemoni ideologi. Dengan demikian, melalui hegemoni ideologis, kepatuhan bisa dipaksakan dan perlawanan bisa dipatahkan atau dilenyapkan oleh elite. Pada akhirnya ketika hegemoni itu mengalami titik kulminasi, demikian kata Gramsci, pada saat yang sama, perlawanan bisa mengambil bentuk berupa upaya-upaya kontra hegemoni oleh kelas yang dikuasai untuk melawan formasi sosial yang ada.[26]

Bagaimana kontra hegemoni bisa dilakukan oleh mereka yang tertindas? Kerkvliet adalah salah satu pakar politik yang mampu melihat fenomena kontra- hegemoni sebagai sesuatu yang mungkin terjadi yang asal-muasalnya adalah dari sikap kritisisme masyarakat bawah (yang tertindas) terhadap ideologi dominan yang dipaksakan oleh elite kekuasaan. Lebih jelas Kerkvliet menulis :
“Masyarakat dari kelas yang dikuasai tidak harus selalu tunduk kepada ideologi dominan, karena mereka mempunyai gagasan-gagasan dan keyakinan-keyakinan alternatif yang mampu menampilkan tantangan signifikan kepada pandangan kelompok dominan tentang bagaimana hak milik dan sumber-sumber lainnya bisa digunakan oleh siapa saja. Mereka mempunyai gagasan tentang hak-hak mereka dan apa itu keadilan, yang sekali lagi menentang keyakinan banyak orang yang berkuasa”.[27]

Singkatnya, gagasan bahwa ideologi kelas yang dikuasai bisa menyusup dan melawan ideologi hegemonik adalah mungkin. Banyak contoh yang membenarkan tesis ini, seperti yang diperlihatkan oleh buruh tambang di Indian. Mereka mengembangkan ideologi mereka sendiri melalui elaborasi atas kebudayaan tradisional Indian dan mereka menggunakan idiom-idiom budaya untuk melakukan perlawanan terhadap pemilik-pemilik tambang dan negara.[28]

Apakah agama bisa menjadi sumber kekuatan dan inspirasi ideologis untuk melakukan oposisi dan revolusi terhadap kekuatan elite yang hegemonik? Bagi Gramsci, fungsi agama salah satunya adalah memberikan bentuk-bentuk kesadaran baru yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan sosial yang baru. Menurut Gramsci, sesuatu yang memiliki nilai penting khusus adalah agama atau ideologi yang bisa mewujudkan suatu ‘kehendak kolektif nasional-populer’ seperti yang ia lihat pada protestanisme dalam revolusi Perancis.[29]

Oliever Roy dalam bukunya yang sangat populer The Failure of political Islam mengemukakan suatu fakta bahwa keyakinan tertentu terhadap agama (Islam) ternyata membawa implikasi terhadap sikap politik tertentu. Kaum Islamisis[30], begitu Roy menjelaskan, memiliki argumen politik yang berpijak pada asas bahwa Islam adalah sistem pemikiran global dan menyeluruh. Menurut mereka, masyarakat yang terdiri dari orang-orang Islam saja tidak cukup, tetapi juga harus Islami dalam landasan maupun strukturnya. Konsekwensinya, lanjut Roy, setiap orang punya kewajiban untuk memberontak terhadap negara Muslim yang dinilai korup; bahkan juga keharusan untuk mengekskomunikasikan (takfir) penguasa yang dipandang murtad serta untuk melakukan tindakan kekerasan (revolusi) terhadapnya.[31]

Peneliti tidak bermaksud memperdebatkan apakah gerakan kelompok Islamisis itu kontra produktif terhadap upaya-upaya gerakan Islam yang ramah dan toleran, tetapi sekadar mencari bukti kebenaran tesis Gramsci di atas bahwa agama bisa, bahkan menjadi faktor penting dalam menumbuhkan kekuatan oposisi dan revolusi. Mungkin ini yang ingin dieksplorasi secara akademis oleh Ali Syari’ati. Ia berupaya untuk merumuskan tradisi keberagamaan Islam yang tidak melulu mengurus akherat, seperti yang ditunjukkan oleh perilaku mayoritas Muslim. Akan tetapi yang lebih berarti dari itu semua adalah bagaimana menjadikan agama sebagai kekuatan revolusi yang membebaskan umat dari penindasan, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.

Sebagaimana telah dikemukakan di muka, bahwa Ali Syari’ati adalah sosok intelektual Muslim yang revolusioner. Pandangan dunia Syari’ati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik, yang dapat dikatakan menjadi dasar dari ideologi pergerakannya.[32] Salah satu tema sentral dalam ideologi politik keagamaan Ali Syari’ati adalah – dalam hal ini, Islam – dapat dan harus di fungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural maupun politik. Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya – yang belum dikuasai kekuatan konservatif – merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi dan kultural Barat. Ia merasakan problem akut yang dimunculkan kolonialisme dan neo-kolonialisme yang mengalienasikan rakyat dari akar-akar tradisi mereka.[33]

Hassan Hanafi senafas dengan Ali Syari’ati dalam memberdayakan Islam sebagai kekuatan revolusi. Untuk mewujudkan idealisme Islam pembebasan itulah, Hassan Hanafi meluncurkan jurnal berkalanya Al-Yasâr al-Islâmi : Kitâbât fi al-Nahdla Al-Islâmiyah (Kiri Islam : Beberapa Esai tentang Kebangkitan Islam) pada tahun 1981. Jurnal ini merupakan kelanjutan dari Al-Urwa al-Wutsqa dan Al-Manâr, yang menjadi agenda Al-Afghani dalam melawan kolonialisme dan keterbelakangan, menyerukan kebebasan dan keadilan sosial serta mempersatukan kaum muslimin ke dalam blok Islam atau blok Timur.[34] Jurnal ini juga terbit setelah kemenangan Revolusi Islam di Iran, tahun 1979. Sehingga, peristiwa besar itu memang telah membangkitkan Hassan Hanafi dalam meluncurkan “Proyek Kiri Islam”-nya. Namun, menganggap peristiwa itu sebagai satu-satunya penyebab, adalah tidak benar karena kita juga harus memperhitungkan faktor pergerakan Islam modern dan lingkungan Arab-Islam.[35] Demikian pula, kata Hassan Hanafi, Kiri Islam bukanlah Islam berbaju Marxisme karena itu berarti menafikan makna revolusioner dalam Islam sendiri.[36] Kiri Islam lahir dari kesadaran penuh atas posisi tertindas umat Islam, untuk kemudian melakukan rekonstruksi terhadap seluruh bangunan pemikiran Islam tradisional agar dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan. Upaya rekonstruksi ini adalah suatu keniscayaan karena bangunan pemikiran Islam tradisional yang sesungguhnya satu bentuk tafsir justru menjadi pembenaran atas kekuasaan yang menindas.[37]

Tokoh Islam lain yang senafas dengan Ali Syari’ati dan Hassan Hanafi adalah misalnya Ashar Ali Engineer. Asghar menyatakan bahwa kedatangan Islam merupakan sebuah revolusi yang selama berabad-abad telah berperan secara signifikan dalam sejarah umat manusia. Akan tetapi, begitu keterangan selanjutnya dari Asghar, setelah meninggalnya Nabi Muhammad, terjadi perebutan kekuasaan yang berorientasi kepada kepentingan pribadi.[38] Saat kekuasaan itu menjadi instrumen kepentingan pribadi, muncullah dalam wilayah kekuasaan Islam, penguasa-penguasa despotik seperti yang dipertontonkan secara nyata oleh Reza Syeh Pahlevi yang menjadi obyek kritik dan oposisi Ali Syari’ati atau para penguasa Mesir yang juga menjadi ladang kritisisme seorang anak bangsa seperti Hassan Hanafi yang dikenal sebagai pengusung al-yasar al-islami (kiri Islam). Watak perlawanan Islam terhadap kesewenang-wenangan sekaligus keberpihakan Islam terhadap kelompok tertindas (mustad’afîn)[39] telah menjadi watak dasar Islam sebagai agama rahmatan li al-’âlamîn. Maka akan banyak dijumpai dalam al-Qur’an, kitab pedoman umat Islam, pelbagai anjuran bahkan perintah tegas untuk melakukan pembelaan terhadap mustad’afîn.[40] Pembelaan terhadap mustad’afîn ini dilakukan secara simultan dengan larangan secara tegas pula atas segala bentuk ketidakadilan, baik kultural maupun struktural.[41]

Sebagaimana yang menjadi fokus kajian para pemikir Islam revolusioner, bahwa Islam tidak hanya sebatas agama yang melangit, hanya sekadar kumpulan doktrin, tetapi lebih dari itu, Islam adalah agama yang sarat dengan dimensi praksis. Istilah yang sering digunakan untuk ini adalah faith in actions, keyakinan yang diwujudkan dalam aksi-aksi nyata. Berangkat dari kerangka berfikir ini, para pemikir Islam revolusioner, termasuk di dalamnya Ali Syari’ati berupaya agar buah pikirannya dapat diserap sebanyak mungkin lapisan masyarakat untuk mempengaruhi pola pikir mereka. Setelah masyarakat mengalami revolusi pemikiran, maka harapan selanjutnya adalah mewujudkan sebuah gerakan sosial-politik yang radikal untuk merevolusi struktur sosial politik yang dominan.

BAB V
METODE PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu kajian terhadap pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan Revolusi serta pengaruhnya terhadap Revolusi Iran, maka penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), sehingga data-data sepenuhnya diambil dari buku-buku atau karya lain yang ditulis Ali Syari’ati, sebagai sumber primer. Diantara buku-buku dan tulisan tersebut adalah Buku-buku Ali Syari’ati dalam edisi Inggris diantaranya: Islamology; And Once again Abu Dhar; Fatima is Fatima; Man and Islam; Martyrdom; On The Sociology of Islam; Red shi’ism; Retlection of A Concerned Muslim on The Plight of Oppressed Peoples; The Visage of Mohammed; A waiting the Religion of Protest; What is to be done?; Jihad and Syahadat; Hajj; dan Where shall we begin?.

Untuk mendukung data primer penulis menggunakan buku-buku baik yang ditulis oleh tokoh yang sedang diteliti atau buku-buku yang ditulis oleh orang lain yang mengupas dan memberi komentar-komentar tentang pemikiran Ali Syari’ati sebagai data sekunder. Data sekunder juga diambil dari buku-buku, makalah-makalah, majalah, jurnal dan sebagainya yang berkaitan dengan fokus penelitian.

Dalam menganalisis data yang diperoleh, peneliti menggunakan metode kajian isi (content analisys) yaitu metode yang digunakan untuk mengungkapkan isi sebuah buku atau pemikiran seseorang yang menggambarkan situasi penulis dan masyarakatnya pada waktu buku itu ditulis atau pemikiran itu ditelorkan[42]. Melalui metode content analisys dapat diketahui ide-ide dan pemikiran Ali Syari’ati tentang Islam dan revolusi yang semuanya tertuang dalam buku-buku atau tulisan lainnya yang terdokumentasi. Dengan metode ini semua bentuk lambang yang terdokumentasi itu dapat dianalisis secara mendalam untuk mendapatkan konsepsi-konsepsi yang lebih baru.[43]

Untuk mengetahui latar belakang pemikiran tokoh yang diteliti, digunakan metode historis.[44] Melalui metode ini, peneliti dapat melakukan periodisasi atau derivasi suatu fakta, dan melakukan rekonstruksi genesis: perubahan dan perkembangan. Dengan demikian pemikiran Ali Syari’ati dapat dipahami secara kesejarahan, dalam arti dapat dilacak asal mula situasi yang melahirkan pemikiran Syari’ati, baik dari aspek internal berupa ide, keyakinan, konsepsi-konsepsi awal yang tertanam dalam dirinya, tetapi juga oleh keadaan eksternal.[45] Dalam melakukan telaah historis, peneliti mengambil lima langkah tahapan: 1) pemilihan topik; 2) pengumpulan sumber; 3) verifikasi (kritik sejarah); 4) interpretasi: analis dan sintesis; dan 5) penulisan.[46]

Karena yang dikaji dalam penelitian ini adalah pemikiran tokoh (Ali Syari’ati) dan pengaruh pemikiran tersebut pada sebuah peristiwa besar (Revolusi Iran), maka metode historis yang digunakan adakah history of thought (sejarah pemikiran). Tugas sejarah pemikiran, disamping menelaah pemikiran-pemikiran besar yang berpengaruh terhadap kejadian sejarah, juga melihat konteks sejarah tempat pemikiran itu muncul, tumbuh dan berkembang.[47]

Agar metode sejarah pemikiran dapat dioperasionalisasikan, digunakan tiga macam pendekatan, yaitu kajian teks, kajian konteks sejarah dan kajian hubungan antara teks dan konteks.[48] Kajian teks digunakan untuk melihat akar geneologis pemikiran Ali Syari’ati, konsistensi, evolusi, sistematika, varian, sosialisasi, dan internal dialectics pemikirannya. Kajian konteks digunakan untuk melihat konteks sejarah, politik, budaya dan sosial pemikiran Ali Syari’ati. Dan kajian hubungan antara teks dan konteks digunakan untuk melihat pengaruh pemikiran Ali Syari’ati terhadap Revolusi Iran.

Lihat lanjutannya disini:
http://londo43ver.wordpress.com/category/sejarah-dunia/page/3/
http://londo43ver.wordpress.com/category/sejarah-dunia/page/3/

Imam Khomaini
who changed the world




The role of DR Ali Shariati in the Iranian Revolution
https://www.youtube.com/watch?v=0evSkdzXF_4

https://www.youtube.com/watch?v=vbEqQ3oFGAo

https://www.youtube.com/watch?v=HMfRyXsi1FE

https://www.youtube.com/watch?v=KYHZIH7I0eQ
IMAM ALI ADALAH MODAL PERJUANGAN ISLAM

PERSEKONGKOLAN FIR'UN, KARUN DAN BAL'AMLAH YANG MEMBUAT SYIAH DAN SUNNI BENTROK.





 KEPEMIMPINAN YANG BENAR SEBAGAIMANA DI REPUBLIK ISLAM IRANLAH YANG DAPAT MEMPERSATUKAN BUKAN SAJA ANTAR SYIAH DAN SUNNAH TETAPI BAHKAN ANTAR ISLAM DAN KRISTIAN SERTA NON ISLAM LAINNYA
hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia 

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Menarik juga kita simak "Tantangan Pendekatan Mazhab dan Persatuan Islam" yang ditulis oleh Pena sehat Sekjen Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam, Hujjatul Islam Mir Aghaei.

Hujjatul Islam ini telah membahas panjang lebar, tantangan pendekatan Mazhab-mazhab Islam. Semoga berkenan menerima komen kita ini yang tidak bertujuan untuk mendiskreditkannya, melainkan bertujuan untuk menambah kuat persepsi kita dalam memahami kondisi Ummah dan Imamah di zaman kita yang terakhir ini, semoga Allah swt berkenan memunculkan Imam Akhir zaman di zaman kita ini, Muhammad al Mahdi al Muntazhar dan Nabi Isa bin Maryam as.

Pada prinsipnya saya setuju sebagaimana yang telah diurai jelaskan oleh Hujjatul Islam ini, namun izin kanlah saya menyampaikan sedikit tambahan, dimana barangkali bermanfaat buat kita sekalian.

Pertama sekali saat kita analisa lembaran-lembaran sejartah, baik sejarah perjuangan Rasulullah, Nabi Muhammad saww sendiri maupun sejarah perjuangan Imam-Imam yang ditunjukkan Allah dan Rasul Nya secara kwnatitas sangat minim tetapi sangat mengagumkan secara kwalitasnya. Banyak penulis se jarah berpendapat bahwa jaman kegemilangan Islam adalah jaman "Khalifaur Rasyidin", sebaliknyakita berkeyakinan bahwa Jaman kegemilangan itu adalah jaman Rasulullah sendiri dan jaman Imam Ali bin Abi Thalib, bukan jaman "khalifaurr Rasyidin". Keyakinan kita ini berdasarkan kwalitas bukan kwanti tas. Di jaman Nabi suci, Muhammad saww mendapat pengakuan Allah sendiri saat Nabi Suci mengangkat Imam Ali as sebagai Maulanya atau perpanjangan keimamahan Rasulullah sendiri agar manusia yang ingin mengikuti agama yang benar mengikuti Imam yang diumumkan Nabi sendiri di Ghadir khum.

Pengakuan Allah swt ini terbukti dengan turunya ayat terakhir: "حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أكل السبع إلا ما ذكيتم وما ذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلام ذلكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم واخشون اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا فمن اضطر في مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفور رحيم"

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kita tidak sedang membahas ayat terakhir ini disebabkan terlalu banyak pendapat yang kerap membuat kita confused. Yang hendak kita sampaikan hanya agama dibawah panduan Nabi terakhir dinyatakan Allah sempurna dengan pengumuman Imam Ali sebagai perpanjangan keimamahan Nabi suci. Kalau ada pihak yang tidak sependapat adalah wajar dan itu adalah hak mereka. Namun sangat disayangkan Imam Ali tidak diberikan kesempatan oleh mayoritas "kaum Muslimin" saat itu bersama pemimpin yang mereka percaya, kecuali setelah berakhirnya kepemimpinan Usman bin Affan.

Lalu kita bertanya-tanya dalam hati kalau Rasulullah sudah menetapkan penggantinya kenapa ada alternatif lain bagi kebanyakan "Ummah" kala itu? Bukankah "haq" hukumnya untuk tunduk patuh kepada Nabi yang semua kita tau bahwa apa saja yang ditentukan Nabi pasti berasal dari Allah?. Berdasarkan argumen ini berarti siapapun yang tidak mengikuti atau tidak tunduk patuh kepada Nabi sama dengan tidak tuduk patuh kepada Allah sendiri. Lalu kita bertanya-tanya kepada orang-orang yang mengaku tokoh Islam sekarang ini, apakah orang seperti itu masih dianggap sebagai orang beriman walaupun mereka sendiri mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad tetapi menolak ketetapan Nabi Suci? Di jaman kita ini persoalan yang begini dianggap mnyelimet, padahal sangat mudah dipahami asalkan kita tidak termasuk type orang fanatik buta. Namun demikian kalau ada pembaca yang belum mampu memahaminya silakan baca di http berikut ini:
http://achehkarbala.blogspot.no/2013/05/yang-benar-tetap-benar-walau-keluar.html
http://achehkarbala.blogspot.no/2013/05/yang-benar-tetap-benar-walau-keluar.html

Banyak tokoh kita takut membicarakan persoalan dialinia diatas dengan alasan akan menuai perpe cahan antara Syiah dan Sunni. Hemat saya tidaklah demikian. Sunni memang berbeda dengan Syiah Imamiah 12 (maaf saya tidak bermaksud Syiah lainnya yang non Imamiah 12. Malah di Syiah Ima miah 12 juga tidak kita ikutkan syiah yang sudah dekaden). Perlu digaris bawahi bahwa perbedaan antara Islam dengan Kristian lebih besar lagi tetapi kenapa antara Orang Islam dan orang Kristian dapat bersatu di Republik Islam Iran dan di Libanon? Pertanyaan saya ini sangat mudah dipahami, tidak mnyelimet. Perpecahan antar mazhab Islam bukan disebabkan kita tidak menyembunyikan kom ponen-komponen yang berbeda di kalangan mazhab Islam tetapi pemimpin yang tidak layak disebut pemimpin tetapi lebih tepat kita katakan "penguasa". Penguasa hanya ingin menguasai rakyatnya bukan mempersatukannya.

Yang namanya pemimpin memang tugas utamanya memimpin rakyatnya kearah persatuan melalui ditegakkannya "Keadilan". Bukan saja keadilan ekonomi tetapi juga keadilan sosial dan politik. Demi kianlah mayoritas pemimpin di Republik Islam Iran sekarang ini di bawah kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad dan Sayed Ali Khamenei atau Rahbar. Di Republik Islam Iran bukan saja sama kepedulian pemimpin terhadap komunitas Islam Sunni tetapi juga sama kepeduliannya terhadap komu nitas Kristian dan non Islam lainnya. Lalu kita pertanyakan sekali lagi apakah yang membuat Syiah dan Sunni bentrok di Saudi Arabya dulu? Jawabannya adalah ulah penguasa yang hypocrite. Alhamdulillah Syiah dan Sunni yang sadar sekarang di Saudi Arabya bersatu melawan kesewenang-wenangan rezim despotik, bukan? Siapakah yang membuat syiah dan Sunni bentrok sejak dulu sampai kini di Indonesia? Jawabannya penguasa. Siapakah yang membuat Syiah dan Sunni bentrok di Mesir, Libya dan Irak dulu? Jawabannya pasti penguasa. Penguasa berdaya upaya untuk mengu asai rakyatnya agar kekuasaan mereka tetap langgeng. Salah satu fenomena yang fital adalah menciptakan perpecahan antar rakyat yang berbeda mazhab dan agama agar tidak bersatu, kendatipun di mulut penguasa senantiasa digembar-gemburkan persatuan. Itu adalah "hikayat Musang" yang hanya mampu mengelabui jenis orang "Pak turut" tetapi tidak berdaya kepada rakyat yang sudah sadar. Penguasa despotik berkuasa dengan keutuhan 3 entas (baca trinitas), Entas "Fir'un" (presiden atau raja dengan segenap jenjangannya), entas "Karun" (bendaharawan Negara) dan entas "Bal'am" (Menteri agama beserta jenjangnnya sampai ke Kabupaten - kabupaten dan lembaga  "Ulama"). Ini memang termasuk persoalan yang mnyelemet. Untuk ini silakan analisa di http berikut ini:

http://achehkarbala.blogspot.com/2009/06/esensi-haji-3.html
http://ismail-asso.blogspot.com/2009/06/esensi-haji-3.html
http://suaramuslimpapua.blogspot.com/2011/04/esensi-haji-3.html

Selanjutnya mari kita analisa satu saja diantara point-poin yang dipaparkan hujjatul Islam kita, yaitu

6. Kebijakan imperialisme dan arogansi
Apa yang diurai jelaskan ini benar adanya tetapi perlu kita pertanyakan, mana yang lebih produktif buat komunitas kita, menyalahkan musuh atau kelemahan kita sendiri. Hemat saya apabila kita fokuskan pada kesalahan musuh, yang namanya musuh memang wajar hendak melemahkan komunitas kita. Itu memang tugas mereka sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman. Bagi orang yang benar imannya keberadaan musuh sama dengan keberadaan Syaitan. Secara syar'i memang tidak mampu kita terima tetapi secara filosofis dan ideologis wujud Syaithan dan musuh adalah "haq" sebagai ujian Allah buat manusia. Andaikata kita fokuskan pada kesalahan musuh sama dengan kita bertanya pada Allah swt: "Ya Allah kenapa Engkau jadikan Syaithan hingga mereka telah menipu hambamu yang baik" Padahal yang namanya hamba Allah yang baik mustahil dapat ditipu Syaithan. Atau seperti orang alergi melihat kerumunan ulat lalu berkata: Ya Allah, kenapa Engkau jadikan Ulat yang membuat hati kami ngeri saat melihatnya. Padahal secara filosofis tanpa dijadikan ulat, Dunia ini akan penuh dengan bangkai-bangkai. Kalau kita sudah sampai klimaksnya berpikir baru kita sadari bahwa semua makhluk yang dijadikan Allah, tidak ada satupun yang sia-sia. Sebaliknya sampai Syaithanpun atau jin bermanfaat bagi manusia. Maaf bukan secara syar'i tetapi melalui kacamata Filosofis dan ideologis. Andaikata Allah tidak menjadikan Jin, sampai hari ini hanya Nabi Adam dan Hawa saja berdua menikmati fasilitas yang surgawi di dalam Surga. Logikanya Allah membuat sesuatu via hubungan sebab akibat. Turunya Hujan memang urusan Malaikat sebagai aparat Allah. Tetapi tidaklah hujan itu dituangkan begitu saja kepermukaan Bumi melainkan melalui proses deltilasi, dipanaskan air laut oleh matahari, lalu membubung naik ke angkasa, menjadi awan, dihembus angin ke gunung. Makanya hujan lebat banyak pegunungan:
 http://achehkarbala.blogspot.no/2009/06/puisi-filosofis.tml

Demikian juga proses Nabi Adam dan Hawa sebelum diangkat Allah sebagai wakilNya di Bumi. Silakan telusuri di http ini: http://achehkarbala.blogspot.com/2009/06/puisi-filosofis.html. Ada suatu hal yang kita lupa bahwa Allah sendiri telah memberitahukan manusia bahwa akan mengembalikan Imam Muhammad al Mahdi al Muntazhar di akhir kehidupan Dunia ini, dimana sebelumnya Dunia dipenuhi dengan kezaliman (baca betapa sering yang "haq" dikalahkan oleh yang "bathil" disebabkan banyaknya "manusia" yang bathil hingga membuat orang yang lemah iman terpedaya dengannya). namun saat Imam Mahdi dimunculkan kembali Dunia menjadi aman dan penuh keadilan dibawah pimpinan sang Imam. Dari itu kalau kawasan di Timur Tengah dikuasai oleh rezim-rezim despotik dalam kurun waktu yang demikian lama tidaklah menjadi hal yang aneh bagi kita hingga menyalahkan pihak Barat yang mesupport rezim-rezim despotik hampir seluruh Dunia. Dengan kesadaran rakyat di Timur tengah bersatu bukan saja antar Syiah dan Sunni tetapi juga antar Islam dan Kristian sampai ke Amerika dan Eropa. Semoga Allah memunculkan Imam zaman di akhir tahun 2012 ini, yang sekarang sedang dalam keadaan "Ghaib Kubra". AAmin ya Rabbal aa'lamin.

Baarakallah li walakum
(angku di Awegeutah),
Acheh – Sumatra




Sabtu, 16 Februari 2019

DALAM RENTANGAN SEJARAH YANG BENAR KITA MENEMUKAN FENOMENA - FENOMENA YANG HAQ UNTUK KITA IKUTI







KATAKANLAH WAHAI MUHAMMAD AKU TIDAK MINTA BALASAN APAPUN
ATAS RISALAH YANG AKU SAMPAIKAN PADA KALIAN
KECUALI KECINTAAN KALIAN
TERHADAP KELUARGAKU
hsndwsp
Acheh - Sumatra
di
Ujung Dunia


 WAHAI RASULULLAH! SIAPAKAH KELUARGA ANDA YANG WAJIB KAMI CINTAI?
RASULULLAH MENJAWAB: MEREKA ITU ADALAH ALI, FATIMAH DAN KEDUA PUTRANYA
(DIULANG SAMPAI 3X)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Titel Imam khusus dalam Islam lebih tinggi daripada titel Nabi umum. Harap digaris bawahi titel Nabi umum. bukan Nabi khusus. Nabi itu sama kemuliaannya dalam pandangan orang mukmin tapi berbeda dalam kapasitasnya. Nabi yang memandu ribuan ummah tentu berbeda dengan Nabi yang memandu ratusan jutaan ummah, apa lagi Nabi yang memandu ummah seluruh Dunia seperti Nabi Muhammad saww. Orang macam Razalipaya pastinya akan bertambah bengong atau confuse ketika membaca keterangan alasytar ini. Dari itu, pertama sekali tariklah kembali pernyataan anda bahwa Qur-an itu bukan pedoman Hidup tapi hukum-hakam. Apabila pernyataan anda itu tidak anda tarik, secara filosofis anda terkeluar dari agama Islam. Jadi buat apa anda macam bercanda dengan alasytar, sementara nasib anda kelak akan terkena timplakan Allah dengan ayat-ayat dalam surah Yasin sendiri, dimana anda dulu pernah mengkordinirnya sebagai alat bacaan hukum-hakam anda bukan sebagai Hudallinnas, petunjuk bagi manusia.

Anda sepertinya seorang pak camat yang mendapat kiriman surat dari atasannya, pak Gubernur. Saat pak Gubernur menanyakan anda (baca Razalipaya) apakah sudah menerima surat saya. Razalipaya menjawabnya: "Ya, Pak! Surat bapak saya baca tiap malam Jum'at kliwon, saya taruk wewangian, saya cium setiap membacanya". "Bagus sekali" kata sang Gubernur. "Tapi itu tanah yang saya suruh cari untuk membangun sebuah balai PKK, mana?", timpa sang Gubernur. Ooo, itu yang belum ada, pak", jawab Lipaya. Lalu gubernur itu memecat Lipaya disebabkan pesan yang ada di surat tersebut tidak dipahaminya, kecuali asik membaca-baca saja.

Nabi Ibrahim disamping mendapat titel Nabi dari Allah juga mendapat titel Imam, demikian juga nabi Muhammad. Hal ini tidak dapat dipahami oleh para ilmuwan yang  bersatupadu dala system Taghut Dhalim, Hipokrit dan korrupt, kecuali para Ideolog. Kenabian Muhammad berakhir setelah meninggalnya beliau tetapi keimamahannya belum berakhir,  diteruskan oleh 12 orang Imam, dimulai dengan Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi. Para Imam ini diangkat Allah melalui pengumuman Rasulnya Muhammad saww di Ghadirkhum.

Mereka yang berjumlah 12 orang itu merupakan sebagai hujjah Allah di kolong langit. Andaikata Allah tidak mengutus mereka untuk melanjutkan keimamahan RasulNya, Muhammad Rasulullah, Islam murni itu tidak tersisa lagi, sebagaimana nasib ummah nabi Musa dan ummah nabi 'Isa bin Maryam. Realitanya ummah Nabi Musa dan Harun berpatah balik ketika Musa pergi kesuatu tempat atas perintah Allah. Sepertinya tidak mungkin, bagaimana ummah yang telah diselamatkan dari sepakterjang Fir'un, Karun, Hamman dan Bal'am itu dengan mudahnya terpengaruh kepada si Samiri, meninggalkan Nabi Harun, wakil Musa as. Kalau fenomena ini mampu kita analisa kita juga tidak sebengong Razalipaya ketika membaca tulisan alasytar tentang berpatah baliknya ummah Muhammad, tidak mengikuti Imam yang di tunjuk Allah dan Rasulnya (baca Imam Ali serta 11 Imam lanjutannya) setelah peresmiannya Imam Ali di Ghadirkhum.

Sehubungan dengan pengangkatan Imam Ali as di Ghadirkhum, semua para jamaah yang barusaja menyelesaikan Haji Wada', berbaiat kepada Imam 'Ali, kecuali Umar bin Kattab, dimana bukan hanya menjabat tangan Imam Ali tapi juga berkata: "Tahniah ya Abbal Hasan, anda sudah menjadi Imam kaum Muslimin dan Muslimah. Ironisnya setelah itu membuat rapat gelap dibelakang Ka'bah bersama Abubakar, Usman dan kawan setia lainnya. Perjanjian apa yang mereka buat dibelakang Ka'bah? Menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai Khalifah yang sah. Inilah sebabnya mereka yang sering menentang Rasulullah itu berakibat sangat fatal ketika sakratul maut (baca kitab Sulaim bin Qais Al Hilaly atau kitab Akhirnya Kutemukan Kebenaran)

Orang macam Razalipaya itu sebaiknya hati-hati dalam menganggapi tulisan orang yang tidak dia ketahui kecuali fanatikbuta, mengikuti, endatunya yang sesat sebagaimana firman Allah berikut ini: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Q.S, al Baqarah. 2 : 170)

Allah juga berfirman: "Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Q.S, al Maidah. 5 : 104)

Selanjutny baca juga firman Allah yang diulang sampai 3 kali: "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"(QS, al Qatar (54) : 17, 22, 32, 40)

Yang dimaksudkan kedudukan Imam lebih tinggi daripada nabi yang diutus disini adalah nabi yang umum. Hal itu sesuai dengan Al Qur-an yang menyebutkan kisah hidup Nabi Ibrahim bahwa setelah diberikan percobaan dengan nyawa, harta dan anak, Allah bermaksud untuk meninggikan lagi kedudukannya. Disebabkan Nabi dan panggilan Khalil tidak menggambarkan kedudukan yang lebih tinggi, maka kedudukan Imamlah yang lebih tinggi dimana nabi Muhammad juga dianugerahkan dengannya.

Allah berfirman: „Dan apabila Tuhannya mencoba Ibrahim dengan perkataan tertentu, dia dapat melaksanakannya, Dia berfirman: `Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu Imam atas manusia`. Ibrahim berkata:`Dan keturunanku juga?. Janji Ku tidak termasuk mareka yang dhalim“ (Q.S 12: 124) Ayat ini menunjukkan kedudukan Imam, dan juga membuktikan bahwa derajat Imami lebih tinggi dari derajat Nabi, sebab kedudukan Nabi Ibrahim telah dinaikkan dari Nabi kepada Imam. Perlu diketahui bahwa nabi Khusus lebih tinggi derajatnya daripada nabi Umum. Nabi Muhammad adalah Nabi Khusus yang tertinggi diantara nabi-nabi Khusus lainnya.

Para Malaikat jangankan dibanding dengan para Imam, dengan nabi Umum saja lebih rendah kedudukannya. Kita yang masih lemah kemampuan berfikir memang agak tercengang ketika ada orang yang mengatakan bahwa para Malaikat lebih rendah dari Manusia Representant (baca Imam), sebagaimana pernah diungkapkan Imam Khomaini. Kemungkinan besar hal ini disebabkan mereka memfokuskan pada bahan baku yang digunakan untuk membuat para Malaikat dari Sinar sementara Manusia termasuk Nabi umum, Imam dan Nabi Khusus berasal dari tanah yang hina dipijak manusia setiap hari. Mereka lupa kalau Spirit Allah yang dikombinasikan dengan tanah tadi membuat setengah manusia (baca Nabi umum, Imam dan Nabi Khusus) lebih unggul daripada para Malaikat. Hal ini dapat kita lihat dalam Al Qur-an ketika Allah memberitahukan para Malaikat bahwa Dia hendak menjadikan seorang Khalifah (baca wakil Tuhan, nabi Umum), para Malaikat menanyakan kenapa Allah menjadikan manusia yang nantinya akan mengadakan kerusakan dan pertumbuhan darah. Sepertinya para Malaikat mengatakan kenapa tidak mereka, yang akan menjadi khalifah Nya yang senantiasa bertasbih dan memujinya. Ternyata Allah menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui para Malaikat. Lalu Allah membuktikan pernyataan Nya itu. Ketika para Malaikat bernegosiasi dengan Nabi Adam ternyata Adam lebih unggul daripada Para Malaikat.

Namun patut kita salut kepada para Malaikat bahwa ketika terbukti mereka kalah dalam negosiasinya, langsung mengakui nya dengan mengucapkan: „Maha suci Engkau ya Allah kami tidak mengetahui kecuali yang telah Engkau ajarkan“. Sementara manusia kebanyakan tetap membeladiri secara membabibuta. Setelah terbukti keunggulan nabi Adam dalam negosiasinya, Allah memerintahkan kepada seluruh Malaikat yang dibuat dari Sinar dan dari Api agar sujud kepada Adam. Ketika itu seluruh Malaikat yang dijadikan dari Sinar tundukpatuh kepada perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam kecuali „Malaikat“ yang dijadikan dari Api (Iblis). Mereka berdalih bahwa mereka lebih duluan lahir daripada Adam, mereka lebih mulia daripada Adam yang berasal dari tanah tembikar. Mereka sesungguhnya takabbur, angkuh dan sombong sebagaimana sifat-sifat tersebut dapat dilihat pada kebanyakan manusia yang menukik ketanah, tidak mampu menggapai Spirit Allah, Roh Suci (Q.S. 2 : 30 S/D 34)

Golongan Zaidiyyah, Kaisaniah, Qaddahiyyah, Ghulat dan masih banyak lagi, sesungguhnya bukan Syiah Alawi atau Islam mazhab Jakfari tapi disebut Syi’ah oleh orang-orang yang memusuhi Syi’ah. Hal ini memang seringkali fitnah itu dialamat kan kepada Syi’ah Imamiah 12 ( Mulai dari Imam Ali Bin Abu Thalib s/d Imam Mahdi)

Selanjutnya perhatikanlah apa yang ditulis Razalipaya berikut ini:
"Saidina Ali ra, mempunyai kekayaan satu baju dibadan dan satu baju dijemuran, yang masih kalah bersaingan dengan Abu Zar al Ghifari, yang kekayaannya: Satu baju dibadan sekaligus sebagai kafannya".(Razalipaya, Sun, October 11, 2009 10:07:34 PM)

Secara tidak sadar disini Razalipaya telah menganggap bahwa Imam Ali, penerus keimamahan Rasulullah agar manusia tidak sesat kecuali yang tidak mengikutinya, lebih rendah daripada Abu Dzar Ghifari, salah seorang pengikut setia Imam Ali sendiri bersama Salman al Faraisi dan al Miqdad. Dengan mengikuti Imam Ali as, mereka bertiga ini meraih keimanan tertinggi setelah para Ahlulbayt Rasulullah serta 11 Imam lanjutannya. Disini Razalipaya terdeteksi bahwa dia itu tidak memahami kalau Abu Dzar Ghifari itu sendiri adalah pengikut setia sang Imam.

Ketika Razalipaya sepertinya dengan bangga menyatakan Abu Dzar Ghifari hanya memiliki satu baju dibadan, dia tidak mengetahui sama-sekali ketika berhadapan dengan fenomena tersebut. Benar Abu Dzar Ghifari hanya memiliki satu baju dibadan tapi tahukah dia siapa yang membuat Abu Dzar Ghifari dalam kondisi yang demikian menderita serta mati kelaparan di Rawadhah? Jawabannya pasti tidak. Dia hanya sekedar ikut-ikutan saja mendengar kisah Abu Dzar memiliki hanya satu baju di badannya, sepertinya hendak mengelabui kita bahwa Abu Dzar lebih baik daripada Imam Ali as.

Fenomena ini mengundang seseorang untuk merenungkan tulisan-tulisan yang pernah alasytar tulis baik di milis-milis ini ataupun di: http://achehkarbala.blogspot.com/,  dan http://ismail-asso.blogspot.com/, kenapa?

Pertama Razalipaya menganjurkan alasytar agar tidak menulis tentang Papua dengan alasan saya tidak tau apapun yang dibuat orang Papua. Dengan membuka blog saudara Ismail Asso dan Muslim Papua, baru Razalipaya sadar kalau alasytar punya hubungan yang baik dengan Papua. Kedua Razalipaya meminta saya juga agar tidak mencerca Saidina Abu Bakar, dengan dalih bapak mertua Nabi Muhammad saww, Saidina Umar bi Khatab dan Saidina Usman bin Affan, anak menantu Nabi. Dia tidak sadar kalau Abu Lahab secara darah juga pamannya, namun secara iman dan ideology adalah musuhnya.

Andaikata Razalipaya punya ilmu tentang sejarah Islam yang sesungguhnya, pasti dia tidak menganjurkan alasytar untuk tidak mencaci Usman bin Affan, kenapa? Justru Usman bin Affanlah yang mendhalimi Abu Dzar Ghifari. Makanya tidak wajarkah kita orang yang benar imannya mengutuk orang yang mendhalimi sahabat setia Rasulullah, Abu Dzar Ghifari? Secara filosofis, membela Usman sama dengan mehina Abu Dzar Ghifari. Mampukah anda menganalisa kalimat alasytar ini Razali? Bukankah sepakterjang sebagian orang Acheh - Sumatra, berpelukan dengan tentara dan polisi Hindunesia samadengan telah menghina para pejuang Acheh - Sumatra, West Papua dan Ambon yang telah syahid? Tidak jelaskah kalimat alasytar tersebut?

Lalu mengenai Abubakar dan Umar? Masih perlukah kita jeklaskan lagi sepakterjangnya? Andaikata mereka tidak menjauhkan Imam Ali untuk memimpin ummah sebagai penerus keimamahan Rasulullah sendiri, Muawiyah dan politikus jahatnya, Amru bin Ask tidak akan ada kesempatan untuk berkuasa atas ummah Muhammad saww. Apabila Muawiyah tidak punya kesempatan untuk berkuasa Hadist Nabi tidak akan kita saksikan pemalsuannya kecuali yang benar-benar berasal daripadanya. Apabila Muawiyah tidak punya kesempatan untuk menguasai Ummah Muhammad saww, Islam tak akan menerima pukulan telak di Karbala dan Imam Mahdipun tidak perlu mengalami ghaib syughra dan kubra.

Disini alasytar hendak menjelaskan bahwa itu semua terjadi akibat sepakterjang dari konspirasi jahat mereka, yang dimulainya dengan rapat gelap dibelakang Ka'bah setelah Rasulullah mengumumkan penerus keimamahannya di Ghadirkhum.

Kita tutup tulisan ini dengan ucapan Imam Ali as: "Bukankah Allah tidak pernah membiarkan hamba-hambanya terlepas dari hujjah-Nya? dan siapa lagi selain Ahlul Bayt yang berasal dari ranting-ranting pohon Rasulullah yang diberkati, kelanjutan kelompok pilihan Allah yang telah dijauhkan dari segala kotoran dan telah disucikan-Nya dengan sesuci-sucinya? (QS. 33 : 3), dijauhkannya mereka dari segala penyakit kekufuran, dan diwajibkannya atas setiap Muk'min agar mencintai mereka sebagaimana firmanNya dalam Qur-an: "Katakanlah Wahai Muhammad, aku tidak minta balasan apapun atas risalah yang aku sampaikan pada kalian kecuali kecintaan kalian terhadap keluargaku" (Q.S, as Syura : 23)

Ketika ayat tersebut diatas turun para sahabat bertanya pada Rasulullah saww : "Wahai Rasulullah, siapakah keluarga anda? Siapakah mereka yang wajib dicintai oleh kami?" Rasulullah menjawab: "Mereka adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya". Nabi mengulangi jawaban beliau sampai tiga kali.

Billahi fi sabililhaq
hsndwsp
di Ujung Dunia